5. Jawaban

1K 123 3
                                        

Usai makanannya habis Seulgi terduduk sambil bersandar pada dinding kamarnya sembari memikirkan jawaban Bu Asri mengenai pertanyaan yang sempat ia lontarkan.

"Rumah itu milik mendiang Pak Kusnadi dan Bu Arani, mereka sudah meninggal cukup lama dan rumahnya memang kosong. Cuma yang Ibu tau, rumah itu sering didatangi sama anaknya mendiang kalau gak salah namanya Araka. Datang sesekali aja sambil mengecek keadaan rumah karena ya anak itu tinggal di kota"

Demikian jawaban dari Bu Asri, sedikit mengurangi rasa penasaran milik Seulgi. Namun pertanyaan yang Seulgi berikan nggak sampai disitu aja.

Seulgi juga bertanya mengenai mobil sedan tersebut dan apakah Bu Asri pernah melihat langsung anak mendiang yang bernama Araka itu.

"Kalau mobil yang nak Seulgi maksud Ibu kurang tau ya, lagipula Araka juga gak terlalu banyak interaksi sama warga sekitar, meskipun Ibu pernah lihat dia tapi ya gak berani negur. Rada angkuh anaknya tidak seperti mendiang orangtuanya yang baik. Toh kalau anak itu kesini ndak pernah lama"

Kurang lebih seperti itu informasi yang Bu Asri bagi padanya.

Setidaknya buat sekarang Seulgi dapat menarik kesimpulan bahwa si pemilik sedan seri lama itu merupakan Araka, mendiang anak dari Pak Kusnadi dan Bu Arani selaku pemilik rumah besar. Fakta lainnya memang Araka hanya datang sesekali untuk menengok rumah orangtuanya, masuk akal jika tidak pernah ada aktivitas terlihat di rumah tersebut.

Okay, untuknya satu masalah usai.

Lalu bagaimana masalah lainnya?

Objek dari balik teleskop yang kemudian membuatnya lari terbirit-birit sampai lupa membawa benda kesayangannya itu.

Apa mungkin si cantik bergaun putih yang dimaksud memang bukan penghuni beda dunia di kos-nya?

Jika memang benar, mungkinkah para penghuni kos yang dulu pernah melihatnya mengalami hal serupa dengan apa yang ia lihat pagi tadi.

Yaitu melihat sosok si cantik berdiri menghadap jendela, ruang yang semula Seulgi kira adalah loteng dari rumah besar itu.

Kala dipikir ulang apabila cerita tentang si cantik yang merupakan penghuni paling atas ini masih di bangunan kos miliknya, harusnya sudah banyak kabar burung yang ia dengar.

Masalahnya tidak pernah ada cerita atau kabar yang memberitau pengalaman anak-anak lain melihat si cantik. Kalau hal ini disangkutpautkan dengan apa yang dilihatnya maka boleh jadi tidak ada kabar apapun karena memang kost'annya bukan tempat si cantik tinggal, melainkan rumah besar itu tepat di ruang bercahaya minim adalah tempat dimana si cantik berada.

Maka ketika disimpulkan cerita tentang si cantik bisa ada karena memang penghuni sebelumnya melihat sosok itu dari rooftop, sedangkan si cantik sendiri jauh berada disebrangnya bukan ada ditempat yang sama dengannya.

"Okay.. kalaupun 'dia' tinggal di rumah itu, wajar. Rumahnya kosong bertahun-tahun dan gak ada aktivitas disana" Kata Seulgi.

Ia pernah mendengar dari seseorang kalau tempat yang jelas ada aktivitasnya saja bisa ditinggali sama sosok yang gak kasat mata, lalu bagaimana tempat yang jelas gak berpenghuni dan nggak ada aktivitas apapun disana?

Bisa aja kan udah jadi sarang mereka tinggal?

"Cukup sampai disini aja rasa penasaran lu gi, si cantik itu emang beneran ada dan lu udah liat dia. Jangan sampe deh ketemu dia lagi!"

.
.
.
.

Seulgi sedang main ke kamar kos milik Joya yang kebetulan juga telah ada Wendy disana. Mereka emang janjian mau makan rujak bareng mumpung ada waktu bisa kumpul.

Kalau diingat-ingat kembali mereka cukup sering melakukan quality time bersama kayak sekarang, mulai dari pergi belanja bareng, main bareng, sampai saling menginap di kamar kos salah satunya.

Mereka jadi cukup dekat satu sama lain dan gak jarang berbagi apapun termasuk hal yang rasanya pribadi bagi mereka. Begitupula untuk Seulgi.

