"Maksud lo gimana? Coba cerita yang jelas gi" Tanya Wendy.
"Gue nemuin beberapa keanehan, mulanya karena gue baru pertama kali lihat ada mobil sedan yang parkir di depan rumah itu. Selama yang gue tau rumah itu gak pernah ada aktivitas Wen, makanya kenapa gue kepo sama mobil itu dan berbekal dari ke-kepoan gue akhirnya gue nemu suatu yang janggal. Dari yang gue dapet pas nguping obrolan bapak-bapak dipekan raya, emang rumah itu biasanya didatengin sama anak mendiang si pemilik rumah tujuannya buat bersih-bersih aja karena si anaknya ini tinggal di kota. Tapi selanjutnya Pak RT bilang kalau si anak ini udh meninggal dunia beberapa bulan lalu dan gak ada siapapun yang menggantikan tugasnya lagi jadi rumah itu sekarang beneran gak ada yang ngurus. Anehnya, gue selalu mergokin mobil sedan warna merah di rumah itu. Si yang punya mobil ini selalu dateng pagi-pagi buta, pokoknya di jam yang gue rasa gak bakal banyak orang notice keberadaannya. Kecurigaan gue beneran terjawab Wen, pagi tadi gue sengaja masuk ke rumah besar itu buat mastiin ada apa disana. Sejauh ini gue cuma bisa sampe halaman depan doang sama area samping karena keburu orang itu datang lagi, —"
"Untuk pertama kalinya gue liat orang itu, mukanya ga keliatan tapi orang ini jelas cowo, posturnya tegap tapi ga terlalu tinggi, pakaiannya serba hitam. Dia datang kesana karena lupa buat kunci gerbang habis itu pergi, cuma yang menarik atensi gue adalah gelagatnya beneran se-aneh dan se-mencurigakan itu Wen—"
"Lo gila ya gi? Bukan gue gak percaya omongan lo, tapi lo nekat masuk ke rumah orang yang lo sendiri gak tau bakal ada apa disana" Wendy memotong ucapan Seulgi, jujur dia lagi-lagi dikejutkan oleh apa yang Seulgi bicarakan.
"Gue beneran se-penasaran itu Wen, emang bukan hak gue masuk kesana tapi coba lo bayangin semisal orang itu orang jahat gimana?"
Wendy berpikir sejenak, bisa jadi apa yang Seulgi bilang benar adanya.
"Tapi mungkin aja keluarga lainnya gi?"
Seulgi menggeleng cepat.
"Gak mungkin Wen, jika orang itu keluarga dari si pemilik rumah kenapa gelagatnya harus se-mencurigakan itu. dan lagi apa kepentingannya disana? seandainya dia gantiin tugas anak yang meninggal, harusnya keadaan rumah itu lebih terawat kaya sebelumnya"
"Okay, anggaplah orang itu emang bukan bagian dari family. Lantas lo sekarang mau ngapain?"
Skak mat.
Seulgi dibuat terdiam oleh ucapan Wendy.
"Gue tau lo pasti penasaran banget, tapi alangkah baiknya kalau emang hal itu gak mengganggu kehidupan lo atau kehidupan kita semua yang nge-kos di kos Bu Ajum mending lo diem aja—"
"Ada hal yang bukan ranahnya kita untuk tau, kita disini cuma tinggal entah buat berapa lama lagi kita disini. Selagi emang hal tersebut cuma sebatas ganggu rasa penasaran lo mending udahin aja, jangan sampe kehidupan lo itu terganggu sama hal yang belum pasti. Apalagi setau gue juga rumah itu emang gak ada aktivitas udah dari lama, bahkan gue baru tau dari lo kalau selama ini rumah itu ada yang rawat"
Yap, selama ini setau Wendy memang rumah di belakang kosnya itu kosong saja. Bahkan warga sekitar juga tidak ada yang pernah membahas rumah tersebut seolah memang begitu adanya sedari awal. Itupula mengapa ia tidak pernah menaruh rasa curiga pada apapun yang terjadi disana.
"Kalau warga sekitar dari awal aja kayak gak peduli sama rumah itu, kenapa lo harus peduli gi?"
'Tapi Wen ... "
"Hust! Udah jangan lo pikirin lagi gi. Biarin rumah itu kayak sebelumnya aja, kalau ternyata ada hal yang gak beres disana biar jadi urusan warga sekitar. Kita cuma pendatang disini, stop urusin hal gak perlu ini"
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fanfiction"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
