12. Pencarian

749 127 19
                                        

Menunggu sejatinya membosankan tapi untuk sekarang hanya itu yang bisa Seulgi lakukan seraya pagi tiba dan ia bisa keluar dari ruangan ini.

Sambil menunggu sebenarnya Seulgi sudah mengelilingi ruangan yang tidak begitu luas itu, hanya sebuah lemari disudut ruang dan furniture-furniture tidak terpakai. Tidak ada suatu hal yang berarti yang membawa Seulgi mengetahui ada apa dibalik misterinya rumah ini.

Pikirnya bertanya-tanya kala dirinya terduduk dengan tangan memeluk lututnya,

'nanti bagaimana?'

'mencari si cantik? jika wanita itu orang jahat gimana? kalau gue mendadak diculik, ya mati muda dong ini'

Gak bohong, semua pikiran buruk ada saja terlewat dibenak Seulgi. Tetap saja dibalik kelakuan nekadnya ketakutan itu pasti ada, perasaan sedikit menyesal akan apa yang tengah ia lakukan juga muncul sekarang meski ia masih bisa merasakan membara rasa keingintahuannya.

Tapi sepanjang ia berada didalam sini, Seulgi tidak merasakan sesuatu. Di luar ruangan hening sekali tidak ada suara terdengar, bahkan tidak ada cahaya pula menandakan memang pria misterius itu tidak ada disini.

'Mungkin dia diatas kali ya?'

Memikirkan hal selanjutnya Seulgi jadi khawatir apa sedang terjadi sesuatu menimpa diri Si cantik.

"Siapa sih pria itu, kenal ga dia sama Si cantik? Kalau pun iya, mereka tuh siapa di rumah kosong berdua gini!!" celoteh Seulgi.

Semua pertanyaan lagi-lagi memenuhi otak Seulgi, sejauh ini mengingat kebelakang semenjak bertemunya dia dengan si cantik kayaknya hidupnya langsung berubah.

Kapan Seulgi gak berhenti mikirin wanita misterius dibalik jendela yang naasnya cantik itu?

Rasanya tiap hari berjalan harinya cuma dipenuhi oleh Si Cantik, entah siapa dia tapi hadirnya membuat Seulgi bertingkah sejauh ini.

Manusia yang hidupnya monoton pergi jauh dari Ibukota supaya bisa merasakan hidup, dan sekarang bukan hanya hidup lagi yang ia rasakan.

Semua campur aduk, modal nekad, keingintahuan tinggi.

Seulgi bisa jamin siapapun nantinya Si cantik, wanita itu mampu membuat kisah hidup Seulgi berbeda dari biasanya.

.
.
.

Jam di ponsel Seulgi sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, dalam hati Seulgi percaya bawa ini saat yang tepat untuk dia keluar dari tempatnya bersembunyi ini.

Sejauh yang ia kira, pria itu tidak akan pernah ada di jam segini. Waktu dimana aktivitas warga sudah banyak terjadi, maka hadirnya dia dengan sedan warna mencolok pasti menimbulkan atensi warga.

Berkat pemikiran tersebut Seulgi kemudian bersiap, meski sedikit ngantuk dan lapar melanda mau nggak mau Seulgi memulai langkahnya sebab mau sampai kapan dia akan berdiam diri disitu bukan?

Kenop pintu perlahan ia buka meminimalisir adanya bunyi terdengar.

Kalau ditanya gimana perasaan Seulgi sekarang, ya kalian pikir sendiri aja. Di rumah kosong yang gak tau bakal ada apaan, apa ga dag dig dug ser Seulgi dibuatnya??

Tapi tenang, meski keliatan modal nekad Seulgi ini tipe orang yang bakal mikir matang juga kemudian. Dia udah ngirim pesan sos kepada teman seperjuangannya, Wendy. Setidaknya dia punya bala bantuan, walau setelahnya dia harus denger ceramahan Wendy tanpa ujungnya itu.

Oke, Keadaan sekitar sesuai dengan apa yang ada dibenak Seulgi, samar-samar cahaya matahari masuk melalui jendela membuat rumah yang semula dalam kondisi gelap sedikit memiliki penerangan.

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang