"Gimane? Gimane? Udah 'quality time' belum sama istrimu? Review hotel dong."
"Review hotel apaan elah. Belom kucoba sama istri. Masih sibuk." Timpal Bagas malas sembari tetap fokus memandangi jalan raya yang tidak begitu padat.
"Yahhh." Suara sang sahabat—Halim—yang terdengar dari pengeras suara mobil menjadi peneman Bagas membelah jalanan kota menuju kafe sang istri. "Kalau gini, kapan ada Bagas junior dong? Cepetan dong kasih aku ponakan lucu."
"Daripada nyuruh aku buat cepet-cepet punya anak, kenapa nggak kamu aja yang buruan nikah? Keburu layu." Sinisnya.
"Sialan si Bagas. Itu mulut nggak berubah ye. Masih pedes aje." Decih Halim dari balik telepon. Yang mana dibalas Bagas dengan tawa puas karena berhasil membungkam mulut sang sahabat. "Doain aja. Tahun ini lah. Akhir tahun percisely."
"Emang udah ada calonnya? Kaya ada aja." Ia menginjak pedal rem—berhenti perlahan kala lampu rambu lalu lintas berubah warna.
"Ya...nggak sih."
"Mau aku kenalin nggak? Kayanya temen Sandra ada tuh satu. Tapi dianya sih yang nggak mau sama kamu." Candanya. Puas sekali ia menggoda temannya itu.
"Anjinglah Bagas!" Umpat Halim penuh emosi. "Ngapain malah bahas aku sih?! Aku padahal nelpon buat nanya kemajuan hubungamu sama istri. Gimana? Ada kemajuan nggak? Artikel yang kukirim berguna nggak?"
Ia kembali menginjak pedal gas kala lampu lalu lintas berubah warna menjadi hijau. "Kalau artikel yang dimaksud 'Dear Suami, Berikut Cara Memuaskan Istri Di Atas Ranjang', nggak. Kamu ini asal ngirim judul aja. Nggak dibaca dulu isinya."
"Wuih! Sampai hafal judulnya kamu, Gas. Gila. Pasti udah khatam ya?" Ia menambahkan tawa penuh ejekan di akhir kalimatnya. Mengundang dengusan sebal Bagas di balik kemudi. "Ya...kalau aku baca dulu isinya, yang ada aku keburu ngebet kawin juga."
"Lah, bukannya udah kawin ya?"
"Enak aja! Gini-gini aku masih perawan ting-ting ya! Bisa-bisa dibunuh mami aku kalau kawin duluan!"
"Perjaka." Bagas mengoreksi yang mana sama sekali tidak digubris oleh pria di seberang telpon. "Lagian kurang kerjaan banget ngirim artikel begituan. Preferensi orang beda-beda kali."
"Ya namanya juga usaha kali, Gas. Makanya, komunikasi. Gimana kesukaan istrimu, gimana kesukaanmu. Masa nggak pernah bahas gituan sih?! Polos amat jadi suami. Perasaan orang-orang seumuran kita nggak ada yang sepolos ini. Heran aku."
"Bukannya aku nggak tau kalau hal kaya gitu penting untuk dibahas. Cuma...malu aku Lim. Takut-takut malah Sandra nggak nyaman sama pembahasan kaya gitu. At least for now."
"Gas, elah!" Decakan Halim terdengar. Nampaknya pria itu mulai frustasi berhadapan dengan sahabatnya sendiri. "Katanya mau menaklukan istri jalur ranjang?! Giliran gini kok malah nggak berani nanya. Ini serius nggak sih?"
"I never said that. But you did." Balasnya acuh sembari memasuki halaman parkir kafe Sandra yang nampak begitu terang di tengah gelapnya malam. "Ada banyak cara untuk naklukin istri, semua nggak melulu soal sex kali, Lim. Apaan elah, ini malah bahas hal jorok. Mana yang dibahas masalah kasurku lagi! Udah deh, kapan-kapan main aja ke rumah atau nongkrong di mana gitu, ajak yang lain juga." Ia memakirkan mobilnya dengan hati-hati, tepat di samping mobil salah satu pengunjung kafe istrinya.
"Iya, iya! Maaf ya." Ucapnya tidak ikhlas, mengundang kekehan Bagas. Matanya menatap lurus ke arah kaca besar yang menampilkan suasana dalam kafe istrinya yang nampak begitu sibuk. Senyumnya mengembang. "Eh iya, jangan lupa dateng ke kawinan Wildan. Mendadak gitu yang handling tetep aku! Gila emang, acara mepet banget minta siap dalam satu bulan. Dikira kita-kita ini Bandung Bondowoso apa!"
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomanceTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
