"Bagus mana?" Sandra mengangkat dua apron ke hadapan Aare—meminta pria itu memilih di antara dua apron yang tidak begitu berbeda dari segi model.
Sedang Aare nampak ikut berlagak berpikir keras, bahkan jari telunjuknya menepuk-nepuk pipi untuk mendukungnya agar terlihat seperti benar-benar berpikir. Telunjuknya tersebut lantas bergerak ke arah apron dalam genggaman tangan kiri Sandra. "I think pink will suit you better."
"Hm? Masa sih?" Sandra menatap kembali apron berwarna merah muda tersebut. Terdapat hiasan pita-pita kecil di antara tali apron yang membuatnya terlihat menggemaskan, cottage core sekali. Kemudian ia membandingkan dengan apron lain di tangan kanannya—apron ungu muda dengan gambar bunga-bunga putih memenuhi seluruh kain.
"Kenapa nggak kamu coba aja sih?!" Aare memutar bahu Sandra ke arah kaca besar di dinding toserba, memuat pantulan diri mereka berdua dan Sandra yang lantas menyadari betapa besarnya sosok di belakangnya itu. "Dicoba dulu. Kamu minta saran, tapi kamu juga nggak percaya sama saranku." Dumelnya.
"Hehehe." Sandra terkekeh. Ia menitipkan apron ungu kepada Aare dan mencoba memasangkan apron tersebut pada dirinya sendiri. Sandra yang kemudian merasa kesulitan kala tali apron tersebut hendak melewati rambutnya yang terurai panjang lantas membuat Aare bersikap cepat.
"Aku pegangin talinya, kamu benerin rambut kamu dulu."
This is so awkward. Batin Sandra karena harus mengangkat rambutnya ke atas. You know...ini terlihat seperti adegan drama memasangkan kalung. So awkward.
Di satu sisi, Aare merasa udara semakin menipis. Ia menelan ludahnya kala Sandra mengangkat rambutnya ke atas—memperlihatkan bagaimana indahnya bagian tubuh wanita itu—dan harus menahan tali apron untuk sang wanita.
Mata keduanya bertemu pada cermin tempel di depan sana.
"Maaf." Detik selanjutnya, Aare menjauhkan tangannya begitu saja bersamaan dengan mereka yang saling membuang pandangan.
Sandra menunduk gugup untuk kemudian kembali menampar dirinya dengan kenyataan. Kenapa ia harus gugup? Isn't it wrong when she feels nervous around Aare?
Mereka teman. Ini tidak benar.
"Kayanya aku bakal ambil yang ini aja deh." Dengan cepat Sandra meraih sebuah apron hijau tua polos yang tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
Menyadari mereka yang sama-sama nervous, Aare tertawa canggung. "Y-ya. It's not bad either. Bagus juga kok, San." Ia mengusap hidungnya.
Sandra mengangguk cepat, menyetujui kalimat Aare. "Iya kan? Ambil yang ini aja deh. Lagian nggak butuh apron bagus-bagus, bakalan kena clay juga akhirnya."
"Kamu jadi ambil yang mana, Re?"
Pemuda bertubuh tinggi besar itu mengangkat apron cokelat muda di tangannya.
"Oke, ada lagi yang mau dibeli?"
Aare menelengkan kepala. "Harusnya aku yang tanya gitu ke kamu."
"It's raining." Dengan kantung kresek di tangan, Aare menengadah memandang langit mendung dengan iringan air hujan yang turun deras begitu saja.
Ini musim kemarau.
Mengapa Sandra malah merasa sudah berkali-kali terjebak di bawah guyuran hujan bersama Aare?
Like...apakah dunia dan seisinya memang sengaja menguji hati dan kesetiaan Sandra?
"Kamu nggak apa-apa nunggu kaya gini?" Aare menolehkan kepalanya ke arah Sandra yang berdiri di sebelahnya. Meniru tingkah Aare, Sandra juga ikut menengadahkan tangannya di bawah hujan. "Aku bisa lari ke mobil buat ambil payung."
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomanceTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
