11

465 53 3
                                        




"S—saya kembali menjadi pengawal Agassi?" Jeongwoo masih terkejut dengan penuturan Junmyeon beberapa saat yang lalu.

Di depan Jeongwoo, Junmyeon menganggukan kepalanya. Pria dewasa itu menepuk pundak Jeongwoo beberapa kali, lalu tersenyum.

"Saya rasa kamu lebih nyaman bekerja untuk Junkyu, karena itu saya kembalikan tugasmu yang lama. Saya harap kamu dan Park Haru bisa bekerjasama dengan baik untuk menjaga Junkyu, terlebih lagi kamu tahu sekarang bagaimana kondisinya, kan? Jangan buat saya menyesal ya, Park Jeongwoo," ucap Junmyeon.

Jeongwoo tersenyum lalu menganggukan kepalanya. Tentu ia tidak akan membuat Junmyeon menyesal karena ia sudah bertekad akan menjaga Junkyu dari bahaya apapun, sekalipun bahaya itu mengancam nyawanya.

Lain dengan Jeongwoo yang berbahagia, Haruto justru merasakan amarahnya meluap-luap karena keputusan Junmyeon.

Untuk apa Jeongwoo kembali bekerja pada Junkyu? Apa dirinya saja belum cukup?

Tidak! bukan itu. Haruto benci dengan kabar kembalinya Jeongwoo karena itu artinya pekerjaan yang ia jalani akan berjalan lebih sulit dari yang sudah direncanakan. Park Jeongwoo pasti akan menjadi penghalangnya untuk menghancurkan Junkyu, Junmyeon dan seluruh keluarganya.

Beruntunglah Haruto dapat menyembunyikan perasaan bencinya itu dengan senyuman tipis dan anggukan kepala ketika Junmyeon menatap ke arahnya.

"Park Haru, tolong perketat lagi pengamanan terhadap putriku. Bukan tidak mungkin Junkyu mendapatkan serangan saat kalian berada dalam perjalanan. Tetap hati-hati dan jaga fokus kalian," ujar Junmyeon.

"Saya mengerti, sajangnim," balas Haruto yang kemudian diikuti oleh Jeongwoo.

"Baiklah. Sekarang saya ingin kembali ke mansion. Kalian berdua tinggalah disini sampai Junkyu sadar dan bisa pulang," titah Junmyeon.

Jeongwoo dan Haruto mengangguk. Setelah itu, keduanya berjalan mengantar Junmyeon keluar dari ruangan rawat Junkyu, dimana disana sudah ada banyak pengawal Junmyeon yang sudah menunggu.

Setelah itu, Junmyeon beserta pengawalnya pun pergi, meninggalkan Haruto dan Jeongwoo yang masih berdiri di daun pintu ruang rawat Junkyu.

Sampai akhirnya, Jeongwoo jadi orang pertama yang bergerak. Pemuda Park itu melenggang masuk, tanpa menyadari bahwa Haruto kini menatapnya dengan tatapan dingin.

Berani kau menghambat pekerjaanku, aku tidak akan segan untuk membunuhmu Park Jeongwoo.




~oOo~





Dalam ruang yang sepi, Asahi duduk di atas ranjangnya. Sepasang mata tajamnya menatap keluar jendela, memandangi bulan yang bersinar terang bersama jutaan bintang yang menemaninya.

"Kamu baik-baik saja kan, Junkyu?" tanya Asahi lirih.

Siapapun yang mengenal Asahi tidak akan menyangka bahwa pemuda yang terkenal dingin dan minim ekspresi itu dapat terlihat sekhawatir sekarang. Dan satu-satunya orang yang bisa membuatnya seperti itu hanyalah Kim Junkyu, sosok sempurna yang diidamkan banyak kaum Adam di negeri ini.

Eagle and MarigoldTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang