"Dek, ini Mas ambilin minum."
Sandra yang saat ini tengah duduk di salah satu sudut tikar itu menoleh ke belakang. Bersamaan dengan sorak-sorai ibu-ibu gang rumah mereka yang kini sibuk membuat rujak buah sembari mengobrol ringan, didapatinya Bagas yang kini berdiri di belakangnya dengan tangan yang menyodorkan segelas es buah.
Titik peluh nampak membasahi dahinya, entah karena kegiatan gotong royong yang baru saja pria itu lakukan ataukah lantaran sinar matahari pagi yang begitu mengundang keringat.
"Ampun deh, pengantin baru memang lagi mesra-mesranya." Sahut Bu RT sembari menyuap sepotong bengkuang lengkap dengan sambel kacang ke dalam mulut.
"Lucu banget ini Mas Bagas sama Mbak Sandra."
"Itu suami saya kok nggak peka juga ya? Itu tuh! Malah asik makan pisang goreng. Tambah gendut itu perut!"
"Ini mah lagi anget-angetnya. Saya jadi kangen waktu masih jadi manten."
"Wah akhirnya bujangan terganteng di gang udah punya istri aja."
Waduh, mulut siapa tuh? Sandra bahkan sampai melirik ke samping sebelum meraih gelas plastik tersebut dan menyunggingkan senyum tipis. Diikuti dengan tawaan renyah pria itu.
"Makasih Mas Bagas."
"Iya, Adek. Mas kesana dulu ya, nyusul bapak-bapak." Bagas pun menatap sekumpulan ibu-ibu RT-nya setelah mendapat anggukan persetujuan Sandra. Ia menyunggingkan senyum tersipu. "Wah Ibu-Ibu ini bisa saja. Saya titip istri ya. Dek Ayu memang agak malu-malu, Bu."
"Siap Mas Bagas. Istrinya aman sama kita-kita." Sahut beberapa ibu-ibu yang Sandra amati nampak begitu berseri-seri menatap wajah suaminya itu. Lantas ia menahan tawa. Apa Bagas memang sebegitu rupawannya di RT mereka?
Selepas kepergian Bagas, Sandra dapat mendengar bisikan-bisikan beberapa tetangganya mengenai sang suami. Lalu ia semakin mati kutu kala ibu-ibu tersebut menatapnya bak mangsa yang akan diterkam. Sandra jelas mati kutu ditatap seperti itu. Siapa juga sih yang tenang kala tetangga tengah bersiap hendak menginterogasinya?
"Kok bisa kenal sama Mas Bagas, Mbak?" Tanya salah seorang ibu-ibu empat puluhan yang menguar aura kekayaan begitu kuat. Sepertinya wanita itu adalah penghuni rumah di ujung gang, rumah terbesar.
"Iya, Mbak. Cerita dong, gimana kok bisa ketemu? Emange pacaran berapa lama sih? Mas Bagas agak tertutup gitu soale, kita pada penasraan. Kaget aja tiba-tiba nikah." Sahut wanita yang begitu kental akan aksen Jawanya, sepertinya...sesi interogasi Sandra dimulai sekarang.
Setelah itu ia menelan ludah gugup. Duh, Sandra malu.
Wanita itu sempat membalas tatap semua orang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk bersuara. "Anu...Mas Bagas mahasiswanya Ayah Saya." Sandra menunjukkan raut sungkan pada puluhan ibu-ibu yang ikut mendengarkan kisah cinta mereka yang tidak ada romantis-romantisnya.
"Terus, terus Mbak?" Mereka semakin antusias mendengarkan.
"Oalah, Ayahnya Mbak Sandra dosen toh? Dosen di mana Mbak?"
"Iya, Ayah Saya dosen di Institut Teknologi, Bu. Mas Bagas dulu jadi mahasiswa wali dan bimbingannya Ayah. Terus habis lebaran kemarin tiba-tiba ngelamar."
"Wah, Mas Bagas berarti orangnya sat-set gitu ya. Kelihatan sih."
"Saya kira Mbak Sandra sama Mas Bagas pacaran gitu."
"Loh saya malah ngiranya mereka dijodohin. Kelihatan masih kaku banget. Lucu deh."
"Iya, Saya juga ngiranya dijodohin." Kalimat itu ditutup dengan satu suapan bengkuang lengkap dengan sambal rujak.
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomansaTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
