22. Nama Indahnya

1K 153 8
                                        

Pagi itu adalah hari pertamanya berada di tempat berbeda bukan lagi dalam ruangan nan pengap, kotor, serta minim cahaya menemani. Ruangan yang cukup lama ia tinggali, berisikan semua kenangan buruk yang harusnya jangan pernah dialami.

Tapi kala itu semua terjadi begitu saja, nasib buruk datang dan diapun yakin siapapun itu pasti tidak akan bisa menerimanya. Bahkan dia juga begitu, tidak akan pernah menerima apa yang sudah terjadi, rasa sakit tak terpungkiri selalu datang menyiksanya, melemahkan jiwanya bahkan raganya.

Satu persatu kemampuan yang dia punya lenyap, bayangan siksa yang didapati membuat trauma mendalam ia miliki.

Akalnya hilang sesaat sebab tidak ada siapapun membantunya.

Namun kali ini pertolongan datang tanpa diduga olehnya, padahal apa yang ia lakukan hanya berdiri seperti biasa memandang apa yang bisa dipandang dari balik ruangan yang memenjara hidupnya.

Sekarang semua keadaan berbalik, sudah lama ia rasa bisa beristirahat se-tenang ini.

Bangun tidur dengan perasaan lebih tenang sekaligus nyaman, tidak ada rasa ketakutan menghampiri, tidak ada rasa sakit menerpa diri.

Semua perlahan mulai ia cerna.

Hadirnya gadis bermata monolid yang begitu gigih untuknya menjadi awalan baru.

Sebuah awalan dimana ia kembali menjadi manusia lagi setelah sekian lama ia diperlakukan layaknya bukan manusia.

Seulgi dapat memanusiakannya kembali.

Membawanya pergi dari nasib buruk, menjaganya tanpa pamrih, bahkan sukarela mengembalikan semua ingatannya tentang menjalani hidup.

Sekecil mengajarinya untuk dapat makan serta mandi sendiri, dimana kemampuan itu hilang bersamaan dengan ia terpenjara disana.

Kala itu ia berharap mati adalah takdirnya, tapi entah mengapa harapnya justru tidak pernah terkabul melainkan saat ini seseorang yang entah siapa dapat membawanya berada disini, di tempat yang sekiranya nyaman untuk menjaga ia.

Dia mengingat kembali apa yang diajarkan gadis bernama Seulgi itu, bahkan sebelum gadis itu pergi pamit untuk bekerja, Seulgi lagi-lagi berusaha supaya dia pada akhirnya mau melakukan semua hal sendiri selama ditinggal oleh Seulgi.

Jujur bukan dia tak mau karena pada awalnya memang dia tak mampu.

Butuh dorongan lebih untuk membuat dia bisa melakukan semua hal-hal kecil tersebut lagi dan berkat Seulgi semua itu bisa terjadi kini.

Dia, meski tertatih menahan berat tubuhnya yang tidak seberapa itu berhasil menuntaskan mandi paginya sendiri tanpa dibantu siapapun. Hal yang tidak mungkin dia lakukan saat masih disana.

Dia pula, mau menyentuh makanan yang sudah disiapkan Seulgi tanpa bantuan serta tanpa paksaan dari orang lain.

Menjadikan satu persatu hal kecil itu membuatnya sedikit lebih hidup, perasaan yang telah lama ingin dia rasa kembali namun pernah terpikir tidak akan mungkin terjadi lagi.

.
.
.

Selama ditinggal oleh Seulgi tidak banyak yang dilakukan oleh dia selain diam di kamar milik gadis bermata monolid itu.

Menunggu sang empunya datang, itulah sekiranya yang bisa ia lakukan.

Sebelum itu Seulgi sudah memberitahu untuk setidaknya lakukan sebuah aktivitas supaya wanita itu tidak dilanda bosan, namun sepertinya bosan sudah menjadi teman hidupnya.

Selalu sendiri untuk waktu yang lama justru menghadirkan perasaan berbeda ketika bersama Seulgi, untuk pertama kalinya walau baru sehari mereka bersama rasanya dia ingin terus berdua dengan gadis itu.

Getar hangat yang tidak pernah didapat dahulu, semua ia dapatkan dari Seulgi beserta seluruh perlakuan manis yang diberi padanya.

Jika sudah begini bagaimana mungkin dia tidak merasa luluh disela-sela dirinya masih mencerna semua hal yang terjadi bukan? Setidaknya sekarang ia benar-benar tau bahwa ada seseorang yang berusaha memberi hal terbaik demi mengembalikan hidupnya yang hilang.

Mungkin setelah gadis itu nanti kembali, dia akan berusaha membuka dirinya sebagai imbalan karena sepertinya bukan hanya ia yang dicuri dari rumah kosong tersebut melainkan jiwa raganya pun juga ikut dicuri oleh seseorang bernama Seulgi.

.
.
.

Usai dengan kegiatan mandinya, mata monolid gadis itu menangkap hal lucu ketika pandangannya beradu tatap dengan wanita yang tengah terduduk di kursi gaming miliknya.

Seulgi memberi senyumannya seraya berjalan mendekati dia yang biasa dipanggilnya Si Cantik.

Wanita berpiyama kebesaran milik Seulgi, terbesit pikiran untuk sepertinya Seulgi harus berbelanja kebutuhan untuk Si Cantik selama tinggal bersamanya agar tidak ada lagi piyama kebesaran meski sebenarnya Si Cantiknya sangat lucu dengan tampilan itu.

"Hai lagi! Aku sudah selesai mandi nih. Sekarang sama wanginya kayak kamu" ujar Seulgi tak lupa sungging senyumnya melebar.

Wanita itu lagi-lagi tidak menjawab, Seperti sudah biasa Seulgi pun memaklumi. Tangannya malah bergerilya menuju spot favorite yang beberapa waktu ini sering ia lakukan, mengusap surai pekat milik Si Cantik. Ia menyukai sekali hal ini tanpa Seulgi sendiri tau bahwa disisi lain ada perasaan yang sama hadir kala adegan ini tercipta.

"Tadi sambil nunggu aku kamu ngapain?—" mata Seulgi melirik sejenak pada buku yang terbuka di atas meja.

"Kamu baca buku? bisa baca buku?" tanya Seulgi.

Sebenarnya bukan hal itu yang harusnya dia dapati tapi karena Seulgi belum menyadarinya maka pertanyaan itu yang malah terucap dari bibirnya.

"Gak salah ya berarti aku kasih kamu beberapa buku, ternyata kamu ter— Tunggu!" kalimat Seulgi terjeda.

Matanya menangkap hal janggal pada bagian kosong diantara kata-perkata yang ada di dalam buku tersebut.

"Siapa yang nulis ini?" Seulgi heran.

Mendapati apa yang harusnya memang tidak ada disana sebab itu salah satu koleksi buku terbaru miliknya, arah pandang Seulgi menemukan hal lain tidak jauh dari buku itu ada pena yang semulanya memang tidak ada disitu.

"Kamu? .. " Seulgi menoleh menatap kembali Si Cantik yang ikut melihat kearahnya.

"Ini kamu yang tulis?—" tunjuk Seulgi pada sebuah kata yang mendadak muncul itu.

"IRENE, siapa? apa itu kamu? Kamu Irene?"

Meski wanita itu masih diam tidak menjawab semua perkataan Seulgi, namun kali ini hal berbeda dapat Seulgi lihat secara langsung.

Sebuah pemandangan langka!

Memang bukan jawaban berupa kata yang diberi melainkan anggukan kepala seakan membenarkan semua pertanyaan yang Seulgi lontarkan.

"Kamu Irene? Iya kan, jadi nama kamu Irene?" tanya Seulgi sekali lagi berusaha memastikan.

Benar saja, anggukan kepala dilakukan lagi olehnya.

Senyum Seulgi makin melebar dibuatnya, pada akhirnya dia tau harus memanggil Si Cantik siapa

"Irene, nama yang bagus! Sesuai untuk kamu yang sama cantiknya dengan nama itu" ucap Seulgi gembira.

Sementara itu wanita disebrang Seulgi hanya bisa menatap Seulgi, memberi tatapan lebih hangat bukan lagi tatapan kosong layaknya biasa ia tampilkan.

"Mulai sekarang aku sudah tau nama kamu. Irene, ini suatu permulaan yang bagus selanjutnya jangan sungkan perdengarkan suaramu lagi ya. Aku ingin sekali dengar bagaimana kamu dan hidupmu"

.
.
.
.
.
.

To Be Continue ...

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang