27. Hadapi

842 131 20
                                        

Sekembalinya Seulgi dengan dua porsi bubur ditangan berikut fakta terungkap ia dapat berkat cerita dari Pak Iwan dan Bu Inah, menjadikan Seulgi pulang tanpa senyumnya.

Ia membuka kembali pintu kamar yang langsung saja disuguhi pemandangan Irene, tengah duduk menunggu kedatangan Seulgi tiba. Wanita itu, pikir Seulgi apakah benar ia anak yang hilang? anak yang dicari kedua orangtuanya hingga orangtuanya menjemput ajal mereka.

Jika benar begitu, sebuah ironi yang sangat menyedihkan. Bagaimana mulanya mereka berpisah? dan atas dasar apa? Kenapa kebencian begitu besar ada menganggu harmoninya keluarga yang dikenal baik itu.

Siapa dalang dibalik semua ini? apakah salah satu dari pekerja yang mencurangi Pak Kusnadi? Atau orang dibalik ladang bermasalah milik ayah Irene itu? atau bola liar lagi bagaimana jika pelakunya adalah Araka? anak nakal yang terkenal membuat masalah dimana-mana?

Perlahan susunan masalah ini mendapat kepastian, tetapi Seulgi belum dapat memastikan siapa pelakunya? Jika Araka, fakta mengejutkan lagi bahwa ia telah pergi. Lantas siapa pengemudi mobil sedan yang selalu datang berkunjung?

Maka langkah selanjutnya ia harus memastikan kembali siapa pelaku dibalik semua kejadian ini, pelaku tersebut jelas harus bertanggung jawab dengan nilai yang besar tentunya. Sebab yang tersiksa bukan hanya Irene tetapi juga mereka yang telah pergi, kedamaian pasti belum menyertai. Dan orang yang saat ini dapat membantu menyelesaikan hal itu adalah Seulgi.

"Hai! Aku datang bawain sarapan buat kamu" ujar Seulgi seraya menutup pintu kamarnya.

Disisi lain mendengar sebuah suara terdengar Irene menoleh, senyum diwajah pucatnya melenggang bebas. Seulgi kembali gadis itu ada disana bersamanya.

"Pagi ini kita makan bubur ya, kamu harus mau makan" ujar Seulgi.

Sembari menyiapkan tempat untuk mereka makan Seulgi sedikit menatap Irene menunggu jawaban yang kemudian anggukan kepala Irene lakukan. Wanita itu setuju untuk makan.

"Ayo Cantik! Sini makan" Perintah Seulgi.

Irene pun bergegas bangkit dari duduknya, merubah posisi menjadi duduk ala lesehan bersama Seulgi.

"Makan sendiri ya" Ucap Seulgi seraya menyerahkan sendok untuk digenggam Irene.

Wanita itu lagi-lagi nenuruti perintah Seulgi, mau bagaimana pun jua Seulgi tengah berupaya membuat dia dapat melakukan sesuatu sendiri agar apa yang hilang tentunya bisa dimiliki kembali.

"Gimana, buburnya enak?" tanya Seulgi.

"Enak Seu-lgi" jawab Irene.

Beberapa suapan walau perlahan dapat Irene lakukan. Wanita itu menyuapkan sarapannya dengan semangat meski tangannya masih bergetar setiap memegang sesuatu.

"Pelan-pelan aja ya, nanti pasti gak  gemeteran lagi"

Seulgi yang selalu tau berusaha mengusap tangan mungil Irene disaat seperti ini, menciptakan rasa nyaman ditengah Irene yang jua berjuang untuk dirinya.

"Oh Iya, aku mau cerita. Tadi saat aku beli bubur ini, aku ngobrol sebentar sama Pak Iwan dan Bu Inah. Kamu kenal mereka gak?"

Irene yang ditanya lantas menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.

"Dari cerita mereka, tentunya mereka mengenal baik mendiang orangtua kamu. Sebelumnya maaf, aku harus bertanya ke orang lain. Aku mau memberikan kamu waktu sampai kamu siap untuk cerita yang sebenarnya, tapi Irene aku juga perlu tau sedikit informasi yang sekiranya menjawab rasa penasaran aku terhadap kamu—"

"Dan sekarang rasa penasaran itu sedikit terjawab, Irene apakah kamu anak Pak Kusnadi dan Bu Arani yang hilang itu?"

Seulgi gak bisa lagi menahan ini semua dikepalanya. Sementara itu Irene yang mendengar penuturan Seulgi melepas genggaman sendok ditangannya.

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang