17. Merawat dia

1K 145 10
                                        

Adegan semula canggung pada akhirnya dapat diakhiri dengan Seulgi yang berhasil melewati semua itu, meski proses melalui semua hal barusan harus membuat tangannya bergetar hebat beserta degup jantung berdetak cepat Seulgi tetap lah Seulgi yang bertahan.

Sekarang Si cantiknya nampak jauh lebih baik, sudah memakai piyama Seulgi yang sedikit kebesaran karena bedanya size mereka berdua. Si cantik terlalu mungil untuk Seulgi, namun itu jelas lucu sekali.

"Lihat kan, kamu lucu banget! Aku biasanya lihat kamu dengan gaun putih yang jujur aja bikin merinding kalau diingat, tapi sekarang aku berhasil lihat kamu tanpa gaun itu" seru Seulgi.

Ada perasaan bangga bagi Seulgi karena berhasil mendapati Si Cantik seseorang yang mengambil penuh atensinya belakangan hari ini.

Rasanya tidak sia-sia semua pikiran berkutat, raga yang sampai lelah dengan semua fakta terungkap namun hasilnya Si Cantiknya ada disini, bersamanya.

Sekarang fokusnya Seulgi mesti beralih dari semula mencari tau siapa Si Cantik yang kala itu ia ragu akankah Si Cantiknya ini manusia atau bukan, kini menjadi harus bagaimana ia mencari tau latar belakang mengapa semua bisa menimpa Si cantiknya.

"Karena sekarang sudah mandi saatnya kamu makan ya, tadi aku belikan kamu Bubur dan aku akan sarapan dengan Bakso kita bisa makan bersama" Seulgi antusias.

Saking merasa antusiasnya Seulgi dengan cepat menyiapkan sebuah meja kecil beserta dua porsi makanan yang tadi ia beli langsung ia susun di atas meja itu.

Kala semuanya sudah siap, Si Cantik ia bantu untuk dapat duduk lesehan beralaskan karpet yang telah ia gelar baru ketika semua selesai giliran Seulgi duduk bersebrangan seraya dapat melihat Si Cantik yang lagi-lagi hanya terdiam menatap semua perbuatan Seulgi.

"Ayo kamu makan! ini sendoknya" Seulgi menyodorkan sebuah sendok namun tidak hanya disodorkan melainkan ia selipkan pada jemari Si Cantik agar dapat digenggam.

"Bisa kan makan sendiri?" tanya Seulgi ragu.

Pasalnya kenapa keraguan bisa melanda, sebab kala sendok itu berhasil digenggam Si Cantiknya tidak melakukan pergerakan apapun. Benar-benar Seulgi layaknya peran tanpa lawan. Semua hanya diam yang Seulgi terima dari perlakuan Si Cantik.

"Kamu harus makan ya supaya kamu lebih punya tenaga. Aku mau kamu kayak tadi ketika ingin mandi kamu melakukan pergerakan lebih dulu. Aku rasa kamu bisa, ayo dicoba dulu" kata Seulgi berusaha menyemangati.

Seulgi tau dan yakin sebenarnya wanita itu mengerti apa yang selama ini ia bicarakan, mungkin memang perlu adanya dorongan lebih agar Si Cantiknya mau untuk melakukan hal-hal seperti berbicara, mandi, atau makan sebab feedback-nya jelas supaya Si Cantiknya dapat memiliki kemajuan.

"Itu bubur terenak yang biasa aku beli jadi kamu harus coba, sini aku bantu dulu ya baru habis itu kamu melakukannya sendiri" tangan Seulgi terulur memegang tangan pucat Si cantik dipanggilnya.

Perlahan ia mengarahkan se-sendok berisikan bubur itu kepada Si cantik yang nampaknya masih enggan menerima suapan itu.

"Ini kalau kamu gak mau buka mulut berujung buburnya tidak dimakan, aku sedih loh" raut ekspresi Seulgi seketika berubah dari yang selalu berbinar-binar setiap melihat Si Cantik jadi harus menampilkan wajah sedih dengan bibir yang ia poutkan, lucu.

Seakan mengerti Si Cantiknya menyambut perkataan Seulgi bersama bibir yang perlahan dibuka membuat akses Seulgi menyuapkan se-sendok bubur menjadi lebih mudah.

Si Cantiknya mau makan!

"Nah gitu, harus disuapi sama dirayu dulu rupanya baru mau makan" kekeh Seulgi.

Seulgi pun mengalah, niatnya yang ingin Si Cantik melakukan kemajuan pada apa yang mesti dilakukan kayaknya harus ia simpan dahulu. Rasanya Si Cantik masih ingin dimanja Seulgi, bukti terpampang ketika rasa jahil itu datang Seulgi berhenti menyuapinya dan lantas menyuruh Si Cantik untuk makan sendiri namun alih-alih dilakukan kala suapan terhenti maka disaat itu pula Si Cantiknya akan berhenti makan.

"Emang kayaknya lebih enak disuapin daripada makan sendiri ya, yaudah aku suapin sampai habis yang penting kamu makan dulu baru setelah itu istirahat ya cantik"

.
.
.

Selesai makan Seulgi langsung sibuk, tapi bukan sibuk dengan Si Cantik. Melainkan ia sibuk dengan ponselnya karena harus berurusan dengan atasannya di tempat kerja perihal ia yang tidak dapat pergi bekerja dihari ini.

Ia tidak ingin masuk kerja, selain karena bimbang harus meninggalkan Si Cantik sebenarnya ia juga lelah sekali dengan apa yang sudah ia hadapi jadi daripada mengambil resiko karena tubuhnya kelelahan maka opsi demikian yang ia pilih adalah bolos bekerja. Walau selanjutnya dia juga bingung bakal lolos dari atasannya atau tidak.

Tapi persetan lah!

Saat ini yang terpenting adalah wanita yang tengah berbaring di atas tempat tidur Seulgi dengan sayup-sayup mata ingin terpejam, mungkin efek kenyang melanda menjadikan Si Cantiknya berada diambang kesadaran.

Melihat itu Seulgi berupaya mendekat, duduk dipinggir tempat tidur dengan tangannya membelai surai pekat milik wanita yang sungguh ia tidak pernah melihat kecantikan seperti ini.

Kecantikan yang Seulgi yakin bagi siapapun melihatnya pasti akan terpikat, begitupula Seulgi mungkin tanpa ia sadari pikatan itu berhasil membelenggu dirinya.

Entah sejak kapan tapi Seulgi yakin rasanya ia ingin terus merawat wanita ini, mungkin lagi-lagi karena ia penasaran tetapi ketika penasaran itu hilang apa getar rasa yang tengah ia dapati akankah juga hilang?

"Namaku Seulgi, tolong ingat nama itu ya. Aku harap sebelum kamu tertidur kamu dapat memikirkan apa yang sudah kita lalui untuk bisa sampai disini. Ketika kamu terbangun nanti jika sudah siap aku ingin mendengar cerita kamu atau jika itu berat maka tolong perdengarkan suara mu. Aku ingin tau! dan aku harap selama aku menjaga kamu setidaknya kamu memberi aku kesempatan untuk tau kamu lebih banyak supaya aku bisa bantu kamu dari semua yang telah terjadi" ucap Seulgi seraya menatap wanita yang perlahan menuju ke alam mimpinya.

Mendapati hal itu Seulgi pun lega jika pada akhirnya Si cantik dapat beristirahat dengan layak tidak seperti sebelumnya berada di loteng pengap dengan kondisi tidak terawat.

Segar diingatannya, saat itu hanya ada sebuah kursi tua menjadi singgahsana Si Cantiknya, tidak ada tempat tidur layak bahkan alas untuk tidur pun tak dapat Seulgi temui oleh sorot matanya.

Sebuah ruangan kosong nan pasti berisikan Si Cantiknya seorang.

Aneh bukan?

Maka dari itu ingin ia memberi waktu sejenak untuk Si cantiknya beristirahat.
Menikmati nyamannya keadaan berbalik sebelum sebuah kejadian meng-intrupsi Seulgi.

Gerakan kecil oleh seseorang dengan mata terpejam mengambil alih posisi tangan besar yang semula kosong menjadi bertaut bersentuhan.

Hangatnya si pemilik tangan besar bisa merasakan dinginnya permukaan milik sang mungil.

Seulgi kaget, dan yang lebih membuatnya kaget manakala sebuah suara lirih terdengar.

Suara yang ingin ia dengar! dari seseorang dihadapannya.

"Ja-ngan pe-rgi .."

.
.
.
.
.
.

To Be Continue ...

Selamat membaca semuaa 🩷🧡

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang