Mobil yang dikendarai Seulgi membelah ruas jalanan yang kali ini nampak lebih senggang dari biasanya. Sepertinya memang benar mengenai ucapan ia bahwa semesta sedang mendukung apa yang tengah ia lakukan.
Sambil menoleh kesamping Seulgi mendapati wanita Cantik tengah sibuk merajut menggunakan satu set alat rajut yang dibelinya seminggu lalu. Hadiah untuk Irene supaya terhindar dari rasa bosan hanya berdiam diri di rumah dan keluar ketika Seulgi atau Wendy dan Joya tidak sibuk pada aktivitasnya.
"Kamu sangat menikmati kegiatan itu, apa kamu suka?" perkataan Seulgi memecah situasi hening melanda.
Irene menoleh sembari tersenyum.
"Suka sekali, Irene jadi memiliki kegiatan lain" jawabnya.
"Maaf ya kalau beberapa kali aku sibuk dengan kegiatanku"
Tangan Seulgi sebelah terulur, mengusap pelan pucuk kepala Irene.
"Gapapa Seulgi, kamu kan sudah bekerja buat kita. Bahkan disela sibuknya kamu, kamu juga menyempatkan waktu untuk menemani aku terapi. Aku yang heran bagaimana bisa kamu membagi waktu kamu"
"Tidak perlu heran dengan itu, untuk kamu semua jadi bisa"
"Aku tidak akan protes karena Seulgi selalu memberi yang terbaik untuk Irene"
"Terimakasih sudah mengerti ya"
Masih betah tangan tersebut mengusap sayang kepala Irene.
"Terimakasih juga sudah berjuang untuk Irene" katanya seraya tersenyum.
Sebuah hal yang Seulgi bisa tangkap bahwa hanya seutas senyum dari Irene. Seulgi yakin kalau apa yang ia lakukan kini adalah keputusan baik.
Kembali teringat dia kejadian malam kemarin ketika ia menemui Wendy untuk meminjam mobilnya ini.
- flashback on -
Wendy menatap tak percaya Seulgi, bahkan bola matanya nyaris keluar saking ia benar-benar tidak percaya dengan ucapan Seulgi baru saja.
"Lo yang bener aja gi! maksud gue serius gak sih ini yang lo bilang?"
"Lah emangnya gue keliatan banget bercandanya ya? nggak bisa baca kah lo muka gue se-serius ini!"
"Bukan begitu gi, ya gue kaget aja sama hal barusan lo sampein. Kayak ini beneran kah Seulgi yang gue kenal ngomong begini" Wendy masih tidak percaya.
"Emang gue sebelumnya gimana sih sampe bisa lo se-nggak percaya itu?"
Seulgi pun heran. Dia baru saja berbicara sejujurnya dan menurutnya itu adalah keyakinan yang ia percayai kini, anehnya kenapa bisa apa yang baru saja ia lontarkan justru malah memancing reaksi kaget dan tak percaya dari seorang Wendy. Sahabatnya sendiri.
"Sebelum ada Irene, gue tau lo kayak gimana gi. Baru pindah kesini dari Ibukota, lo kayak gak punya semangat hidup. Memang lo udah berusaha berbaur sama orang-orang disekitar kos Bu Ajum, tapi gi gue tau banget apa yang lo rasain. Berbaur bukan berarti lo baik-baik aja, lo mencoba untuk itu namun nyatanya kemauan hidup lo ga ikut mengiringi — "
"Gue tau pilihan berat buat memutuskan menetap disini dan meninggalkan semua karir bahkan masa depan baik yang udah lu rangkai di Ibukota. Makanya kenapa bisa gue bilang kemauan hidup lo ga ikut mengiringi karena emang tadinya lo udah ga punya gi"
"Dan sekarang gue bisa punya semangat hidup karena dia Wen!" sanggah Seulgi.
Wendy menghela nafasnya, semua ini beneran kerasa mendadak buat ia cerna.
"Paham banget gue gi, cuma ini terlalu mendadak aja buat gue cerna. Hidup itu lucu ya gi, waktu yang cuma berjarak sebentar aja memiliki banyak kejadian yang ternyata udah kita lalui"
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fanfiction"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
