Hari Penuh Duka

13 0 0
                                        







***

"Gue gak bisa biarin! cewek Sialan itu harus menderita. Dia gak boleh bahagia !!!"

Renata menggenggam erat jemarinya, memukul berkali-kali pada meja rias dihadapannya. Tidak ! Kali ini tidak akan ! Hidupnya sudah hancur dan berantakan, dia tidak mungkin membiarkan Kanaya tersenyum bahagia diatas segala penderitaan yang dirinya dapatkan karena ulah Kanaya. Sedikit sulit tapi benar Ada nya jika kita hidup dikelilingi dengan kebencian. Setiap hembusan napas yang dikeluarkan akan berubah menjadi penderitaan.

Renata meraba area perutnya yang sedikit sudah terasa terdapat perubahan, dirinya bingung harus memulai dan mengakhirinya darimana. Seolah-olah setiap jalan keluar yang dia pilih adalah jalan yang sempit serta menyesakkan. Apakah perjalanan hidupnya di gariskan menderita seperti saat ini, apa tidak ada jalan indah menuju surga dunia yaitu Kebahagian.

Renata menghapus jejak airmatanya,"Halloo,, kita harus ketemu !"

****

"Abis kelulusan, kita holiday lagi gimana?" Tawar Farel setelah mereka sampai di Burjo. 

"Holiday aja yang dipikirin, Nilai ujian kamu tuh perbaikin Rel." omel Memei pada sang kekasih.

"Sayang,,, please deh sekali aja jangan bahas belajar."

"Terus kowe maunya bahas apa?"

"Cintaku padamu saja."

Pletak

Yap, lemparan maut sudah mendarat pada jidat manis milik Farel. Jangan tanya siapa pelakunya, sudah pasti si pemilik mata setenang air telaga.

"Gerald, asu kowe !"

"Bacot!!"

"Ucup kemarin kok gak diajak sih bang," ujar Ucup sambil merangkai rajutan sapu tangan, jangan diremehkan walaupun Ucup itu laki-laki. Tapi, dirinya sangat piawai dalam hal merajut.

"Hancur udah kalau lu ikut."

"Sensian, amat bang Farel kalau sama Ucup," pria itu melebarkan hidungnya meledek Farel.

"Gak sensi,, gak idup ! " Tukas Farel.

"Susah kalau ngomong sama yang tua,, emosi dikit darah naik." Sindir Ucup kembali menyuap satu sendok penuh Nasi uduk.


***

"Semuanya udah siap kan mbok?" Ucap Kanaya sambil menata beberapa menu makanan, diatas meja. Senyuman manis tidak luntur sedikitpun dari kedua sudut bibir mungil itu.

"Beres mba Naya," mbok Darmi mengacungkan kedua jempolnya.

Hari ini Damian dan Desy akan kembali dari perjalanan bisnis nya, Kanaya sudah sangat merindukan kedua orang tuanya. Semoga mereka segera kembali dengan selamat dan bahagia.

Namun, waktu terus bergulir. Tapi, dua orang yang sangat Kanaya rindukan tersebut belum menunjukkan tanda-tanda kehadirannya. Sedikit membuat Kanaya merasa khawatir tapi gadis manis itu ingat, jika ayah dan bunda akan kembali hari ini.

Tok..Tok..

Kanaya berlari membuka pintu utama, itu pasti kedua orang tuanya. Saat membuka pintu senyuman manisnya seketika luntur tergantikan dengan wajah penuh kebingungan, ada perlu apa sampai kediamannya didatangi oleh pihak kepolisian.

"Selamat malam,, dengan pihak keluarga bapak Damian?"

Kanaya menganggukkan kepalanya, sebagai jawaban. Jangan ditanya bagaimana detak jantungnya saat ini. Berbagai macam pikiran negatif  mulai berkecamuk didalam kepala gadis manis tersebut.

KANOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang