Kala Seulgi meninggalkan ibukota dirinya sudah optimis memulai hidup baru di tempat yang baru pula.
Sebenarnya bukan benar-benar tempat baru, Seulgi pernah disini tepatnya ketika kecil ia menghabiskan banyak kenangan sebelum akhirnya ia pergi menuju Ibukota.
Kenangan itu cukup membekas hingga rasanya Seulgi ingin kembali, siapa tau bisa mengulang apa yang pernah ia rasakan dulu. Tinggal di tempat yang cukup nyaman dan terhindar sejenak dari bisingnya Ibukota yang gak pernah tidur.
Dan sejauh yang ia rasa Seulgi sudah sangat merasakan perbedaan dari ia yang semula berada di Ibukota dengan dirinya yang telah dua bulan menetap disini.
Benar keputusan Seulgi, ia merasakan lagi hangat sebuah rumah meski kini ia tinggal seorang diri hanya menyangkutkan hidupnya sendirian tapi setidaknya ia punya keluarga baru disini.
Memang bukan keluarga dari silsilah yang sama, tapi justru dekat yang Seulgi rasa menimbulkan efek yang kemudian ia jadi berpikir. Sesungguhnya inilah keluarga sebenarnya.
Para penghuni kos.
Inilah keluarga baru Seulgi.
Tinggal dan berbaur bersama, awalnya Seulgi gak pernah mengira bisa dengan mudah ia menjadi pribadi yang terbuka kepada orang lain tapi nyatanya apa yang ia lakukan tidak seburuk itu juga.
Penghuni kos disini menerima dengan sangat baik satu sama lain, mereka tidak sungkan untuk saling menyapa dan berbagi apapun meski begitu mereka juga tau batasan-batasan yang tetap harus terjaga.
Membuat Seulgi jadi tidak punya alasan untuk tidak betah tinggal disini dan kembali memulai hidup yang baru
.
.
.
.
Kalau di Jakarta Seulgi bekerja sebagai pegawai disalah satu perusahaan yang mendapatkan julukan big four. Maka disini, di tempat baru ini pekerjaan Seulgi jelas berbeda dengan pengalamannya saat di Ibukota dulu.
Biasanya dia berkutat dengan macam-macam berkas perusahaan tetapi kini ia malah menjadi buruh disuatu pabrik yang cukup besar di daerah itu.
Seulgi melakukan pekerjaan yang bisa dibilang kerja kasar, bahkan nggak jarang fisiknya benar-benar merasa lelah tapi anaknya si nggak terlalu masalah. Baginya lebih melelahkan pekerjaan saat dirinya masih di Ibukota daripada disini.
Contohnya kayak sekarang, seolah nggak kehabisan tenaga Seulgi yang baru pulang bekerja dari shift malamnya langsung bergabung dengan kerumunan ibu-ibu senam di lapangan dekat dengan kosnya.
Bahkan ia belum mengganti baju kerjanya hanya menaruh tasnya sekilas di kamar dan dengan cepat bergegas ke lapangan.
"Cah ayu nggak ada capeknya ya? Baru pulang kerja loh kamu" Kata seorang ibu-ibu yang Seulgi kenal, seraya mendekat ke arah Seulgi.
Seulgi yang tadinya fokus mengikuti gerakan sesuai instruktur senam di depan jadi menoleh.
"Ya gapapa bu, biar tetap sehat ini sambil senam"
"Tapi yo capek toh nak, mending udah sarapan?" Si ibu itu kembali berujar, namanya Bu Inah.
"Sarapan sih belum, nanti abis senam langsung beli deh. Makan bubur Pak Iwan enak kali ya bu" Jawab Seulgi.
Mendadak lagupun berubah, kali ini ritmenya lebih cepat sehingga gerakan yang instruktur buatpun makin bertenaga.
"Enak memang bubur Pak Iwan buat sarapan tapi orangnya lagi gak jualan istrinya sakit jadi jualannya libur"
Mendengar informasi tersebut, raut wajah Seulgi berubah, "Yaampun Bu, serius? Sakit apa?"
"Dirawat itu Bu Iwan kena tipes"
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fanfiction"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
