19. Sepotong Bolu Gulung

182 13 0
                                        

Sandra mengoleskan freshly made whipped cream ke atas selapis bolu yang sudah agak mendingin. Lapisan tebal krim itu ia ratakan dalam hening sembari pikirannya mengawang memikirkan semua kerumitan kepala dan hatinya. Setelah krim kocok itu menutupi seluruh lapisan bolu tanpa terkecuali, Sandra kemudian meraih semangkuk besar buah stroberi segar yang telah dibersihkan dan dipotong pangkalnya, menyisakan potongan buah segar dengan warna yang menggoda. Tangannya lalu bergerak menyusun stroberi tersebut ke dalam sebuah barisan memanjang pada salah satu sisi bolu yang telah dialasi kertas persegi.

Speaking of bolu gulung...Sandra jadi teringat kala Bagas datang untuk melamarnya beberapa bulan lalu. Bagas Adiguna yang datang bersama ibu dan pamannya, jangan lupakan Gama sang adik, dengan berbekal sekotak telur asin dan bumbu pecel premium. Tau betul bahwa kedua buah tangan tersebut adalah favorit ayahnya. Ia juga ingat kala itu Hamzah memintanya untuk membuat bolu gulung stroberi yang Sandra masukkan ke dalam sebuah kotak sebagai pemberian untuk Bagas.

Dan tentu bukan hanya itu saja kenangan antara Bagas dan Sandra dengan bolu gulung. Sehari setelah Sandra memutuskan untuk menerima lamaran pria itu—di tengah hujan lebat di dalam mobil Bagas—tunangannya itu harus dilarikan ke rumah sakit karena kondisi yang mendadak drop. Kalau teringat bagaimana wajahnya yang pucat pasi namun seketika tersenyum lebar kala Sandra datang menjenguk...duh ia semakin merasa bersalah. Bagas sungguh mencintainya. Dan hal pertama yang Sandra dengar dari mulut pria itu adalah hal terkonyol yang pernah ia dengar seumur hidupnya dari mulut seseorang yang dipasangi jarum infus.

"Bolu buatanmu enak, Sandra. Mas suka banget. Terima kasih ya."

Mungkin Sandra harus menyimpan—baca: membeli—dua iris bolu gulung untuk nanti dimakan bersama. Bagas pasti suka. Atau...daripada ia berasumsi sendiri, mungkin ia harus menanyakan pendapat sang suami terlebih dahulu. Maka setelahnya ia menggulung bolu tersebut dengan tidak terlalu menekan—mencegah agar krim kocok tidak terciprat keluar—serta tidak lupa memastikan bentuk bolu agar tetap rapi.

Ia baru saja hendak menarik loyang berisi beberapa bolu gulung lain yang berbeda rasa dan isi di sebelahnya ketika Wanda masuk ke dapur. Aura canggung seketika menguar memenuhi dapur. Semenjak perdebatan singkat yang berujung dengan Sandra yang meminta agar wanita berambut sebahu itu untuk berhenti mencampuri urusannya, mereka kini sedikit berjarak. Baik Sandra dan Wanda tetap berhubungan baik, namun hanya sebatas kue dan kafe, selebihnya...lebih baik tetap pada urusan masing-masing.

"Kamu mau potong bolunya San?" Tanya Wanda sembari berjalan mendekat menuju meja panjang stainless steel di tengah ruangan. Wanita yang rambutnya dikepang itu berdiri dengan sedikit jarak di sebelah Sandra.

Yang ditanya lantas mengangguk singkat. "Iya Mbak." Jawab Sandra pelan. "Mbak Wanda mungkin bisa bantu naburin gula bubuk ke madelaine cake-nya. Sudah agak dingin itu."

"Sure."

Duh, harusnya dari awal Sandra menyalakan mini bluetooth speaker yang berada di dekat pintu dapur. Seharusnya ia memutar lagu korea favoritnya alih-alih dilanda keheningan yang mampu membuatnya tak nyaman sama sekali. Mana Sofia tengah sibuk membersihkan area kafe lagi. Sandra tidak mengetahui apakah Wanda juga merasakan hal yang sama. Namun, ia bersusah payah untuk tetap menjaga citra diri sebagai rekan kerja yang profesional dan bersikap seolah tak pernah ada yang namanya adu mulut di sudut dapur.

Suara gesekan saringan dengan gula halus di dalamnya itu menjadi sebuah musik tersendiri. Juga suara pendingin ruangan yang tak dapat dikatakan senyap, suaranya cukup meramaikan.

Dan Sandra telah berusaha menyibukkan pikirannya sendiri agar tak tersiksa dengan suasana canggung di dapur pagi ini. Sampai suara Wanda membuatnya tersentak pada kenyataan.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang