Malam yang sunyi dengan diiringi suara ombak kecil di kolam renang, Kim Junkyu duduk di tepian dengan sebelah tangan memeluk kedua kakinya yang sudah ditekuk, sementara tangannya yang lain memainkan air di dalam kolam.
Rambut hitam panjangnya ia biarkan tergerai di samping kiri, membuat sisi kanannya lebih terbuka sehingga paras cantiknya tampak semakin bersinar. Ditambah lagi pantulan dari rembulan di atas, membuat Junkyu terlihat sangat indah walaupun hanya mengenakan piyama.
"Kamu belum sepenuhnya mati. Hati kamu yang terbakar belum sepenuhnya menjadi abu, masih ada sedikit yang tersisa dari hatimu. Kalaupun sisa itu bukan untuk orang lain, setidaknya jadikan sisa hatimu itu untuk mencintai dirimu sendiri."
Perkataan Asahi kembali muncul, membuat pelukan Junkyu pada kakinya semakin erat.
"Mencintai diri sendiri? Apa yang harus kucintai dari diriku sendiri?" gumam Junkyu.
Sejenak Junkyu memejamkan mata, menghirup perlahan udara malam, lalu menghelanya tanpa tergesa-gesa.
"Anda belum tidur, agassi?" Pejaman mata Junkyu seketika terbuka ketika telinganya menangkap suara seseorang yang ia kenal.
Lantas Junkyu menoleh, menatap lurus ke arah Park Jeongwoo yang sudah berdiri beberapa meter dari tempatnya.
"Aku belum mengantuk, Jeongwoo. Kamu sendiri? kenapa belum tidur?" Junkyu balik bertanya tanpa berniat bangkit dari tempat duduknya.
"Saya juga belum mengantuk, baru saja habis minum kopi. Ngomong-ngomong anda sedang apa disini?" Jeongwoo kembali bertanya seraya berjalan menghampiri Junkyu.
Pengalaman menjadi pengawal pribadi Junkyu untuk beberapa tahun membuat Jeongwoo sudah tak begitu sungkan untuk mendekati Junkyu. Biarpun jantungnya selalu berdegub kencang, Jeongwoo tetap melawan rasa gugupnya itu agar tingkahnya tak membuat Junkyu merasa risih.
Setibanya di dekat Junkyu, Jeongwoo mendudukan dirinya juga di tepi kolam dengan posisi kaki menyilang. Jaraknya dan Junkyu terpaut 1 meter, sengaja Jeongwoo buat jarak itu karena dirinya masih sadar siapa dia dan siapa Kim Junkyu.
"Aku tidak sedang apa-apa. Hanya menikmati waktu santai sebelum besok menghadiri acara yang memancing rasa bosanku. Kamu tahu sendiri kan acara apa itu?" balas Junkyu, diakhiri dengan senyum hingga lesung pipinya muncul.
Jeongwoo ikut tersenyum melihat Junkyu tersenyum seperti itu. Tapi senyumnya tak bertahan lama setelah ia mengingat obrolannya dengan Junmyeon dan Minho.
Raut gelisah kini menghiasi wajah Jeongwoo. Jeongwoo dirundung dilema, dimana dia di hadapkan pilihan untuk bercerita pada Junkyu tentang bahaya di sekitarnya atau tidak ?
"Ada apa Jeongwoo, ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu? Wajahmu terlihat gelisah." Jeongwoo terlonjak kaget ketika mendengar ucapan Junkyu barusan.
Sontak Jeongwoo menoleh, mendapati Kim Junkyu yang masih dalam posisi menatap ke arahnya.
Haruskah ia jujur? Apa tidak apa-apa bila dirinya berterus terang pada Junkyu tentang bahaya di sekitarnya?
Junmyeon memang tidak memperingatinya untuk boleh atau tidak memberitahu Junkyu. Tapi apa boleh dirinya berterus terang pada Junkyu perihal obrolan mereka yang nyatanya menyangkut keselamatan Junkyu?
Persetan dengan izin, Jeongwoo tak sanggup menyimpannya sendirian. Mau tidak mau, cepat atau lambat, Junkyu harus mengetahui bagaimana kondisinya dan sekitarnya, serta bahaya yang mengintainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eagle and Marigold
Fanfiction[Cerita ini merupakan remake dari book THE EAGLE. Seluruh konflik sama, tetapi sebagian besar tokoh berubah) Eagle merupakan julukan untuk seorang pembunuh bayaran profesional bernama Watanabe Haruto. Terlahir dari keluarga bahagia, Haruto menjadi...
