29. Masa-Masa Bulan Madu

110 11 0
                                        

"You have to wedge them. Untuk menghilangkan gelembung udara di dalam clay." Ella melumat clay tersebut dengan kedua tangan di atas meja kerja mereka.

Sandra yang sebelumnya telah memotong dan menimbang clay sebesar 200 gram itu mengikuti langkah yang diajarkan Ella di depan sana. Sesekali ia membanting tanah liat tersebut dan menguleninya bak adonan kue.

"Is that what you get for baking in years?" Singgung Aare sembari terkekeh ringan melihat keuletan tangan Sandra dalam melumat clay dengan kedua tangannya. "You look good with that."

"I guess so." Balasnya tak yakin. "It's fun."

"Hum." Aare mengangguk membalas walaupun ia memaknai kata menyenangkan dalam hal lain—seperti menghabiskan waktu bersama mungkin. "Kamu bawa bekal apa hari ini?" Ia melanjutkan topik pembicaraan sembari menguleni tanah liatnya di meja.

"Omelette and veggies. What's yours?"

"Nanti kamu lihat sendiri. Kita kaya anak kecil, by the way. Mana ngobrolin tentang bekal lagi."

"Kan kamu yang ngajak bahas duluan, Re. Aku cuma jawab." Balas Sandra tak mau kalah.

"Kalau kalian sudah merasa cukup, clay yang sudah diuleni sedemikian rupa tadi bisa kita letakkan di tengah wheel and do wheel throwing. Let's try!" Ella meletakkan tanah liatnya ke atas wheel lalu ia menuangkan sedikit air ke atasnya. Bagai cokelat yang melunak, tanah liat tersebut terlihat meleleh—sangat mudah dibentuk.

Sandra kembali meniru apa yang dicontohkan oleh pengajar mereka di ujung sana. Roda mulai berputar ketika mesin dinyalakan dan Sandra mulai melumat tanah liat tersebut membentuk sesuatu yang abstrak. Tanah liat yang semula berbentuk gumpalan kini tampak meninggi seiring dengan jarak antar kedua tangan Sandra yang memendek. Kemudian ibu jarinya menekan puncak tanah liat tersebut dan gumpalan tersebut kembali memendek dan menggemuk. Ia lakukan berkali-kali lantaran menemukan kesenangan tersendiri. Bagaimana clay tersebut terasa basah dan lembut di tangan, rasanya menyenangkan untuk dilumat secara terus-menerus. Ia merasa seperti anak kecil yang tengah berlatih kegiatan saraf motorik halus.

Sandra akhirnya membuat cekungan dengan kedua jarinya, mencubit lembut pinggiran tanah liat tersebut dan perlahan menariknya ke atas—mulai terlihat bentukan gelas lantaran clay yang ditarik meninggi.

Senyumnya mengembang tanpa sadar kala teringat bahwa gelas yang tengah ia buat hendak ia berikan kepada Bagas. Membayangkan wajah penuh apresiasi pria itu ternyata mampu menghiburnya. Reaksi Bagas yang berlebihan itu pasti sudah dapat Sandra prediksi.

"Mikirin apa kamu?"

Oh, Sandra tersadar. Ia menggeleng sembari tertawa geli dengan sikapnya sendiri. "Gimana kalau mug buatanku jelek banget? Saking jeleknya sampai gak bisa berfungsi dengan baik."

"Nonsense." Pria itu tergelak mendengar kekhawatiran Sandra yang tak berdasar. "Ella won't let that happen. I won't let that happen. I'll give you a hand, San."

Mata Sandra lantas menatap kelihaian tangan sang pria dalam membentuk tanah liat tersebut. Bagaimana bentuknya sudah mulai terlihat rapi, bahkan pria itu begitu piawai menggunakan wooden rib untuk mempertegas bentuk serta merapikan cangkirnya. Sandra merasa tertinggal jauh.

"Wow, kamu hebat banget, Re." Pujinya kagum. Membuat yang dipuji semakin memamerkan kemampuannya. Diliriknya gelas Sandra yang masih jauh dari kata rapi: permukaannya tidak rata—ada yang terlalu menonjol ke luar dan ada yang cekung ke dalam; pinggiran gelas tidak sama tinggi.

Proses throwing gelas milik Aare telah selesai. Bahkan mesin wheel telah berhenti, namun Sandra masih kesulitan dalam menggunakan wooden rib untuk menyamaratakan permukaan gelasnya yang bergelombang.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang