32. Terkuak

97 11 0
                                        

Aare menghentikan mobil kuningnya di halaman rumah pria itu.

Nyatanya, Sandra tetap ingin ke pantai walaupun mereka harus pergi di pagi hari. Ia merasa seperti seorang sekingkuhan yang disembunyikan dari pasangan sah. Maka tekatnya semakin kuat.

"Dimana Ami-mu, Aare?" Sandra melirik pintu rumah sang pria yang tertutup rapat. Jendelanya juga ditutup tak kalah rapat, seperti tidak ada tanda kehidupan.

"My Ami will just do everything outside the house hanya agar tidak kesepian di rumah. Probably dia mungkin lagi main ke rumah temennya. Klub mahjong." Pria itu keluar dari mobil dan berlari kecil guna membuka pintu mobil Sandra.

"Terima kasih." Sandra berujar riang.

"Let's go. Sebelum matahari benar-benar membakar kulit. Biar kamu juga bisa main lebih lama di pantai." Aare mengeluarkan keranjang kecil berisi makanan yang wanita itu bawa sedang Sandra juga tak ingin terlihat seperti ratu, maka Sandra mengambil tikar kecil yang juga terbawa.

"Kadang aku iri sama kamu karena bisa tinggal di sini. It would be fun." Sandra berujar demikian dengan mimik wajah selaras dengan kalimatnya. Ia membantu Aare melebarkan tikar di atas pasir lalu duduk di atasnya.

"Dulu, orang tuanya Ami nelayan. Suaminya juga nelayan. Rumah itu sudah turun menurun. Direnovasi ketika Kakekku meninggal. Takut sedih, katanya." Pemuda dalam balutan kemeja linen yang dua kancing teratasnya terbuka itu ikut menggabungkan dirinya di sebelah Sandra.

"I see." Sandra juga mengeluarkan makanan mereka satu persatu. "Aku suka banget sama masakan Ami. Kalau aku punya kesempatan, mungkin aku mau mampir ke kedainya Ami."

"Sure. Kamu mungkin akan ketemu aku di sana. Bantuin Ami." Ia berujar ramah, semakin membuat suasana mereka terasa nyaman.

"Jadi, penjual bunga di pagi hari, penjaga kedai di malam hari. Wow, kamu pekerja keras banget ya ternyata."

"Kalau demi cuan, apasih yang enggak?" Maka mereka tertawa sekali lagi. "Biar aku cepet kaya."

Mereka melanjutkan obrolan ringan selama menikmati makanan ringan yang mereka bawa sebagai bekal. Sesekali Aare melirik sang puan yang nampak begitu cantik dalam balutan gaun pantai dan cardigan tipis. Rambut panjangnya terurai dan tertiup angin, membuat wanita itu sesekali menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga walau rasanya sia-sia.

"Ikat aja rambutnya, San." Saran Aare.

"Tanganku kotor. Nanti aja." Sandra menunjukkan jari-jarinya yang kotor akibat bumbu keripik kentang lalu kembali memakan keripik tersebut.

"Biar aku yang bantu." Aare mengambil karet gelang dari lengan Sandra yang kini nampak mati kutu kala pria itu menyatukan rambutnya dalam sebuah ikatan longgar dan rendah, cukup efektif untuk menghalau rambutnya agar tidak kembali menampar wajahnya.

"Thanks." Sandra berujar lirih ketika mereka saling beradu pandang. Pria itu hanya bersikap tenang—jauh dari kata jail dan supel. Sisi berbeda yang selama ini Sandra lihat.

Aare terlihat berbeda, lebih tenang dan pembawaannya terlihat serius. Bahkan ketika makanan telah beberapa tandas dan mereka hanya menikmati angin pantai yang menyejukkan, Aare masih sesekali menatapnya dengan pandangan yang mampu membuat siapa saja merasa jatuh cinta. Tanda bahaya bagi hatinya yang masih goyah dan berusaha untuk tak menyimpan dua nama di dalam sana.

Maka Sandra mencoba melarikan diri sejenak. "Aku mau jalan ke dekat air ya, Re. Kamu jaga sini biar gak terbang ketiup angin tuh tikar." Dengan terburu-buru, Sandra segera beranjak. Tanpa mengenakan sandal, ia berlari kecil menuju perbatasan air laut dan pasir, pesisir pantai yang airnya mulai pasang.

Propinquity Effect: BittersweetCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang