33. Mencoba Berani

800 151 18
                                        

Dua hari terlewati dengan Seulgi yang hanya berdiam diri di kamar kosnya seraya memulihkan diri, kini Seulgi sudah dapat beraktivitas lagi. Tidak ada demam yang sebelumnya melanda akibat rasa sakit ditubuh yang pada akhirnya muncul.

Seulgi sudah lebih sehat, dan tak kalah pula Irene yang perlahan ikut menunjukkan perkembangan yang dia punya.

Banyaknya waktu yang mereka berdua miliki menjadikan Seulgi jua bisa mengenal Irene lebih banyak, tatanan bahasa mulanya cukup sulit diucap pelan-pelan sudah dapat didengar dengan mudah.

Kosakata yang digunakan Irene untuk berbicara semakin bertambah, tubuhnya jua nampak lebih sehat dan segar meski kadangkala gemetar datang melanda Si Cantik rupa.

Hari ini Seulgi telah menyiapkan sesuatu, dia ingin pergi keluar tentunya mengajak Irene untuk pertama kali dapat menghirup dunia luar tanpa perlu ada ketakutan meliputi. Sudah siap ia dengan celana jeans yang dipadupadankan dengan kemeja kebanggaan ia gunakan.

Sementara itu Irene pun sudah siap pula dengan celana jeans dibalut kaos panjang tak lupa jaket yang Seulgi siapkan jaga-jaga supaya Irene tidak kedinginan.

"Semua sudah siap, mulai hari ini kamu mulai hidup kamu yang baru ya"

Irene mengulas senyum terbaik ia punya.

Tak kalah semangat untuk pertama kalinya ia dapat keluar dari kamar Seulgi yang selama ini memberinya kenyamanan.

"Seulgi .. " panggil Irene seraya ingin mengulurkan tangannya, melihat itu Seulgi membalasnya dengan cepat.

Genggaman tangan yang kemudian bertaut, Irene sangat nyaman bila telapak tangan mungilnya digenggam erat oleh Seulgi.

"Ayo kita berangkat sekarang!" Dengan semangat Seulgi memulai langkahnya lebih dulu.

Irene mengikuti Seulgi, pertama kalinya ia kembali melangkah keluar setelah beberapa hari berada disana.

Jujur Irene merasa gugup tapi disisi lain dia tidak sabar untuk dapat berada di luar, mengingat telah beberapa waktu ia lalui dalam hening, gelap, dan penuh kesakitan. Kini apa yang dulu melandanya lenyap.

Bayangan kembali bebas yang dulu mungkin susah digapai menjadi lebih mudah ketika Seulgi nyatanya datang. Irene bersyukur bahwa akhirnya masa ini ada.

Mengesampingkan tatap yang ditampilkan beberapa orang yang bertemu Seulgi dan Irene. Si cantik paras rupa pada awalnya takut dan menjadi gugup, tetapi Seulgi meyakinkan bahwa semua itu tak apa. Tatapan itu hanyalah tatapan nan seakan tak percaya dengan apa yang sudah terjadi, berita bahwa sebenarnya rumah yang diketahui banyak orang kosong ternyata menjadi tempat penyekapan Irene selaku korban sudah menyebar luas.

Banyak warga sengaja menunggu di depan kos Seulgi untuk memperjelas berita tersebar itu, Anak Pak Kusnadi yang selama ini hilang ternyata masih ada. Naasnya tersembunyi karena disekap di rumahnya sendiri.

"Bapak-Ibu permisi ya, saya mau ngeluarin motor nih" Seru Seulgi berusaha membelah para warga sekitar itu.

"Jadi ini anaknya Pak Kusnadi"

"Yaampun cantik ya, tapi kasian sekali nasibnya"

"Nggak nyangka ternyata masih hidup"

Irene yang mendengar ungkapan terlontar dari para warga seketika melihat dirinya hanya bisa menunduk, dikerubungi serta mendapat perkataan yang mungkin tidak ingin dia dengar membuatnya sedikit merasa tidak nyaman.

"Bu-Pak maaf banget ya, kami mau pergi dulu" kata Seulgi seraya menarik pelan Irene.

Si Cantiknya ia arahkan untuk menaiki motor scoopy miliknya, tak lupa jua memakaikan jaket dan helm supaya Irene lebih aman kala diajak berkendara olehnya.

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang