"Nulis nomor siapa sih Mbak? Daritadi itu aja yang ditulis, kertasnya udah penuh itu." Protes salah seorang pegawai yang tampilannya begitu muda—lebih muda dari Sandra. Nametag di dadanya bertuliskan 'Sofia'.
Yang ditegur pun lantas menoleh sinis. Ia kembali menatap guratan penanya pada kertas hvs putih itu. Rasa kesal jelas tercetak di wajahnya. "Ini?" Ia menunjuk nomor tersebut yang kemudian diangguki oleh si penanya. "Ini sih kerjaannya Bagas sinting."
"Hush." Bukan Sofia, kali ini pegawai yang lebih tua pun ikut menegur Sandra akibat kalimat yang terdengar tidak begitu enak. "Kok gitu sih, itu suamimu loh. Nggak sopan atuh."
Mata Sandra seketika berubah melas. "Ck, ya habisnya Mas Bagas nyuruh aku ngapalin nomornya. Mana aku nggak hapal-hapal lagi! Terus ya Mbak, dia udah kaya guru aja. Akunya ditanyain berapa nomornya, mana mendadak lagi. Udah tau otakku ini pelupa. Masih aja ditanyain terus, padahal nomor kontaknya kan udah aku save." Gerutunya panjang kali lebar dengan kecepatan maksimal. Sanggup membuat kuping pendengarnya panas.
Dua pegawai itu lantas bergerak mendekat, melihat nomor tersebut dari jarak dekat. "Tapi nomor suami tuh penting San. Ibarat sebelum nikah kan kita ngehapalin nomor orang tua, kalau udah jadi istri yang dihapalin ya nomor suami. Kan kalau misal hapemu kenapa-kenapa, setidaknya udah hapal nomornya."
"Mbak Wanda bener tuh, Mbak Sandra." Sambung Sofia yang dibalas tatapan sengit.
"Eh, kamu belum pernah lihat muka ngeselinnya si om sih. Nggak tau keselnya gimana waktu lihat muka Mas Bagas. Sabar sih sabar, tapi dari matanya aja udah jelas ngomong 'gitu aja masa nggak hapal sih?'. Kan sebel."
Wanda seketika tertawa mendengar cerita Sandra siang ini, begitu menggebu-gebu dan penuh ujaran kebencian. Sedang yang diomeli hanya garuk-garuk leher. Untung kondisi toko sedikit lengang dan suara Sandra tidak sekeras itu. Meminimalisir rasa malu yang dapat timbul.
Melihat jam di dinding, menunjukkan pukul setengah satu siang, Wanda kembali berceletuk. "Tumben suami belum nelpon? Kemarin siang kan ditelpon, katanya suami kangen."
Sandra berseru panik. "Is Mbak! Jangan disebut-sebut. Nanti nelpon beneran!"
"Mbak Sandra kayanya anti banget sama suami sendiri. Bukannya kalian nikah karena saling cinta ya? Apa kalian dijodohin?"
Sedangkan Wanda dan Sandra—terutama—yang mendapati pertanyaan polos Sofia hanya saling melirik dan berbicara lewat mata. Maklum, Sofia adalah pegawai baru yang baru saja masuk beberapa hari sebelum Sandra menikah.
Hm, bagaimana Sandra menjelaskan situasi pernikahannya ya?
Karena terlalu malas, Sandra hanya menunjukkan raut sok misterius. "Ada deh, pokoknya Mas Bagas ngelamar, kuterima, terus nikah deh." Jelasnya tidak niat. Membuat Sofia masih memajang raut kebingungan.
"Mbak...nggak punya utang kan sama Mas Bagas?"
"Buset." Baik Sandra maupun Wanda seketika tertawa terbahak-bahak mendengar asumsi konyol yang keluar dari belah bibir Sofia.
Memangnya ini dunia novel?
Nampaknya Sofia memang terlalu banyak membaca novel romansa picisan seperti itu. Tidak heran hal tersebut keluar dari lisannya.
"Jadi, menurutmu, aku dinikahin sama si om, karena ayahku punya utang gitu sama dia?" Sandra kembali melanjutkan tawanya yang tidak kunjung berhenti. Sedangkan kalimatnya itu malah diangguki oleh Sofia yang mana semakin membuat Sandra tertawa lepas.
"Gimana Mas Bagas bisa ngutangin orang lain kalau dia sendiri masih ada utang? Tuh cicilan rumahnya masih lima tahun lagi. Mana sempat ngutangin, keburu disita." Candanya yang kemudian membuat Sofia menggaruk lehernya. Asumsinya ternyata begitu konyol dan terkesan tidak realistis. Ah, sebaiknya setelah ini, Sofia harus lebih banyak membaca materi dosen daripada novel romantis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Propinquity Effect: Bittersweet
RomanceTidak pernah terbayang di kala usia Sandra Amirah uang menginjak 21 tahun bahwa ia akan menikah. Bagas Adiguna hanya seorang biasa, murid sang ayahanda, yang kebetulan sering datang; yang kebetulan menjadi kesayangan ayahnya; yang kebetulan menaruh...
