4. Bertanya

1K 133 7
                                        

Seulgi yang mulanya tengah terlelap terpaksa membuka matanya ketika ponselnya menyala menggemakan suara alarm yang biasa ia pasang.

Sayup-sayup matanya yang belum terbuka sempurna berusaha mematikan suara alarm tersebut, baginya cukup menganggu sebab rasa kantuk masih saja ia rasa.

"Ah sial, gara-gara tadi subuh nih" Kesal Seulgi.

Ia protes, tentu pada kebodohan dirinya pagi tadi.

Masih segar diingatannya apa yang ia lihat saat itu, tapi entahlah bagaimana ia akan membagikan pikiran tersebut. Ia sendiri masih tidak tau dan belum sempat mencerna semuanya.

Yang pasti ia sekarang harus kembali ke rooftop, teleskopnya tertinggal disana sebab ia berlari cukup kencang untuk kembali ke kamarnya dan melupakan alat itu.

Mau tidak mau ia pun harus bangkit dari tidurnya yang masih belum cukup karena harus segera mengambil apa yang tertinggal di atas sana.

Perlahan tapi pasti ia memulai langkahnya meski sedikit gontai, samar-samar sakit kepala pun ia rasa mungkin terjadi efek dari kaget, lelah, serta kurang tidur saja.

Baru ia ingin membuka pintu dan berniat ke luar, tanpa ia ketahui sebelumnya bahwa sudah ada Wendy tepat di depan pintu kamarnya. Si penghuni kos juga. Tangannya tengah terayun keatas sambil mengepal, Seulgi paham pasti tadinya Wendy ingin mengetuk pintu itu.

"Baru aja mau gue ketuk" Ucap Wendy.

"Sama baru juga gue mau keluar, ada perlu apa nih Wen?" Tanya Seulgi. Kayaknya habis bangun tidur otaknya belum bekerja sepenuhnya.

"Ini lu kaga liat gue gendong apaan? Tadi gue chat di grup wa, nanya ini punya siapa eh Joya nyaut katanya punya lu"

Disitu barulah Seulgi sadar, mata minimalisnya berjumpa lagi dengan teleskop kesayangan yang semula ia tinggal.

"Eh iya Wen, punya gue. Makasih ya lu udah anter dia pulang" Ujar Seulgi, tidak lupa menyahut teleskopnya dari tangan Wendy.

"Kenapa bisa ada di rooftop deh?" Pertanyaan yang Seulgi hindari pastinya, terlontar dari mulut Wendy.

Jelas dia bingung gimana mau jelasinnya, masa dia bilang kalau subuh-subuh tadi abis lihat setan.

"Hm, ini. Abis lihat bintang gue semalem terus lupa gue bawa balik soalnya keburu mules"

"Anjir bisa-bisanya lupa, untung gue yang nemuin. Benda mahal kek gini jangan teledor Gi! Jangan ditinggal sembarangan lagi"

"Iya Wen, makasih yah udah mau dianterin kesini. Tadinya baru aja mau gue ambil"

"Iya gapapa masama, gi. Dah ah gue mau lanjut ngejemur"

Baru saja Wendy mau beranjak pergi, namun dengan cepat Seulgi menahannya.

"Bentar dulu deh, buru-buru amat lu"

"Apalagi? Belum gue jemur nih, jemuran gue" Jawab Wendy.

"Bentar dulu, gue mau nanya Wen. Ini lu tau si cantik nggak?" To the point Seulgi.

Wendy terdiam sejenak, kemudian mengangguk.

"Tau lah, gi"

Mata minimalis Seulgi mendadak terbelalak.

"Hah, demi apa? Serius lu tau?"

"Iya, maksudnya gue kan? Si cantik itu"

"Anjir... "

Seulgi diserang kesal, hampir aja dia percaya dengan ucapan Wendy.

"Lagian lu aneh, si cantik siapa? Orang tuh punya nama gi? Kalau lu gak nyebut namanya, lu tanya si cantik ya jawabannya udah pasti gue" Sahut Wendy lagi.

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang