21. Ulang Tahun Bagas

272 17 1
                                        

"Ibu."

Suara Mak Ani menyambut Sandra yang baru saja keluar dari kamarnya—ralat, kamarnya dan Bagas kini mereka menyebutnya.

"Kenapa Mak?" Sandra mendekat dan berjalan menjauhi pintu kamar.

"Bapak di kamar kan Bu?" Bisik Mak Ani sembari mengawasi pintu kamar mereka bak mata-mata.

Sandra yang bingung lantas hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. "Kenapa sih Mak? Jangan buat aku kepo deh."

Wajah Mak Ani perlahan mendekat, memberi isyarat Sandra agar ikut mendekat. Maka ia menurut.

"Besok Bapak mau dibuatin apa, Bu? Ibu mau buat acara untuk Bapak ndak?"

Semakin bingung dengan pertanyaan Mak Ani, Sandra ikut melemparkan pertanyaan dengan berbisik pula. "Memang besok ada acara apa Mak?"

"Loh?" Terlihat keterkejutan yang tergambar jelas pada wajah berkerut Mak Ani. "Ibu masa ndak tau sih besok hari apa?"

Sandra menggeleng polos. Lagipula Mak Ani malah semakin bertele-tele. Sudah tau Sandra tidak mengerti, malah semakin berputar-putar. "Hari apa sih Mak? Rengasdengklok? 16 Agustus kan?"

"Aduh Ibuuu!" Gemas Mak Ani melihat wajah clueless majikannya. "Besok Bapak ulang tahun Buuu."

Lah...

"Hah?! Yang bener Mak?" Sandra benar-benar terkejut, ibarat drama India, mungkin wajahnya akan di-zoom in-out berkali-kali dengan iringan lagu menegangkan.

"Ibu gimana toh?! Masa Ibu ndak tau ulang tahun Bapak?"

Kok malah Mak Ani yang tantrum sih? Sandra membatin melihat Mak Ani mengomeli dirinya. Lantas ia tertawa geli dalam hati. Bagas memang sepertinya memperlakukan Mak Ani dengan sangat baik, tak ayal wanita paruh baya tersebut dapat sedemikian sayang pada sosok Bagas.

"Dek Ayu? Ngomong sama siapa?" Teriakan Bagas terdengar dari posisi mereka saat ini. Baik Sandra maupun Mak Ani mendadak panik, takut-takut diskusi rahasia mereka diketahui oleh Bagas.

"Nanti kita bahas ya Mak. Ini rahasia kita berdua ya?"

Mak Ani mengacungkan jempolnya lalu berlagak mengunci bibirnya dengan ibu jari dan telunjuk. Lantas Sandra mengangguk dan berlalu menghampiri Bagas.

"Pagi Mas." Sapa Sandra ketika kembali memasuki kamar mereka. Mengundang tatapan bertanya-tanya dari Bagas. Dari gelagatnya saja, Sandra sudah aneh. Mengucapkan ucapan selamat pagi dua kali juga aneh—ingatkan Sandra bahwa pagi ini mereka sudah cipika-cipiki tepat setelah membuka mata. Apalagi mereka baru berpisah sepuluh menit lalu.

"Kamu yakin? Nggak mau Mas anterin sekalian?" Bagas mengambil alih tasnya dari tangan Sandra.

"Nggak usah, Mas. Aku ada urusan bentar."

Mata Bagas seketika menyipit, penasaran dengan urusan istrinya yang terasa mencurigakan. Sukses membuat Sandra buru-buru menutupi rasa paniknya. "Apa sih?!"

"Nggak ada." Pria itu menggeleng pelan, masih dengan raut menaruh rasa curiga yang besar pada istrinya. "I love you." Ucapnya tiba-tiba. Lengkap dengan bibir mengerucut dan tatapan kesal.

Sandra berdecih melihat Bagas yang tiba-tiba ngambek. Padahal besok Bagas akan bertambah usia, namun tingkahnya semakin kekanakan. Di mana pesona pria matang yang Bagas munculkan di awal pernikahan? Sandra tidak merasa pernah menikah dengan cowok ABG.

Lantas, ia meraih tangan Bagas untuk disalimi. Sebuah ide jahil terlintas, ia ingin menguji hipotesis yang ia buat beberapa hari terakhir semenjak adegan mereka berendam di dalam bathup tempo lalu. Terkait dengan fetish seorang Bagas Adiguna yang beberapa waktu terakhir menyentil Sandra setiap mereka bercinta.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang