9. Mencoba Peduli

207 15 1
                                        

"Mas...anterin pipis."

Suara serak nan cempreng itu dapat Sandra dengar dari kamar Bagas di tengah heningnya malam. Dirinya yang sibuk menyelimuti kedua sepupu Bagas yang lain pun tersenyum. Hangat menyelimuti hati melihat Bagas dengan telaten mengurus ketiga anak kecil tersebut. Tidak seperti dirinya yang setengah terpaksa lantaran belum terbiasa.

"Abdi sudah sikat gigi belum?" Langkah kaki mereka yang mengarah menuju kamar mandi terdengar. Dilihatnya Bagas menuntun sosok setinggi perutnya itu dengan hati-hati. Sedang yang lebih kecil berjalan sembrono dan tidak stabil. "Hati-hati, Anak Ganteng. Ketabrak kamu nanti."

Mas Bagas kayanya memang udah siap banget buat punya anak. Tapi sayang...akunya yang belum siap.

Batinnya sembari berjalan keluar kamar—menghampiri Bagas yang kini berdiri di ambang pintu kamar mandi.

Menoleh ke belakang—menyadari kehadiran sang istri—ia kemudian tersenyum lembut. Tangannya mengusap lembut kepala Sandra. "Udah dibilangin biar aku aja yang ngurus anak-anak, kamu malah ikut bangun."

Wanita itu mengerjap.

Mendadak Bagas ingin menggunakan panggilan 'aku-kamu' yang mana terdengar asing. Ada waktu tertentu di mana Bagas akan menggunakan panggilan tersebut, saat bercinta misalnya. Atau ketika pria itu marah seperti waktu itu. Sisanya suka-suka dialah. Sembilan tahun mengenal, hanya di tahun pertama Bagas memanggil dirinya sendiri dengan panggilan 'aku'. Rasanya seperti ditarik mundur oleh waktu. Menuju masa di mana permusuhan tanpa sebab di diri Sandra begitu besar terhadap Bagas.

Jika diingat, hanya membuat Sandra tertawa geli memikirkannya.

"Aku belum tidur tadi Mas." Elaknya. Lagipula ia memang belum sepenuhnya tertidur. Merasakan kasur yang bergerak, pasti akan ia sadari. Maka ia kembali mengumpulkan kesadaran.

"Kamu laper nggak?"

Sandra hanya menggeleng lemah. Lalu suara Abdi di dalam sana dapat mereka dengar sedetik kemudian.

"Masss, udah."

"Kamu masuk kamar duluan aja. Aku ngurusin Abdi dulu." Dengan itu, Bagas ikut masuk ke dalam kamar mandi dan Sandra memilih tidak menuruti saran sang suami. Ia kini berjalan menuju depan kamar Bagas dan menunggu kedua orang yang berada di dalam kamar mandi itu selesai.

"Dingin Mas."

"Ya namanya air Di." Jawab Bagas di dalam sana, terdengar begitu pasrah, mengundang tawaan Sandra. "Dipakai celananya. Keringin dulu pakai tisu. Dilap."

"Kamu kok belum sunat sih. Kapan mau sunat? Katanya kemarin mau sunat pas liburan semester. Kalau nggak jadi ya lego minecraft-nya juga nggak jadi."

"Kata temenku, sunat sakit Mas. Aku takut."

"Halah, mana ada. Kaya digigit semut merah ituloh. Lihat, ini dipotong terus dibuang. Nggak kerasa, beneran deh."

"Mas Bagas nggak bohong kan?"

"Kapan Mas pernah bohong? Coba besok tanya Mas Gam sama Mas Halim."

"Liburan besok deh Mas."

"Kelamaan Abdi, minggu depan aja. Mas panggilin temen Mas ya. Sunatnya nggak sakit, pakai laser. Keren."

Anjir?! Percakapan macam apa ini?

"Nggak mauuu." Terdengar teriakan heboh di dalam sana.

"Kamu kalau kelamaan, semakin keras loh. Makin susah dipotong. Memangnya kamu mau kalau disunat pakai gergaji?"

Ya Tuhan. Ini om-om ada masalah hidup apa sih?

Mendengar rengekan sang anak lantas membuat Bagas panik di dalam sana.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang