"Ayah, maaf ya Adek ngerepotin minta diantar pulang kaya gini." Sandra bergelayut manja pada lengan ayahnya di bangku belakang. Sedang supir sekaligus tetangga mereka, Pak Didik menyupir di depan.
"Ndak apa-apa, Dek. Kalau bukan Adek, siapa yang mau ngerepotin ayah? Adek kenapa, hm?" Hamzah meremas tangan Sandra yang terasa dingin.
"Adek cuma keinget Ayah. Setiap ke rumah sakit, selalu sama Ayah. Ayah yang panik waktu Adek harus opname atau Ayah yang harus nganterin ke IGD tengah malem karena sakitku parah." Mendengarkan kenangan mereka tentang rumah sakit sungguh mengingatkannya betapa sulitnya menjadi orang tua tunggal. Dan kini hatinya begitu bahagia karena ia dapat membesarkan Sandra menjadi sosoknya yang sekarang. "Adek mau berterima kasih ke Ayah. Jadi orang tua tunggal pasti berat."
Bukan Hamzah yang meneteskan air mata, melainkan Pak Didik di depan sana yang berkali-kali menyedot ingus karena ikut sedih mendengar perjuangan Hamzah yang begitu ia hormati.
"Loh? Kok malah Pak Didik yang nangis?" Hamzah mencoba mencairkan suasana. Ia bahkan terkekeh geli melihat tingkah tetangganya yang telah berada di dekat mereka puluhan tahun terakhir itu.
"Saya keinget Mbak Sandra yang dulu nakalnya minta ampun, nggak bisa dibilangin, sekarang sudah besar. Saya kangen sama Mbak Sandra kecil. Menik-menik."
Sandra tertawa di tengah tangisnya. "Ayah." Panggilnya sekali lagi.
"Dalem, Adek?"
Maka Sandra kembali menegakkan posisi tubuh, ia mencoba mengeluarkan sesuatu dari dalam tas—sebuah buku merah muda.
"Ayah...Adek hamil." Sandra membuka buku tersebut dan memperlihatkan beberapa foto USG yang tertempel di sana.
Sandra memperhatikan raut ekspresi Hamzah yang tampak terkejut dengan mata berkaca-kaca sebelum suara Pak Didik di depan sana memecah fokusnya.
"Wah beneran, Mbak? Selamat ya! Saya ikut senang."
"Terima kasih, Pak Didik."
Kembali menatap Hamzah yang masih terdiam, kebingungan untuk mengungkapkan perasaannya dengan tangannya mencoba mengambil alih buku milik Sandra. "Ayah langsung dapat tiga cucu sekaligus nih. Lihat." Sandra menunjuk apa yang Dokter Azizah terangkan kepadanya. "Kembar tiga, Yah. Udah masuk bulan ketiga."
Bagai menatap suatu keajaiban, mata renta itu teralih pada Sandra yang tersenyum bahagia. Hamzah lantas merentangkan tangannya, mengundang Sandra ke dalam pelukan hangat. "Terima kasih ya, Adek. Ayah senang sekali." Bibirnya mencium pelipis Sandra dan mendoakan hal baik untuk sang putri.
"Ayah, jangan kasih tau Mas Bagas ya. Biar Adek yang urus."
"Iya, Adek. Ayah seneng banget sampai ndak tau harus ngapain lagi." Hamzah melepaskan pelukannya dan melirik Pak Didik. "Pak Didik, besok temani saya membagikan tasyakuran ke tetangga ya, Pak?"
"Siap, Pak!" Sandra tertawa melihat respon Pak Didik yang tidak pernah gagal untuk menghiburnya.
"Adek sekarang ngidam apa? Ayah mau nyenengin cucu-cucu Ayah."
*
Sandra tengah meminum susu khusus miliknya di dapur ketika suara mobil Bagas terdengar dari luar. Dengan cepat ia menghabiskan isinya yang tersisa setengah dan menghilangkan jejak dengan meletakkan gelas kotor di wastafel lalu bergegas menyambut suaminya.
Bagas berdiri di sana, menatap langkahnya tanpa melepaskan pandangan sama sekali hingga Sandra menyalimi tangan pria itu dan mengambil alih tas kerjanya. Melihat noda cokelat di sudut bibir Sandra, ibu jarinya bergerak menghapus cairan tersebut dan mengemutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomanceTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
