25. Berita Buruk

196 12 2
                                        

"Saranin kado untuk mertua dong." Sandra menghadap ke arah Wanda dan Sofia yang berdiri di balik rak display kafe. "Kata Mas, minggu depan beliau ulang tahun."

Yang termuda—Sofia—langsung melambaikan kedua tangannya di depan dada, mengisyaratkan bahwa ia tidak tau. "Oops, aku belum nikah, jadi aku kurang paham. Tanyakan suhunya." Kedua tangan yang semula melambai itu lantas bergerak menunjuk ke arah Wanda. Wanita berambut pendek lantas lantas mengetuk-ketukkan telunjuknya pada dagu, berlagak tengah sibuk berpikir.

"Mertua kamu sukanya apa, San?"

Ditanyai seperti itu, ternyata Sandra tidak bisa menjawab. Membuat Wanda dan Sofia tercengang karena syok melihat sikap Sandra yang ternyata masih bersikap sangat pasif dengan kehidupan rumah tangganya sendiri.

"Serius San?" Tanya Wanda yang bingung lantaran haruskah ia tertawa atau menangis miris melihat tingkah Sandra yang kini terlihat panik membuka ponselnya.

Sandra membutuhkan bantuan. "Ya gimana lagi Mbak? Aku kan baru nikah tiga bulanan, kalau dihitung dari lamaran ya empat bulan lebih dikit. How would I know that much? Preferensi Mas Bagas aja kadang aku masih lupa-lupa ingat." She's not lying tho. Beneran deh, terkadang untuk beberapa hal favorit sang suami saja kadang Sandra lupa. Lalu kebiasaan-kebiasaan kecil Bagas, mana bisa ia ingat dengan mudah.

"Mbak Sandra enak banget deh." Timpal Sofia sembari memangku wajah, mengundang tatapan bingung Wanda di sebelahnya sedang perhatian Sandra masih fokus membuka ruang pesannya dengan Bagas,

"Kok bisa, Sof?" Sahut wanita berambut pendek tersebut, Wanda.

"Ya berarti kalau gitu, Mbak Sandra nggak perlu merebut hati mertuanya kan? Dari cerita Mbak Sandra, dari awal perasaan Mas Bagas yang ngejar-ngejar. Nggak pakai pacaran, langsung dilamar, ditambah langsung diterima oleh keluarga suami. Kaya mimpi di siang bolong. Mana mertua Mbak Sandra baik banget lagi. Andai aku bisa dapat mertua dan suami kaya gitu."

Maka Wanda setuju mendengar penjelasan Sofia. Malah dirinya kini ikut memandangi Sandra yang sama sekali tak fokus mendengarkan percakapan kedua orang yang tengah diliputi rasa iri kepadanya.

Bagas

Mas bagas jemput kaya biasa kan?

Sandra membuka misi 'mencari bantuan'-nya dengan basa-basi singkat yang bahkan pertanyaan tersebut sudah jauh dari kata basi.

Bagas
Iya
Tumben tanya?
Mau nitip sesuatu, Garwaku?

Sandra mendengus geli melihat balasan Bagas. Membayangi suara lembut Bagas memanggilnya dengan sebutan 'Garwaku', Sandra mendadak cekikikan. Dirinya terkadang masih belum terbiasa mendengar panggilan-panggilan sayang yang suaminya berikan selain 'Dek Ayuku'. Sedang kedua sosok pegawainya itu masih memandanginya iri.

Bagas

Enggak sih mas...
Tapi aku mau tanya sesuatu😅
Disclaimer: mas bagas jangan marah ya

Tanya apa, Dek Ayu?
Firasatku nggak enak😑

Ih jangan gitu, aku tanya dengan maksud baik
😁😁😁

Go on.

Sandra menyempatkan diri membasahi bibirnya, seolah-oleh ia berbicara langsung di hadapan Bagas. Ini Bagas tidak akan tersinggung kan jika Sandra nol besar tentang preferensi mertuanya?

Bagas

Kira-kira ibuk suka apa ya mas?
Aku mau ngado buat minggu depan

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang