Sandra hanya menatap kosong ke arah dinding bercat putih itu ketika Bagas kembali dari kamar mandi setelah membersihkan baik dirinya maupun pria itu sendiri.
"Mas kira kamu sudah tidur, San." Ucap pria itu yang kini berjalan ke arah ranjang dan mulai membaringkan dirinya di sana. Ikut memasukkan diri ke dalam hangatnya selimut tebal tersebut.
"Belum ngantuk, Mas."
Bagas memutar tubuh menghadap punggung istrinya. Punggung yang terasa begitu berjarak, ibarat dari ujung ke ujung ranjang. Maka ditatapnya tubuh itu dengan pandangan sendu.
Sekelebat memori yang menyentil hati kembali terputar di otaknya.
"Sandra...Ya Tuhan. Aku cinta kamu, San." Bagas mendesah pelan di telinga Sandra sebelum bergerak mencium bibir ranum tersebut. Saling berbagi napas panas yang semakin membakar nafsu. Lalu puncak itu datang mengantarkan mereka ke titik kenikmatan tiada tara. Bagas bahkan sampai berjengit karena Sandra tanpa sadar menggigit bibir bawahnya. Tangan kirinya yang saling menggenggam pun juga ikut saling meremas di atas ranjang.
Tautan bibir itu mulai terlepas. Saling menghembuskan deru napas yang tidak beraturan. Dahi keduanya menempel satu sama lain.
Kedua tangan besarnya menangkup pipi Sandra lalu ia bergerak mengecup kening sang istri lembut. "Makasih ya Sandra." Setelah itu, kepalanya menjauh kemudian menatap lurus netra hitam istrinya, menyalurkan perasaan bahagianya. Namun bukan tatapan yang sama yang Bagas dapatkan, senyumnya luntur perlahan.
Perasaannya hancur kala mengingat momen yang bahkan belum berlalu sejak satu jam lalu. Tatapan itu...sungguh menyakiti hatinya. Pandangan kosong di netra jernih sang istri, seakan-akan menggambarkan bahwa Sandra sangat tidak menginginkan malam mereka.
Pandangan kosong itu sanggup membuat Bagas berpikir ribuan kali. Apakah ada yang salah dari dirinya? Sandra terlihat tidak hidup ketika bersamanya. Sandra, istrinya itu, tidak lagi menjadi sosok yang ia kenal sembilan tahun terakhir. Sandra, istrinya, berubah menjadi sosok asing yang membuat Bagas bingung. Apakah ini sebuah kesalahan besar?
"Mas, makasih."
"Hm?" Raut sendu di wajahnya berganti dengan kebingungan atas kalimat Sandra yang tiba-tiba. "Makasih kenapa, San?"
Wanita itu berbaring terlentang menghadap langit kamar. Sebab merasa Bagas yang hanya diam, Sandra berpikir bahwa pria itu telah tertidur. Namun dari napas berat yang dihembuskan Bagas, asumsinya itu lantas hilang begitu saja. Maka ia berinisiatif membuka obrolan—yang mana ini adalah pertama kalinya dari sekian banyak interaksi yang mereka lakukan. Mencoba mencairkan suasana yang sedikit tegang. Bagas tidak sependiam ini jika tengah bersamanya—mungkin hal inilah yang membuat Sandra sedikit merasakan perbedaan. Apa ada yang salah?
"Makasih buat malam ini, Mas." Ia menyunggingkan senyum tipis, lalu beralih menatap wajah Bagas yang berbaring miring menghadapnya.
Jemari kurus pria itu terulur mendekati wajahnya, lalu membelai pipinya lembut. "Did I hurt you?"
"You did me gently, Mas."
"Syukur kalau gitu." Jarinya menyelipkan rambut Sandra ke belakang telinga. "Kamu nggak apa-apa?"
Sedang yang ditanya mengernyitkan alis tidak paham. "Aku kenapa memangnya Mas Bagas?"
Pemuda itu berdeham ragu untuk mengatakan hal yang membebani hatinya. "You seem...distracted?" Rujuknya pada pandangan kosong yang Sandra tunjukkan—yang mana Bagas kurang yakin bahwa Sandra akan sadar maksud kalimatnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomantiekTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
