Setelah puas menikmati bintang dipermukaan langit malam, Seulgi bergegas turun tanpa memerhatikan sekitarnya.
Sejak menemukan apa yang memang menjadi niat awalnya naik ke atas sana, Seulgi hanya fokus melihat pemandangan yang tertangkap teleskopnya. Tidak lagi teralih ke rumah besar tersebut sampai saat dia memutuskan untuk turun.
Ketika sampai ia di lantai kamarnya, malam itu Seulgi berjumpa dengan penghuni kos lain namanya Joya. Sepertinya Joya baru saja pulang dari bekerja karena nampak jelas pakaian kerjanya masih terbalut ditubuh wanita itu.
"Baru pulang, Joy?" Tanya Seulgi memulai percakapan.
Joya tak langsung menjawab, ia sedikit menyungging senyum seraya tangannya merogoh kantung kecil disaku.
"Iya nih Kak Gi, kak gi abis ngapain? Kok bawa-bawa teleskop? Hayo mau ngintip siapa tuh??!" Jawab Joya tak lupa mengejek Seulgi.
"Hust! Sembarangan ya kamu! Ini tuh buat lihat bintang tau. Tadi aku dari rooftop, lihat bintang disana"
"Bercanda kak gi, eh iya kalau malam-malam tuh jangan ke rooftop" Kata Joya.
Mendengar itu alis Seulgi terangkat sebelah.
"Kenapa?" Tanyanya lagi.
Pikirnya kala itu langsung mengingat perkataan Bu Inah tadi pagi, apa jangan-jangan sosok itu di rooftop?
"Dingin kak gi, emang tadi kamu disana nggak kedinginan?" Jawab Joya. Tanpa sadar memberikan perasaan lega pada Seulgi.
"Oh itu, aku kira kenapa. Ya betul sih dingin juga di atas" Sahut Seulgi.
"Yaudah aku masuk duluan ya kak, mau tidur nih. Selamat malam kak gi"
"Okay selamat malam juga, Joya. Sleep well!"
Usai berpamitan Joya bergegas memasuki kamarnya. Melihat itu Seulgi pun juga bergegas kembali ke kamar. Ia sudah memutuskan akan segera beristirahat karena besok ia akan bekerja lagi. Tapi sebelum itu ada satu hal.
Ketika sampainya ia di dalam kamar, pikiran Seulgi kembali memikirkan hal yang seharusnya gak perlu.
Penghuni paling atas?
Jangan-jangan ya rooftop itu!
"Gila... Kalau sampai beneran disana berani juga gue"
Meski Seulgi bukan tipe yang percaya sama hal begituan, tapi dia juga manusia biasa yang pasti adalah rasa takut. Namun kini ketimbang perasaan takut, Seulgi justru merasa amat penasaran.
Susah untuk tidak merasa begitu padahal disisi lain pula ia ingin mengabaikan pikirannya tentang si cantik atau apalah dia. Mengingat Bu Inah selaku yang memulai rasa penasarannya itu juga tidak memberi detail yang jelas.
Bu Inah hanya bilang beberapa anak kos yang dulunya tinggal disini sempat menyinggung si cantik, tapi tidak jelas juga mereka menceritakannya. Maka dari itu Bu Inah tidak bisa memberinya sebuah petunjuk dan menghindari membahas lebih lanjut karena ia tidak mau nanti Seulgi malah jadi nggak betah tinggal disini karena takut.
"Ah yaudahlah tidur aja, gi. Repot banget mikirin begituan!!" Omelnya.
Benar, kemudian ia berusaha untuk memejamkan matanya sambil berharap ketika bangun esok ia melupakan pikiran yang menganggunya ini.
.
.
.
.
.
Sebenarnya Seulgi memiliki rencana bangun telat karena jadwal kerjanya baru dimulai pukul dua siang nanti, tetapi rencananya gagal ketika menjelang subuh ia terbangun. Ia merasa haus teramat sangat sehingga akhirnya ia bangun dari kasur, mendekat kearah mejanya untuk meneguk sebuah botol berisi air yang memang biasa ia siapkan.
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fanfiction"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
