1. Awal Kisah Rumah Tangga

593 34 4
                                        

"Mas bawain kopernya, sini San." Tangan pria itu mencoba untuk mengambil alih koper kecil berwarna merah muda dari tangan sang istri. Namun, sebelum berhasil menyentuh koper tersebut, tangan wanita itu telah terlebih dahulu menjauhkan koper miliknya.

Sang istri menggeleng pelan dan tersenyum kecil. "Nggak usah, Mas. Aku bisa bawa sendiri." Tolaknya halus.

Pria itu menghela napas. Jelas raut lelah tergambar pada wajahnya setelah perjalanan tiga hari bulan madu mereka yang melelahkan. "Nggak berat memangnya?"

"Nggak kok, Mas."

"Ya sudah." Sempat memberikan balasan senyum sang istri, lalu langkahnya kembali memandu ke depan dengan koper hitam di tangan kanan, menaiki tangga menuju kamar di lantai dua. Pun sang istri hanya diam sedari tadi—mengikuti—dan dengan sedikit kesusahan membawa kopernya sendiri. Sesekali menatap punggung lebar itu dengan pandangan sendu.

Hah, di sinilah ia.

Memasuki lembaran baru dengan pria yang melamarnya secara mendadak satu bulan lalu. Pria yang telah ia kenal sembilan tahun lamanya namun ada dinding tebal berdiri kokoh di antara mereka. Intensitas pertemuan yang jarang, rasa asing yang menguar, membuatnya kembali mempertanyakan keputusan dirinya sendiri.

Apakah menikahi pria itu benar adalah keputusan yang tepat?

Tidak.

Dirinya tak boleh seperti ini. Ia tidak mau menyesali keputusannya sendiri. Walaupun rasa cinta belum tumbuh di dalam hatinya, ia tidak mau menyakiti perasaan pria itu. Ia tidak mau menyakiti perasaan pria yang telah mendeklarasikan hak miliknya di hadapan sebagian orang, yang telah mendapatkan kepercayaan sang ayah untuk menjaga dan melindungi dirinya seumur hidup, yang telah berjanji kepadanya untuk selalu memberikan kasih sayang dan cinta.

Tetapi sekali lagi, hati tidak dapat berbohong.

Ada kemunafikan di balik senyum sang wanita. Ada  setitik rasa benci tak terkontrol di dalam hatinya. Ada rasa tidak rela yang menyiksa.

Tidak rela jika harus memasuki kehidupan rumah tangga bersama pria di depannya, pria yang dengan sengaja ia pilih karena suatu alasan besar.

Begitu terdengar kontradiktif dengan apa yang dirasakan oleh sang kepala rumah tangga saat ini. Pria yang kini merasakan kebahagiaan luar biasa karena telah mempersunting wanita yang dicinta. Pria yang telah merencanakan begitu banyak momen bahagia di masa depan. Pria yang merasa bertanggung jawab untuk membahagiakan istrinya. Dan pria yang menyadari bahwa sang istri yang baru saja ia nikahi itu tidak menyambut pernikahan mereka dengan sama sukacitanya.

Walaupun begitu, tidak ada yang bisa ia lakukan kecuali berpura-pura tidak tau dan berusaha menepati semua janji manisnya pada sang wanita sebelum mereka menikah.

"Nah, Sandra tidur di sini." Ucapnya sembari membuka pintu kayu kamar dengan hati-hati. Pria itu berdiri di tepi, mempersilahkan istrinya—Sandra—untuk menginjakkan kaki ke dalam kamar. "Tidur di sini ya, ada kamar mandi dalamnya."

Sandra terdiam sembari menjatuhkan pandangannya ke setiap sudut kamar yang didominasi warna putih tulang itu. Aksen perabotannya pun berwarna kayu natural menambah kesan nyaman di dalamnya. Harum lemongrass yang menguar dari reed diffuser sanggup membuatnya nyaman sedetik setelah melangkah jauh ke dalam kamar. Namun matanya terpaku pada seprai warna merah muda polos yang membuatnya bertanya-tanya.

Apakah pria itu memang sangat mempersiapkan kamar ini dengan sedetail itu?

Lihatlah seprai itu, rasanya aneh jika Bagas memiliki seprai berwarna merah muda. Apalagi ia tinggal seorang diri sebelum menikah.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang