Bagi Seulgi sebenarnya diri dia bukanlah orang yang mudah sakit, beberapa waktu lalu kenapa ia bisa jatuh sakit juga suatu hal yang mengejutkan ia. Mungkin kala itu disebabkan dengan banyak menerima kejadian dalam satu waktu yang sulit untuk dicerna bagai pemicu.
Makanya jika harus dihadapkan oleh Irene, seseorang yang memiliki beragam rasa sakit disimpan agaknya Seulgi juga harus ekstra mengeluarkan tenaga seperti sekarang, Setelah menghabiskan waktu bercengkrama dengan Joy di Pantry Kos, Seulgi memilih kembali ke kamarnya.
Mendapati lagi Wanita cantik masih terbaring di tempat tidurnya namun sedikit berbeda ia dapat karena sekarang wanita itu sudah terbangun tidak lagi memejamkan mata seperti sebelumnya ia tinggal.
"Irene! sudah bangun?" tanya Seulgi seraya mendekat.
Ujung kasur menyentuh lututnya, Seulgi mendaratkan bokongnya empuk dipinggir kasur, mengulurkan tangannya mengusap rambut hitam sambil matanya tetap menatap apa yang indah berada di depannya.
"Apa yang sakit?" Seulgi berusaha memastikan.
Wanita yang ditanya mengubah ekspresinya, sudut bibirnya turun matanya juga mulai berair.
"Ini, sakit" jawab Irene, tangannya bergerak menyentuh kepalanya.
"Kepalanya sakit? pusing?" tanya Seulgi lagi dengan jawaban langsung diberi Irene berupa anggukan kecil.
Seulgi mengerti, maka kemudian ia mulai bergerak sedikit menggeser Irene pada celah kosong disampingnya. Memberi ruang pada tubuh Seulgi yang akan berbaring tepat disebelah Irene, di tempat semula wanita pucat itu berbaring.
Ketika berbaring Seulgi dapat merasakan bekas hangat pada tempat Irene semula berbaring, wanita itu benar-benar diserang demam padahal sebelumnya dia baik-baik saja.
Mulanya Seulgi sempat bingung mengenai kondisi Irene namun setelah ber-konsultasi dengan Wendy yang serba tau itu, temannya sedikit memberikan ketenangan pasal bisa saja tubuh Irene memang perlu beradaptasi pada apa yang baru saja ia lalui. Entah sudah berapa lama terkurung disana lalu mendadak berada disuatu tempat berbeda dengan aktivitas yang pelan-pelan Irene bisa lakukan sepertinya memang wajar jika demam melanda.
"Sini kamunya" ucap Seulgi seraya mendekatkan dirinya pula.
Jarak bagai pemisah kini tak ada lagi.
Tangan Seulgi terulur sengaja ia jadikan bantalan untuk menyanggah kepala Irene, sembari tak lupa memberi usapan pelan berharap apa yang sakit kemudian hilang.
"Tidur lagi aja ya, ini sambil aku pijit kepalanya supaya enakan" titah Seulgi.
Sorot matanya menatap sayup mata Irene berusaha terpejam, wanita yang semula sudah pucat makin terlihat pucat saja. Jujur Seulgi sendiri tidak tega.
"Terasa nyaman gak kamunya?" tanya Seulgi lagi.
Irene memberikan anggukan kecil, "Nya-man Seu-lgi" jawabnya parau.
Membuat jarak lagi tak bercela, Irene menyampingkan dirinya menghadap Seulgi mencuri nyaman pada bahu gadis bermata sipit itu.
Kemudian pada Seulgi ia menyambut Irene, jua memiringkan tubuhnya menghadap Irene dengan lengannya merengkuh pinggang ramping posesif. Harapnya hangat dapat tersalur dengan keadaan mereka ini.
"Semoga besok lekas membaik ya cantik, pindah aja sakitnya ke aku" ujar Seulgi.
Dapat terasa gelengan kepala dari wanita dipeluknya muncul.
"Ja-ngan" suara minimalis terdengar.
"Kenapa jangan Irene?"
"Seu-lgi jangan sa-kit, ga-mau"
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fanfiction"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
