Malam yang menggantikan sore telah tiba. Seperti malam-malam yang telah berlalu, Haruto akan menghabiskan waktu makan malamnya bersama keluarga Lee. Haruto bergabung dengan pasangan yang sudah berusia kepala lima yang telah berbaik hati padanya semenjak ia bekerja di peternakan ini.
"Terimakasih untuk makanannya, paman, bibi," ucap Haruto seraya menyatukan kedua tangannya.
Tn.Lee serta ny.Lee tersenyum melihat hidangan yang mereka beri pada Haruto selalu dihabiskan pria itu tanpa sisa. Mereka juga tidak pernah melihat Haruto menyisakan makanan meski hanya sebutir beras nasi.
"Haruto," panggil ny.Lee, membuat Haruto segera menatap ke arah wanita yang memanggilnya.
"Bibi dengar kamu tadi sore muntah-muntah lagi ya? Kamu sakit?" tanya ny.Lee.
"Ah itu..." Haruto mengukir senyum di wajahnya, "Saya baik-baik saja kok, bibi Lee," katanya.
"Benarkah? Apa tidak mau coba periksa saja ke klinik atau rumah sakit?" tanya bibi Lee lagi yang terlihat sangat mengkhawatirkan Haruto.
Wajar saja, bibi Lee sudah menganggap Haruto seperti putranya sendiri meskipun mereka baru mengenal selama hampir lima bulan. Haruto juga mengingatkan bibi Lee pada putranya yang sudah menetap di luar kota bersama keluarga kecilnya.
"Haruto-ah." Kali ini tn.Lee yang selalu Haruto panggil dengan sebutan paman memanggil namanya.
"Iya, paman?" balas Haruto.
"Besok bisa bantu antar susu ke gereja seperti biasa?" tanya paman Lee.
Haruto menganggukan kepalanya lalu berkata, "Bisa, paman. Sebelum jam makan siang akan kuantara susunya."
Mengantar susu ke gereja merupakan satu dari sekian banyak tugas yang pernah Haruto lakukan selama bekerja di peternakan ini. Seingat Haruto, susu-susu yang ia antar akan diolah oleh pengurus gereja yang nantinya susu-susu tersebut dibagikan untuk anak-anak setelah mereka selesai beribadah.
Berbicara tentang gereja, Haruto masih ingat dengan hari dimana untuk pertama kalinya ia masuk ke dalam rumah ibadah itu setelah kematian orangtuanya. Kalau Haruto tidak salah ingat hari itu adalah hari ke dua belas Haruto bekerja di peternakan ini.
Awalnya Haruto hanya ingin mengantar sampai pintu depan, tetapi tokoh agama rumah ibadah tersebut mempersilahkannya untuk masuk dan membantunya mengantar susu-susu yang Haruto bawa.
Ya, Haruto hanya masuk untuk membawakan susu. Bukan untuk melakukan upacara doa seperti yang dilakukan penduduk desa lainnya.
Bila ditanya mengapa Haruto tidak ingin mencoba. Maka jawabannya Haruto merasa dirinya belum pantas. Dosa-dosanya masih terlalu banyak sehingga dirinya terlalu kotor untuk melakukan doa di rumah ibadah yang dikenal suci dan bersih.
"Oh iya, paman, bibi, apa di desa ini ada toko yang menjual pakaian bayi?" tanya Haruto tiba-tiba, membuat sepasang suami-istri di depannya terkejut.
"Pakaian bayi? Hmm kalau di desa ini sepertinya tidak ada. Tapi kamu bisa pergi ke pusat pariwisata. Disana ada banyak toko yang menjual pakaian bayi," jawab ny.Lee.
"Kamu bisa pakai sepeda motor milik paman kalau kamu mau ke pusat pariwasata sana," timpal tn.Lee.
Haruto tersenyum mendengar jawaban mereka. Ucapan terimakasih pun Haruto katakan untuk jawaban yang ia terima.
Bila Haruto ingat-ingat lagi, seharusnya sekarang usia kandungan Junkyu sudah lima bulan lebih. Memang ini terlalu cepat untuk Haruto yang berniatan membeli pakaian untuk calon anaknya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eagle and Marigold
Fanfiction[Cerita ini merupakan remake dari book THE EAGLE. Seluruh konflik sama, tetapi sebagian besar tokoh berubah) Eagle merupakan julukan untuk seorang pembunuh bayaran profesional bernama Watanabe Haruto. Terlahir dari keluarga bahagia, Haruto menjadi...
