24. Bicara

1.1K 159 16
                                        

Seutas suara yang terdengar membuat Seulgi terkejut dibuatnya, tapi kali ini ia dapat bereaksi dengan cepat supaya tidak lagi kehilangan moment dimana Irene wanita yang bersuara itu kembali membungkam suaranya.

"Iya Irene" jawab Seulgi.

Wanita ini sempat terdiam tidak langsung menjawab Seulgi, hampir saja Seulgi diserang rasa pesimisnya namun untungnya hal itu tidak terjadi.

"Se-ulgi .. " panggil Irene lagi.

"Iya Irene, Kenapa? Aku disini dengerin kamu"

Seulgi sejujurnya sangat antusias, ini percakapan pertama mereka dan Seulgi benar-benar menunggunya.

"Te-ri-ma ka-sih Se-ulgi" meski terbata-bata Irene berusaha mengeluarkan suaranya, mengucap apa yang ingin dia sampaikan kepada Seulgi.

Seulgi tidak masalah dengan itu, Irene tidak perlu lancar berbicara jika ingin memulai percakapan dengannya. Bagi Seulgi dengan dia mau memperdengarkan suaranya Seulgi sudah merasa cukup.

"Sama-sama Irene" kata Seulgi tak lupa senyum mengembang diwajahnya.

Seulgi mengusap pelan jemari Irene yang masih bertaut digenggamnya.

"Makasih juga ya sudah mau mengeluarkan suara mu lagi, sekarang senengnya aku makin bertambah" kekeh Seulgi.

Irene yang mendengarnya jua tak luput untuk mengulas sebuah senyumnya, hal dimana ia lupa kapan terakhir kali baginya senyum itu dapat terlontar.

"Se-ulgi ba-ik" ucap Irene lagi.

"Memang harusnya perlakuan ini yang kamu dapat Irene, sesama manusia wajib untuk bersikap baik" jawab Seulgi.

Yap, Seulgi yakin ajaran agama manapun memang mewajibkan umatnya untuk bersikap baik kepada sesama dan itulah yang Seulgi lakukan kini. Baik kepada Irene yang memang berhak diperlakukan seperti itu.

"Maaf jika yang kamu alami selama ini berkesan tidak baik untuk kamu ya, aku pastikan semua tentang kamu kedepannya bukan lagi kesakitan yang kamu dapatkan"

Irene menganggukkan kepalanya. Wanita ini percaya pada apa yang Seulgi ucap.

Sejauh yang sudah ia alami ini hanya Seulgi yang pada akhirnya bertahan dan memilih menyelematkannya. Bahkan sangat gigih dan nekad untuk bisa mendapatkan Irene keluar dari rumah tak berpenghuni itu.

"Sudah siap menceritakan dirimu?" tanya Seulgi.

Gelengan kepala Irene berikan.

"Kenapa, Cantik?"

Irene kembali terdiam, membuat Seulgi yang melihatnya merasa sedih lagi. Gadis itupun melakukan pergerakan mendekatkan dirinya pada Irene, merengkuh tubuh mungil untuk bersandar padanya.

"Sa-kit" lirih Irene.

Senyum terpaksa terulas diwajah Seulgi. Ternyata mendengar langsung kata sakit dari Irene efeknya sebesar ini, Sedih melandanya lagi.

"Maaf apabila terburu-buru, aku terlalu ingin tau"

Lagi-lagi egois datang menghampiri Seulgi seakan lupa bahwa apa yang dialami mungkin memang terlalu berat untuk diceritakan bagi Irene.

"Se-ulgi .. "

"Iya, Irene"

Seulgi menatap Irene yang masih berada dalam peluknya. Melihat wanita itu memenjamkan matanya sejenak sebelum sebuah suara keluar diucapnya.

"O-rang it-u ja-hat" ujar Irene.

Seulgi mengerti, kemudian memilih diam memberi jeda supaya Irene dapat mengeluarkan apa yang selama ini dipendam.

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang