22. Tujuh Belas Agustus

161 13 0
                                        

Content warning: mature
Please be wise

Apa hadiah yang cocok untuk seorang pria matang yang sehat secara jasmani dan rohani?

"Birthday sex?"

Panggilan Sandra seketika dihentikan secara sepihak dari seberang sana.

Tak lama muncul notifikasi pesan dari sang sahabat.

Arin Anak Darmiji
ORANG GILA!🤬
Kamu nelpon aku di tengah tidur cuma buat nanyain hal gak penting?!
ILL KICK YOUR ASS KALO KETEMU🪓🔪

Senyum Sandra mengembang. Ia tertawa jahil sembari mengetikkan balasan pesan untuk Arin.

Sorry🤭🙏🏻
Tapi beneran deh rin...
Birthday sex?

Arin Anak Darmiji
GTFO sebelum aku aduin si OM

Sandra kembali memasuki kamarnya pagi ini setelah mengantarkan Bagas pergi bekerja. Paginya sedikit tenang karena semalam ia telah mengabari Sofia dan Wanda bahwa ia akan datang terlambat. Sempat terbesit di pikirannya untuk mencari pattisier guna membantu pekerjaannya di kafe karena Wanda sedikit kesusahan dalam meng-handle kitchen—mengingat ia bukan seorang ahli pastry, namun masih ada beberapa hal yang masih ia pertimbangkan lebih lanjut dan tidak lebih penting dari masalahnya saat ini.

Ia harus merencanakan sebuah pesta kecil-kecilan untuk Bagas besok. Dan...sekiranya apa kado yang pantas ia berikan untuk sang suami?

Kan rasanya tidak mungkin jika Sandra hanya bermodalkan kado rasa puas. It should be memorable. Sandra ingin kadonya berupa barang yang bisa Bagas ingat seumur hidup, bukan sekedar make out session yang rutin mereka lakukan seminggu dua kali, kalau nafsu lagi tinggi-tingginya ya tiga kali.

"Ibu?" Suara Mak Ani yang mengetuk pintu kamarnya itu membuat Sandra bangkit dari kasur.

Oh ia akan menjadi event organizer dadakan dalam satu hari ke depan.

"Mas jangan ketawa ya." Setelah semua tamu mereka pulang dan kini tersisa mereka berdua yang telah bersiap tidur, Sandra mengajak Bagas menuju kamar depan—kamar yang pernah ditempati oleh suaminya.

Alis Bagas mengerut namun pada akhirnya ia mengangguk, mengiyakan permintaan Sandra yang sungguh malam ini terlihat begitu...cantik. Bagas suka. Pria itu dapat melihat pipi istrinya yang diberi sedikit perona dan bibirnya yang mengkilap merah. Ia menyadari bahwa wanita itu sedikit memakai riasan wajah dan jangan tanya apa yang tengah wanita itu gunakan.

Bagas mampu membaca situasi. Ia dapat menebak apa yang akan mereka berdua lakukan sesaat setelah memasuki kamar lamanya. Hatinya sungguh berdebar, sulit memprediksi apa yang telah wanita itu siapkan di balik pintu tersebut. Semenjak Sandra membuka diri mengenai fantasinya yang terbilang berbanding terbalik dengan preferensi Bagas—yang mana ia sama sekali tidak keberatan untuk mencoba hal baru, ia sering mendadak gugup ketika mereka hendak mengeksplorasi aktivitas mereka. Ia takut jika tidak sanggup memenuhi ekspektasi Sandra. Dan dapat diakui bahwa hak tersebut sedikit membebaninya.

Setelah melihat respon Bagas, maka Sandra membuka pintu tersebut hati-hati.

Aroma mawar dari scented candle yang dominan menyambut indera penciumannya, sukses membangun suasana romantis dan membangkitkan mood Bagas seketika. Matanya menangkap ranjang mereka yang dihiasi kelopak bunga mawar yang jika dilihat semakin dekat—karena Sandra membimbingnya masuk—maka terlihat bentukan hati yang tidak rata. Ia mendadak ingin tertawa.

Sadar jika Bagas tengah menahan tawa—melipat bibirnya ke dalam—Sandra sontak berujar defensif lengkap dengan tangan bersedekapn di depan dada. "Aku nata ini semua buru-buru tau!"

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang