Sepasang kelopak mata yang beberapa saat lalu tertutup, perlahan terbuka, menampilkan iris mata indah tetapi bila dilihat lebih dalam menyimpan banyak kesedihan.
Hazel cerah itu bergerak, memandang sosok cantik di depannya yang kini tengah tersenyum.
"Bagaimana? sudah membaik?" tanya Mashiho.
Junkyu diam, menghabiskan waktu yang cukup banyak sampai akhirnya ia mengangguk.
"Junkyu," panggil Mashiho. "Saya tahu ini berat untuk kamu. Saya juga pasti akan sangat terluka setelah tahu bahwa orang yang selama ini baik kepada saya dan buat saya percaya pada dia ternyata adalah orang yang akan membunuh saya. Saya bisa merasakan duka-mu setelah kematian dia. Tapi percayalah Junkyu, Tuhan tidak serta merta meninggalkan kita bersedih sendirian disini. Pasti ada masa depan cerah yang sudah Tuhan berikan untukmu."
"Dokter Shiho." Mashiho mengangguk ketika Junkyu memanggilnya.
"Anda percaya dengan keberadaan Tuhan?" tanya Junkyu.
Senyum yang terpatri di wajah Mashiho pun seketika sirna.
"Dahulu saya percaya, tapi ternyata kenyataan menampar saya. Kalaupun memang benar Tuhan itu ada, bagi saya Tuhan itu jahat. Sangat jahat."
Mashiho menggelengkan kepala. "Junkyu, bukan seperti itu–"
"Omong kosong. Tidak ada masa depan cerah yang dijanjikan. Yang ada hanya rasa sakit dan luka yang membunuhku secara perlahan. Kenapa Tuhan tidak langsung membuatku mati saja? kenapa harus menyakiti-ku lebih dulu? Dia mempertemukanku dengan orang-orang baik, membuatku berharap tinggi lalu dijatuhkan dengan kenyataan tentang mereka semua. Tuhan sangat kejam." Junkyu mendesis, mengekspresikan kekecewaannya pada Mashiho hingga tanpa sadar ia mencengkram kuat pergelangan tangan dokter tersebut.
Selang beberapa detik, pegangan kuat itupun terlepas. Junkyu bawa dirinya berdiri, lalu memakai kembali tas selempang miliknya.
"Terimakasih untuk terapi hari ini, dokter," ucap Junkyu, kemudian membungkuk singkat, lalu pergi meninggalkan Mashiho yang menatap punggungnya dengan sorot mata sendu.
Saat tiba di luar, Junkyu disambut oleh Jeongwoo dan Haruto. Keduanya yang berjalan mendekat, memposisikan diri mereka di samping kiri dan kanan Junkyu.
"Antar aku ke kantor Hyunsuk. Aku ingin bertemu dia," titah Junkyu.
Tanpa menunggu balasan Jeongwoo dan Haruto, Junkyu berjalan pergi begitu saja. Sikapnya benar-benar berubah semenjak kematian Asahi. Senyum manis yang biasa terpatri di wajahnya ketika berbicara kini benar-benar menghilang.
Dinding yang teramat tinggi seperti telah dibangun oleh Junkyu, menjadi pambatas antara dirinya dan dua pengawalnya.
Sudah satu minggu semenjak kematian Asahi. Selama itu pula, Junkyu telah berubah, tak lagi ada sisi hangat di dirinya seperti sebelum kematian pria berdarah Jepang itu.
Bagi Jeongwoo, rasanya ia seperti menghadapi Junkyu yang dulu saat ia baru bekerja disini. Dimana saat itu Junkyu terluka oleh karena kematian kekasihnya yang juga bekerja sebagai pengawal pribadinya, Kazama Noa.
Sama. Junkyu yang sekarang sama seperti Junkyu yang pertama kali Jeongwoo temui. Hanya saja Junkyu yang saat ini benar-benar tak memberi celah untuknya menghibur. Junkyu selalu menghindar ketika mereka berada di mansion.
Sebaliknya dengan Jeongwoo yang merasakan sakit di hati, Haruto justru menganggap apa yang dilakukan Junkyu sekarang merupakan pilihan yang wajar. Junkyu yang telah dikecewakan berkali-kali orang yang dia kasihi, tentu memerlukan waktu untuk membangun kembali dirinya untuk melanjutkan hidup.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eagle and Marigold
Fanfic[Cerita ini merupakan remake dari book THE EAGLE. Seluruh konflik sama, tetapi sebagian besar tokoh berubah) Eagle merupakan julukan untuk seorang pembunuh bayaran profesional bernama Watanabe Haruto. Terlahir dari keluarga bahagia, Haruto menjadi...
