7. Usaha

231 20 4
                                        

Bagas tidak bisa untuk tidak mencemooh artikel yang dikirimkan oleh sang sahabat, Halim, kepadanya beberapa menit lalu.

20 Cara Menaklukkan Hati Istri: Dijamin Istri Auto-Luluh

Dari judulnya saja, Bagas tidak dapat menghentikan tawanya. Namun ia begitu mengapresiasi kekhawatiran temannya itu terhadap rumah tangganya yang sama sekali tidak ada romantis-romantisnya. Benar kata Halim. Dan dalam hati ia akan menerapkan cara tersebut satu persatu dan menguji kebenarannya.

Tangannya kemudian sedikit menggulir layar ke bawah, hendak membaca sekilas isi artikel tersebuf. Tetapi tak lama alisnya mengernyit bingung.

"Lah, ini kok cuma lima?"

Lalu semakin bingung lantaran kalimat paling bawah dari isi artikel tersebut berbunyi, 'Lima dulu saja ya, nanti dilanjutkan setelah ini'.

Lantas Bagas kemudian mencari di mana cara ke enam sampai ke dua puluh yang sama sekali tidak ada tanda-tanda kemunculan. Ia sontak tertawa. "Ini kayanya Halim asal ngirim judul, nggak dibaca dulu isinya." Kepalannya menggeleng tidak habis pikir.

Lalu muncul artikel baru yang dikirim oleh pria dengan rambut bercat pirang itu. Lantas ia menekan tautan yang terlampir dan segera membawanya menuju ke sebuah website artikel. Matanya seketika terbelalak kala membaca judulnya.

Dear Suami, Berikut Cara Memuaskan Istri Di Atas Ranjang

Dirinya yang semula hendak beranjak keluar dari kamar menuju ruang makan mendadak mengurungkan niat. Padahal tangan sudah berada di gagang pintu namun kini beralih menopang diri pada besi tersebut. Ia ingin membaca apa saja isinya sekilas kemudian mencatatnya dengan baik di dalam otak mengenai apa-apa saja yang harus dilakukan.

Lantas ia kembali melanjutkan niatnya—makan malam bersama sang istri di ruang makan. Setelah menginjakkan kaki keluar kamar, ia dapat melihat pintu kamar Sandra yang terbuka dan menunjukkan tidak ada sosok istrinya di sana. "Dek?"

Nihil, tidak ada balasan. Mungkin Sandra sudah menunggunya di meja makan. Alhasil ia kembali melanjutkan langkahnya.

Benar saja, dari dasar tangga, Bagas dapat melihat punggung istrinya yang tengah melamun sembari menyandarkan punggung pada kursi meja makan. Kala langkahnya telah membawa Bagas di sebelah tubuh sang istri, tangan kanannya lantas bergerak mengusap rambut Sandra lembut.

"Mikirin apa?"

Wanita itu mendongak, menatap Bagas dan memaksakan senyum. "Nggak ada Mas. Duduk Mas Bagas, aku ambilin makan ya."

Mengiyakan tawaran Sandra, Bagas pun mengambil tempat di kursi ujung, dengan Sandra di sisi sebelah kanannya.

"Mau makan sama apa Mas Bagas?" Kini tangan kecil itu membawa piring yang telah terisi porsi nasi Bagas.

"Ayam sama sayur aja, Dek."

"Nggak mau tahu?" Tawarnya sembari mengambilkan permintaan Bagas.

"Nggak usah, makasih ya." Bagas pun menerima piringnya dengan senyum hangat. Selanjutnya ia dapat melihat Sandra yang kini mengambil makanannya. Berakhir dengan ia duduk di kursinya kembali dan mengambil alat makan di tengah meja.

"Kamu kenapa Dek? Hm?" Bagas bertanya di sela-sela kegiatan makan mereka. "Kok Mas perhatiin, akhir-akhir ini kamu lebih diem dari biasanya. Mas ada salah sama kamu?"

"Nggak ada Mas." Sandra sontak menggeleng. Enggan membahas masalahnya kepada Bagas.

"Ada yang sakit?"

"Nggak ada Mas Bagas."

Ya Tuhan.

Mengapa susah sekali untuk membujuk istrinya agar terbuka kepadanya? Bagas sampai kehabisan cara.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang