13. Warung di Sudut Kota

196 16 0
                                        

Berawal dari laporan Mak Ani yang panik karena Bagas pulang dalam keadaan pucat pasi, Sandra segera membereskan barangnya dan memesan taksi online melalui aplikasi di ponsel. Ia berdiri menggigit bibir menunggu kendaraan dengan plat tertera di ponselnya itu untuk tiba. Merasakan perasaan bersalah yang menggerogoti hatinya, mungkin Bagas sakit setelah terkena hujan semalam. Ditambah fakta bahwa pria itu memiliki ketahanan tubuh yang mudah runtuh, Sandra semakin merasa bersalah.

Dan di sinilah Sandra.

Sudah berapa lama dirinya terdiam dalam posisi seperti ini. Kepala Bagas yang berbaring nyaman di pahanya, meminta sebuah sapuan lembut di dahi. Lalu selimut tebal yang ia bawa dari kamar lantaran tak kuat menahan hawa malam yang terasa dingin.

Sembari memberi elusan lembut di kepala sang suami, matanya menatap kosong ke depan. Ke arah mangkuk kosong dan sebotol besar air mineral yang isinya sisa setengah, pun kotak kecil berisi obat-obatan rumahan yang bisa dibeli di konter apotek. "Mas...pindah kamar yuk? Jangan tidur di depan tv."

Memilih untuk semakin melipat tubuhnya, Bagas bergumam pelan. "Nanti ya Dek. Mas masih mau lama-lama sama kamu."

Sandra tau bahwa secara tersirat Bagas memberikan kode untuk mengajaknya tidur bersama malam ini.

"Enak langsung tidur di kamar loh Mas...nanti nggak perlu pindah-pindah lagi." Ia masih mencoba untuk membujuk suaminya yang berubah manja secara drastis malam ini. Di mana sosok Bagas si suami independennya itu?

"Kamu pasti capek ya Dek? Maaf ya, Mas banyak mau." Lirihnya pelan namun tetap enggan berpisah dengan Sandra. Malah kini semakin merapatkan tubuhnya dengan sang istri.

"Nggak, Mas. Aku nggak enak, Mas Bagas sakit karena kena hujan kemarin. Harusnya aku pulang sore aja, tapi ngeyel minta dijemput malam."

"Hei, Mas nggak marah atau yang gimana-gimana. Mas paham kalau Sandra suka di kafe, baking, ketemu pelanggan. Itu dunia Sandra. Mas nggak akan marah kalau kamu mau lama-lama di sana." Ia meraih tangan Sandra yang berada di dahinya untuk dikecup. Teringat semalam melihat senyum penuh binar di mata istrinya kala berinteraksi dengan pelanggan. Hatinya menghangat. "Mas sanggup kamu suruh jemput setiap malam. Yang penting kamu bahagia dengan duniamu."

"Tapi...Mas sakit karena aku." Balasnya.

Bagas kini membuka matanya perlahan. Tersenyum kecil dengan bibir pucatnya dan kembali memberikan kecupan pada punggung tangan Sandra. "Namanya sakit juga nggak ada yang tau Dek. Jangan nyalahin dirimu, nggak ada hubungannya. Ini juga faktornya gara-gara Mas mudah sakit."

Wanita itu hanya mengangguk pelan dan membalas senyum seadanya.

"Kamu sudah ngantuk Dek?"

Sandra menggeleng kecil.

"Temenin Mas sebentar lagi ya?"

"Iya, Mas."

Pria itu kembali memejamkan matanya, membiarkan Sandra melamun—menatap kosong ke arah televisi yang tengah menampilkan tayangan yang sama sekali tidak Sandra nikmati. Daripada menonton, pikiran Sandra kini melayang memikirkan apa yang terjadi kemarin malam.

Ada yang mengganjal di hati kala memikirkan pertistiwa semalam.

Ada rasa bergemuruh menyelimuti hatinya di sana. Seakan-akan secara otomatis otaknya merubah pertemuannya dengan pria itu menjadi sebuah adegan menyayat hati yang begitu melankolis.

Ada setitik rasa tidak rela di dalam dirinya. Bertemu dengan sosok itu kala tengah bersama pria yang menyandang status sebagai suaminya benar-benar membuat Sandra tidak nyaman. Sebesit pemikiran membuatnya merasa seperti tengah ketahuan berselingkuh, namun nyatanya tidak begitu. Ada keinginan untuk menjelaskan namun akal sehatnya mengatakan, 'untuk apa?'.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang