Kerjapan mata sebab kaget dirasa Seulgi lakukan, pasalnya gimana dia gak kaget mendapati wanita yang sekarang sudah tertidur pulas sempat mengeluarkan suaranya.
Suara lirih meski didengar namun nyatanya sangat berarti bagi Seulgi yang memang menunggunya, Si Cantik bersuara.
Semangat dirasa Seulgi seketika padahal tadinya dia ingin memberi ruang untuk wanita itu beristirahat dengan nyaman sejenak, tetapi niat baiknya mesti diurungkan karena rupanya wanita yang ia panggil Si Cantik tidak ingin ditinggal olehnya.
Tangan besar Seulgi masih digenggam oleh si mungil yang tengah lelap tertidur, persis dengan katanya kalau Si Cantik tidak menginginkan Seulgi pergi beranjak dan harus berada didekatnya.
Melihat itu Seulgi gak bisa menyembunyikan senyumnya, genggaman masih berpagut erat serta mengingat suara yang pada akhirnya timbul dari si-empunya.
Suatu awalan yang bagus pikir Seulgi manakala perlahan Si Cantik mau bersuara, mungkin itu juga pengaruh dari semua kalimat yang ia lontarkan sebelumnya bahwa dia siap kapanpun sampai Si cantik mau bersuara lebih banyak.
"Memang harus pelan-pelan rupanya menghadapi kamu. Semoga sehabis bangun nanti mau bersuara lebih banyak lagi ya cantik" gumam Seulgi.
Sebelah tangannya tidak bisa diam, terus bergerilya mengusap surai hitam pekat milik seseorang disampingnya. Berusaha menyalurkan rasa hangat dan nyaman dipagi hari menuju siang ini.
Sepertinya Seulgi pun mendadak diserang rasa kantuk tidak tertahan, mau tidak mau dengan space tersisa untung saja kasurnya juga gak kecil-kecil amat. Seulgi ikut menyusul merebahkan diri tepat disamping Si Cantik, merasakan jua lelah menyerang disertai kantuk perlahan datang.
Seulgi pada akhirnya terlelap menyebrang ke alam mimpi menyusul Si cantik yang sudah terlebih dahulu ada disana.
.
.
.
Gerakan kecil tercipta kala seseorang terbangun dari lelapnya dunia mimpi, mata nan semula terpejam pelan-pelan terbuka mendapati dunia nyata sudah ia hampiri kembali.
Sorotan mata itu nampak jelas kemudian jatuh kepada sosok disampingnya yang entah bagaimana bisa ada disana dengan genggaman mereka yang masih bertaut.
Hangat benar-benar dirasa sebab posisi mereka berdekatan, tidak ada lagi dingin menerpa bahkan nyaman bisa terasa.
Tidak ada temaram cahaya menemani, tidak pula sunyi menyertai. Semua berubah dalam semalam dan seseorang yang dapat merubah itulah yang kini tengah terpejam tepat disebelahnya.
Dia ketika malam datang bersama teleskop dibawanya, dia pula meski sempat lari terbirit-birit pada akhirnya bertahan menyapanya.
Mungkin saja jika wanita yang mengenalkan dirinya sebagai Seulgi saat itu tidak berani lagi kembali, maka kejadian yang tengah dialami olehnya ini tidak pernah hadir dibayangannya.
"Aduh, argh!! pegel" sayup suara timbul dari Seulgi yang tidurnya sedikit terganggu.
Jujur saja posisi tidur wanita bermata minimalis itu sungguh gak nyaman dirasa, dia yang berada dipinggir ranjang sedang harap-harap cemas karena bisa aja terjatuh. Makanya dia nahan nahan pula buat gak balik badan daripada jatuh berujung mengangetkan Si Cantik yang padahal udah bangun dari tadi.
Seulgi pun sedikit merenggangkan badannya, bunyi kretek terdengar emang dasarnya itu badan juga ringkih karena terlalu banyak aksi dia lakukan.
Disela-sela aktivitas yang Seulgi lakukan, anak itu kemudian sadar kalau disampingnya terasa lega banget padahal daritadi kan penuh akan tubuh orang lain.
Kemudian matanya ia buka cepat disertai tubuh yang juga ia bangunkan dari kasurnya, Seulgi mendapati orang disampingnya tidak lagi tertidur melainkan sudah terduduk bersandar pada dinding kamarnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fanfiction"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
