Dengan celana training yang ia gunakan dibalut kaos gombrong warna hitam tak lupa topi baseball melekat dikepalanya. Seulgi memutuskan untuk melakukan lari pagi disekitar daerah kosannya.
Ia memulai larinya lebih awal, tepat pada pukul 05.30 pagi sambil menikmati sejuknya udara saat itu.
Sebenarnya Seulgi harusnya lebih banyak beristirahat alih-alih melakukan lari pagi seperti sekarang, sebab beberapa hari lalu ia mengalami demam dan berakhir dirawat oleh Joya beserta Wendy.
Yap Seulgi sempat sakit, dan lucunya lagi awal mula sakitnya adalah karena terlalu banyak memikirkan fakta yang sempat ia dapati ketika di balai desa, yaitu kematian araka.
Sejak saat itu Seulgi jadi kepikiran terus dengan apa yang telah ia ketahui. Ia jadi takut kalau mobil sedan yang dilihatnya berisikan orang jahat yang jelas punya tujuan tidak baik di rumah itu selepas satu-satunya anak dari keluarga tersebut sudah tiada.
Bahkan sampai sekarang ia masih memikirkan hal tersebut meski sempat sesekali ia kesampingkan mengingat tubuh dan pikirannya perlu beristirahat juga.
Tapi mau bagaimana lagi, fakta yang ia ketahui cukup mengganggu dirinya. Apalagi dibarengi dengan keanehan yang mungkin tidak ditangkap oleh warga sekitar dan hanya dirinya yang mengetahui. Jujur Seulgi jadi bimbang sendiri.
Haruskah ia belaga gila menanyakan keberadaan sedan merah yang ia lihat kepada warga sekitar?
Jika begitu, bagaimana jika nantinya inisiatif yang ia lakukan malah menimbulkan kericuhan disini? Belum lagi kala apa yang dipikirkannya selama ini salah, dan si pemilik sedan merah nyatanya hanyalah keluarga lain yang memang berniat menjaga rumah tersebut.
Entahlah, mana hal baik yang harus Seulgi lakukan.
Yang pasti sambil berlari ia terus memikirkan berbagai kemungkinan hingga tidak terlalu sadar kemana langkah kakinya membawa ia pergi.
Sampai sesaat kemudian ...
"Lah gila! Yang bener aja?!" Matanya yang sipit berusaha membelalak.
Sekarang Seulgi sadar dimana posisinya.
Dia masih belum bisa mencerna mengapa langkahnya membawanya kesini? Tepat rumah besar itu. Kini ada dihadapan Seulgi!!
"Kabur dah, jangan lama-lama" Seulgi berusaha membalikkan tubuhnya, namun seketika pikirannya kembali berubah.
"Tapi tanggung udah disini, kenapa gue gak coba masuk aja?" Lagi-lagi ia bermonolog, dorongan dari dirinya ingin sekali memasuki rumah itu tapi disatu sisi ia takut bagaimana nanti jika bertemu si cantik.
"Ah masih pagi, setan gak mungkin kan keluar pagi begini? Udah waktunya tuker shift, tuh setan harusnya udah bobo"
Tanpa mau pikir panjang lagi, Seulgi bergegas mendekati pagar rumah besar tersebut. Dia sempat menganalisis sesaat kayaknya harus panjat pagar biar bisa masuk.
Kemudian pagar pun dipegang olehnya, baru mau ambil ancang-ancang buat manjat nyatanya dia dikagetkan oleh pagar yang terdorong ke dalam, artinya pagar ini tidak terkunci.
"Lah tau gitu langsung masuk aja gue nggak usah ancang-ancang kek tadi" gerutu Seulgi.
Ya gimana, dia gak ekspetasi bakalan nggak ke kunci tapi hal bagus untuknya. Setidaknya gak perlu action-action banget lah, simpan tenaga kalau si cantik muncul kan bisa lari ngibrit gitu.
Okay, keadaan Seulgi saat ini sudah berhasil memasuki bagian halaman depan. Seperti biasanya, halaman itu didapati olehnya dengan keadaan kotor dan tidak terawat.
Seulgi hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil terus mempertanyakan apa yang tengah ia lihat, tentang apa yang sebenarnya terjadi disini?!
Langkah Seulgi mendekati pintu utama rumah tersebut sambil sesekali memeriksa situasi sekitar. Tangannya menggapai kenop pintu yang persis seperti dugaannya rumah itu terkunci tidak seperti gerbang di depan, mungkin saja si sedan merah lupa untuk menguncinya.