Seulgi yang tadinya punya kepribadian yang tertutup jadi lebih bisa terbuka kepada Joya dan Wendy. Hal yang tentunya gak bisa dia lakukan saat tinggal di Ibukota.

Adanya Joya dan Wendy seperti melengkapi bagian dari diri Seulgi yang hilang, itu kenapa ketika Seulgi ada disini dia merasa jauh lebih hidup dan tidak berencana untuk menukar lagi kehidupannya kayak dahulu.

"Teleskop kak gi ketinggalan yah?" Joya membuka suara, Wendy dan Seulgi yang tadinya lagi rebutan mangga jadi menoleh.

"Iya, Joy. Langsung dianterin balik sama nih orang" Jawab Seulgi seraya menunjuk Wendy.

"Ceroboh banget dia Joy, untung aja yang nemuin aku"

"Tau nih kak gi, jangan ceroboh gitu dong. Lagian kenapa bisa ketinggalan sih? Perasaan aku lihat kak gi turun dari rooftop sambil bawa teleskopnya"

Benar, itu kenapa Joya bisa tau teleskop kepunyaan Seulgi ketika Wendy bertanya di grup chat. Sebab ketika mereka berdua Joya dan Seulgi berjumpa, Joya lihat dengan jelas Seulgi yang lagi bopong teleskop menuju kamar  miliknya.

"Pas kita ketemu aku emang udah turun sambil bawa teleskop, cuma gak berselang lama aku naik lagi ke rooftop. Masih belum puas lihat bintang, terus ya belum tidur juga nah disitu teleskop ku ketinggalan" Jelas Seulgi 

"Kok lu berani banget malem-malem ke rooftop?" Celetuk Wendy.

"Emang kaga boleh?"

"Bukan gak boleh, mostly anak-anak sini kalau udah lewat dari jam 9 nggak main ke rooftop. Selain dingin yah ngeri aja sih soalnya kalau udah malem banget minim penerangan disana"

Rooftopnya memang tidak terang tapi bagi Seulgi yang saat itu nekat lihat bintang disana ya cukup aja sih, mana dia rasa lebih minim penerangan jendela tempat si cantik menampakkan diri.

"Ya gak terlalu masalah sih, lagian gue juga disana cuma bentar. Btw, gue boleh nanya gak ke kalian?"

"Mau nanya apa kak gi?"

Saat itu Seulgi gak langsung mengutarakan, dia terdiam sejenak sambil berpikir. Kayaknya emang gak semudah itu untuk Seulgi lupain rasa penasarannya.

"Selama kalian tinggal disini pernah denger hal-hal mistis gak?" Ujar Seulgi.

Kedua sahabatnya mendengar lontaran pertanyaan dari Seulgi seketika menahan tawanya.

"Gue kira orang Ibukota kaga percaya hal-hal mistis, ternyata percaya juga lu gi?!" Sahut Wendy.

"Nanya doang elah .."

"Gini aku aja yang jawab, selama aku dan Kak Wendy tinggal disini belum pernah denger sih hal-hal mistis yang mungkin berkaitan sama kos kita. Toh kalau hal itu ada dan gak menganggu kita sama sekali ya gapapa, iya nggak Kak Wen?"

Joya melirik Wendy yang langsung mengiyakan jawabannya.

"Lu kira gue awet tinggal disini karena apa? Salah satunya adalah disini damai dan tentram, nggak pernah gue merasa terganggu sama hal yang bisa dikatakan mistis. Ini pendapat gue"

"Aku juga ngerasa kayak kak wen, disini nyaman bgt malah. Kak gi sendiri gimana? Apa berbanding terbalik sama apa yang kita rasain?"

Sontak saja Seulgi menggelengkan kepalanya.

"Aku juga merasa nyaman kok disini Joya, cuma nanya aja sih. Nggak yang gimana-gimana"

"Nah ya udah, mending hal kayak gini gak usah dibahas lagi deh. Takutnya kalau kita bahas yang tadinya nggak ganggu malah jadi gangguin. Kan ngeri ... "

"Bener tuh Joy, mending bahas yang lain. Btw weekend nanti bakalan ada pekan raya gitu di balai desa gimana kalau kita kesana?"

Dalam sekejap bahasan pun berubah, Joya langsung saja menyanggupi ajakan dari Wendy yang diikuti pula oleh Seulgi.

Mungkin memang benar, gak ada lagi yang perlu dipermasalahkan. Lagipula after dari kejadian sebelumnya Seulgi pun baik-baik saja.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

To be continue ...

malam gengs, selamat membaca yaa 🧡



IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang