Sebelum janjinya disore hari terucap, Seulgi sudah merencanakan hal ini.
Sebuah hal dimana tadinya tidak pernah ada terbesit bahwa dunianya sekarang memiliki alasan lain. Alasan untuk tetap melanjutkan apa yang telah terjadi.
Seulgi menyambangi tempat ini tanpa siapapun tau, dengan berani lagi mengambil langkah untuk makin mengulik bagaimana kehidupan terdahulu dari wanita cantik yang ada ditempat tinggalnya saat ini.
"Jadi sekarang saya sedang bersama dengan Bu Ipah dan Pak Darmo?" tanya Seulgi pada sepasang suami istri lanjut usia dihadapannya.
"Betul Mbak, saya Darmo dan ini istri saya Ipah. Kami berdua sudah bekerja selama beberapa tahun ikut dengan keluarga Bapak Kusnadi"
"Terimakasih ya Pak Buk, sudah menerima baik saya disini"
"Dengan senang hati Mbak, akhirnya kami bertemu sama orang yang berhasil menemukan Non Irene. Kalau boleh bertanya kapan kami bisa menemui Non Irene Mbak?" tanya Bu Ipah.
Seulgi menyunggingkan senyum sebelum jawaban ramah ia keluarkan.
"Setelah kondisi Irene benar-benar baik saya akan membawanya kesini. Biar bagaimanapun ini rumahnya, kenangan dia bersama orangtuanya sebelum berakhir diculik pasti banyak tersimpan disini"
"Meski hanya ada tiga orang yaitu Ibu, Non Irene, dan Den Araka karena bapak lebih sering berada di Desa. Rumah ini tidak pernah sepi —"
"Ibu adalah seorang guru, banyak anak muridnya yang sering datang berkunjung kesini. Begitupula Den Araka, dia anak yang banyak temannya sehingga rumah ini selalu jadi tempat dia dan kawannya berkumpul. Tidak pernah terbesit bahwa kelak rumah ini akan sepi karena ulah salah satu penghuni disini"
"Pasti kejadian yang baru terungkap ini membuat Ibu dan Pak Darmo terkejut ya?" kata Seulgi sambil menatap raut wajah yang kemudian berubah dari pasangan didepannya.
"Saya dan Bu Ipah sangat terkejut, tidak pernah menyangka Den Araka merupakan dalang dibalik semua kejadian itu. Den Araka meski nakal dan manja tapi kami tetap melihat dia sebagai anak yang manis"
"Bahkan yang kami lihat dia dan Non Irene pun nampak selayaknya adik kakak walaupun sedikit gengsi tapi saling menyayangi"
"Hati manusia tidak ada yang tahu Pak Bu, setelah mengungkap semua hal saya adalah bagian yang juga tidak percaya bahwa ada manusia bisa sejahat itu dengan orang disekitarnya. Perlakuan Araka kepada Irene terlalu keji"
"Benar Mbak. Non Irene adalah anak baik, Ibu dan Bapak benar-benar menyayanginya. Cantik sekaligus berprestasi kekurangan dari Non Irene adalah dia menjadi anak yang terlalu baik serta polos. Sejak kecil dia tidak pernah berani membalas jika ada teman-teman yang berlaku nakal kepadanya, dia akan memilih diam tidak membalas — "
"Kami menyesal melewatkan banyak hal sampai bisa kehilangan Non Irene dan tidak dapat menemukannya. Den Araka sudah berbuat sejauh itu!"
Kenyataan yang sampai saat ini masih sulit diterima oleh Pak Darmo dan Bu Ipah. Keluarga yang mereka kira adalah keluarga bahagia yang pasti banyak orang menginginkan hal tersebut harus hancur oleh kelakuan Araka.
Sang anak yang memilih melukai anak lain sehingga orangtua mereka menjadi korban.
Pil pahit kehidupan yang mesti diterima Pak Darmo dan Bu Ipah, keluarga dimana tempat mereka bekerja kini hilang dan hanya Irene lah yang tersisa justru seseorang yang selama ini mereka anggap telah tiada sejak awal.
"Kabar hilangnya Non Irene merupakan luka untuk kami semua, dan luka tersebut makin terasa perih manakala kami juga harus menerima kepergian Bu Arani dan Pak Kusnadi dalam waktu berdekatan akibat depresi tidak dapat menemui anak perempuannya"
"Mahal sekali harga yang perlu dibayar ini Mbak, semoga kelak kedepannya Non Irene menemukan kebahagiaan yang sepadan dari apa yang harus ia lalui"
Seulgi setuju.
Apa yang diterima Irene merupakan hal jahat, tidak semestinya ada seseorang yang pantas merasakan hal ini.
"Mbak Seulgi bisa tolong sampaikan kepada Non Irene?" tanya Pak Darmo menarik atensi Seulgi kembali.
"Apa itu pak?"
"Saya sampaikan ini kepada Mbak Seulgi karena kami percaya kalau Mbak bisa menjaga Non Irene kedepannya. Tolong sampaikan pesan kami bahwa kami menunggu Non Irene pulang. Jika memang pada akhirnya Non Irene tidak menetap di rumah ini, sampaikan bahwa semua yang ada di rumah ini adalah miliknya. Jauh sebelum kejadian naas menimpa keluarga ini Pak Kusnadi sudah menjelaskan bahwa semua aset akan diberikan kepada Non Irene. Ada bagian untuk Den Araka dan beliau sudah mendapatkannya, ingatkan Non Irene agar mengambil haknya. Dan ingatkan Non Irene meski kami berdua hanya pekerja, tapi kami sangat merindukan kembali kehadiran Non Irene"
"Saya juga titip pesan tolong sampaikan agar cepat sehat dan pulih. Semoga kebahagiaan Non Irene dan Mbak Seulgi selalu menyertai dimanapun kalian berada. Terimakasih sudah menjadi orang baik, dan terimakasih banyak atas semuanya Mbak Seulgi"
Seulgi tersenyum senang mendengarnya.
Satu hari dilalui bertemu dengan orang baik lainnya.
"Terimakasih kembali Pak Bu, saya janji akan membawa Irene pulang ke rumahnya"
.
.
.
Irene menatap bingung melihat tampilan Seulgi yang lebih rapih dari biasanya, tidak ada lagi celana jeans dan kemeja flanel yang menjadi ciri khas melainkan kini celana bahan dengan kemeja putih tersemat sesuai pada porsi tubuhnya. Menggambar jelas postur Seulgi yang tegap, nan diam diam Irene sukai.
"Kenapa hari ini kamu rapih sekali?" tanya Irene masih menatap Seulgi heran.
"Iya dong, ingin seperti kamu yang cantik terus. Jadi pas kita berdua bareng aku nggak keliatan kayak mau cod biawak"
"Wendy ya yang bilang kamu kayak mau cod biawak?"
Seulgi mengangguk sedih, sekalian deh mengadu saja pikirnya.
"Dia bilang kamu nggak cocok kalau jalan berdua sama aku, kamunya cantik banget sedangkan aku ya kamu taulah"
"Jangan didengar kata Wendy, Kamu adalah Seulgi-nya Irene yang paling keren"
"Benarkah Cantik?" Binar tak percaya jelas terlihat dari mata minimalis Seulgi.
"Benar, manusia paling keren yang Irene tau hanya Seulgi!"
Seulgi lagi-lagi puas mendengarnya.
Selalu saja tak tahan dia tatkala dipuji Irene.
"Terimakasih pujiannya Cantik. Ayo kita mulai pergi sekarang ya? aku senang sekali cuaca hari ini sepertinya mendukung tujuan kita"
"Yuk, Irene udah gak sabar pergi sama Seulgi. Oh iya apa kita akan pergi menggunakan mobil? Irene lihat ada mobil Wendy didepan tapi dari tadi aku tidak melihat Wendy.
"Kita akan pergi menggunakan mobil Wendy, aku sengaja meminjamnya supaya kamu gak kepanasan atau kehujanan. Kebetulan tempatnya lumayan jauh dari sini, supaya kamu tetap nyaman nanti diperjalanan"
"Apakah tempatnya akan bagus?" tanya Irene.
"Mm aku tidak bisa bilang ini tempat yang bagus, tapi aku bisa janji bahwa kamu pada akhirnya akan senang berada disini. Kamu tetap mau pergi?"
Menatap lekat gadis yang jua tampil sama, kemeja putih senada dengan Seulgi. Outfit yang memang sengaja Seulgi pilih agar mereka nampak serupa.
"Tetap mau, seperti yang sering Irene bilang. Kemanapun itu asal sama Seulgi aku akan ikut"
"Baiklah kalau begitu mari kita berangkat Cantik!!"
Seulgi menggandeng tangan mungil itu menuju ke mobil yang tengah terparkir. Membuka pintu dengan tangan kosong lainnya sembari mempersilakan tuan putri untuk naik terlebih dahulu.
"Duduk yang tenang dan buat diri kamu senyaman mungkin" ucap Seulgi tak lupa memasangkan belt agar Si Cantiknya aman.
Setelah memastikan semuanya sudah siap, Seulgi berjalan memutar untuk mengisi posisi kemudi. Hari ini dia siap.
Apa itu ragu, bagi Seulgi semua keputusan yang dibuatnya semoga tidak pernah salah.
.
.
.
.
To be Continued ...
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fiksi Penggemar"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