Tanpa berlama-lama Seulgi memutuskan untuk kembali berkeliling sejenak disekitar rumah, ia mulai menyisir area samping kanan mendapati banyak jendela besar yang bisa ia intip dari luar kalau kondisi di dalam rumah sangatlah gelap. Ia jadi teringat jikasanya area bawah ini gelap, lantas kenapa loteng saat itu menyala?
"Si cantik waktu itu ada di loteng? lampunya nyala sih walau redup tapi bukannya setan lebih seneng gelap?" Pikir Seulgi.
Ditengah dirinya yang sedang berkutat dengan segala kemungkinan, mendadak suara mobil terdengar mendekat.
Seulgi bergegas melihat siapa yang datang, dan benar saja saat itu sedan merah berhenti tepat di depan rumah ini.
Seseorang keluar dari dalam mobil itu, gerak geriknya seperti Seulgi yang memantau keadaan sekitar barulah melakukan maksudnya. Orang itu kembali, berhadapan dengan gerbang rumah seraya menguncinya. Mungkin alasan kenapa ia kesini.
"Oh jadi sebelumnya lu dari sini tapi lupa buat ngunci gerbang?"
Seulgi masih terus memantau orang itu, wajahnya tidak nampak jelas karena orang itu memakai topi. Yang pasti orang itu adalah seorang pria dengan postur tubuh tegap namun tidak terlalu tinggi.
Apa yang orang itu lakukan telah usai, gerbang sudah terkunci dan kembali si pria misterius ini memalingkan wajahnya untuk memeriksa kondisi sekitar sebelum akhirnya ia pergi lagi.
Bagi Seulgi hal tadi cukup mencurigakan, mulai dari kenapa harus selalu datang pagi-pagi buta, belum gerak-geriknya seolah orang itu tidak ingin ada yang mengetahui kedatangannya?
Hal yang aneh kan?!
"Pasti ada yang gak beres disini, siapa sebenarnya orang itu??"
.
.
.
.
.
.
Saat ini Seulgi tengah berada di luar kosnya, bersama Wendy mengunjungi salah satu toko buku yang berada di kota sembari menghabiskan waktu sore hari.
Lepas berkunjung pada toko buku, Seulgi beserta Wendy langsung menuju sebuah kedai untuk sekedar meminum kopi dan berbincang ria.
Pada awalnya perbincangan mereka membahas seputar kehidupan masing-masing namun berubah tatkala Wendy mulai bertanya tentang sesuatu. Sesuatu yang rasanya mengubah Seulgi akhir-akhir ini dan ia sadar akan hal itu.
"Gi, sebelumnya sorry gue mau tanya? Lo akhir-akhir ini kenapa sih? Kayak banyak banget yang dipikirin sampe kesehatan lo aja ke-ganggu. Ini gue nanya gak maksud apa-apa ya, gue cuma khawatir sama lo" Raut wajah Wendy benar menyiratkan ke-khawatiran.
Seulgi juga tak bisa langsung menjawab, ia tengah menimbang apakah harus jujur atau malah tidak.
"Kalau pikiran pasti ada aja Wen, cuma gue gak tau mau jelasin gimana sama lo soalnya bukan masalah pribadi gue sih"
"Lah kalau bukan masalah pribadi lo, kenapa harus dipikirin? Lo sampe sakit kayak waktu itu, gue takut lo kenapa-napa tau gak?!" Kesal Wendy.
"Gue juga maunya gak mikirin tapi malah kepikiran Wen"
"Terus lo gak mau cerita sama gue?"
Seulgi menghela nafasnya.
"Huft ... Kalau gue cerita apa lo bakal percaya?"
"Gimana gue mau percaya kalau lo aja nggak cerita?"
Suasana makin gak kondusif, Seulgi yakin Wendy akan terus mendesaknya demi kebaikan dirinya. Maka dari itu mau nggak mau Seulgi harus lakukan ini.
Berbicara tentang apa yang sebenarnya ia tau —
"Belakangan hari ini gue mikirin rumah besar di belakang kos kita, gue lihat sesuatu disana yang gue yakin itu gak beres Wen .. "
.
.
.
.
.
.
.
To be continued ...
Selamat malam, selamat membaca semuaaa
semoga di chapter ini kalian masih tetap penasaran yaaa, please tungguin sampai si cantik cantik itu muncul 👀 sampai jumpa di next chapter 🫶🫶🫶
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fanfiction"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
