25. Sebuah Saran

1.1K 148 15
                                        

Hari berikutnya Seulgi lewati dengan semua fakta memenuhi pikirannya, ia masih berusaha mencari benang merah yang akan membawanya pada kebenaran tengah dicarinya.

Bagi Seulgi kejadian ini jelas terjadi oleh pelaku yang memang mengenal dekat Irene, tapi siapa?

Seulgi masih bingung dan Irene nampak betah belum ingin bercerita lebih banyak.

Meski sudah bersuara tapi Irene masih kesulitan untuk terbuka sepenuhnya, untungnya Seulgi berusaha memahami itu karena bagi yang mengalaminya ini adalah sebuah kejadian malapetaka yang pernah terjadi bukan?

Seulgi mengira Irene sudah mengalami semua hal buruk, bisa saja mulai dari kehilangan orangtuanya berakhir disekap lama di rumahnya sendiri.

Padahal itu merupakan rumahnya bagi Seulgi kemungkinan untuk dapat keluar dari sana pasti ada tapi kenapa rasanya memenjarakan Irene justru dapat berlangsung lama tanpa banyak orang mengetahuinya.

Pikiran Seulgi menciptakan banyak hal yang memungkinkan pernah dilalui, mulai dari pelaku tidak berlaku sendiri dan bisa saja dilatari dendam sebegitu besarnya sampai Irene seperti ini.

Jika begitu, dendam apa yang melatarbelakangi semua itu?

Bagaimana bisa orang itu begitu tega melakukan semua hal buruk pada Irene?

Melihat bekas daripada apa yang diperbuat oleh dia yang dijuluki Irene sebagai "Orang Jahat" rasanya Seulgi tidak sampai hati membayangkannya.

Dan karena inilah tekadnya makin bulat, bahwa keselamatan Irene adalah prioritas untuknya saat ini.

.
.
.

Seulgi tengah duduk di ruang tamu khusus untuk para penghuni kos biasa menerima para tamu mereka.

Sendiri disini, berusaha untuk sekiranya memiliki waktu sendiri dari Irene yang sedang tertidur di kamarnya. Seulgi sengaja menjauh supaya memberi ruang bagi Irene beristirahat sebab sepulang dari Seulgi bekerja, gadis ini mendapati Irene sedikit mengalami demam.

Untung saja dia lebih sigap sehingga kini Irene dapat beristirahat setelah mengisi perut serta obat diberinya.

Tenggelam pada lamunan karena terlalu jauh memikirkan semua yang menimpanya ini, Seulgi tidak sadar jika sebelahnya tak lagi kosong. Seseorang mengisinya, ingin menemani Seulgi ditengah kesendiriannya ini.

"Kak gi ... " suara muncul memecah lamunan Seulgi.

Gadis bermata monolid ini kembali sadar, berusaha menoleh pada sumber suara yang hadir menyapanya.

"Eh, kamu Joy. Kaget aku, tiba-tiba ada suara" Cengiran Seulgi muncul.

"Kamu kok bengong sih, Kak? hayo, mikirin apa nih? mikir jorok ya?!" goda Joy, rupayanya teman seperjuangan lainnya selain Wendy kini hadir bersama dengannya.

"Sembarangan kamu, ya namanya hidup pasti banyak pikiran kan" kilah Seulgi.

Joy tertawa kecil, "Kamunya aja kali nyari perkara"

"Yeh, beneran ngejek ya anak kecil ini. Awas kamu kalo lagi curhat aku ejek balik"

"Anak kecil? badan aku sama kamu juga masih lebih besar aku ya" sahut Joy tidak terima.

Ya memang benar, meski secara umur lebih tua Seulgi dan Wendy tapi Joy justru lebih besar dari mereka berdua. Ironi bukan.

"Kamu masih mikirin Si Cantik itu? oh iya gimana perkembangannya masih penasaran gak?"

Ditanya dengan pertanyaan ini justru Seulgi bingung harus menjawabnya, Joy kan gak tau semua perjuangannya demi mendapati Si Cantik itu berada di kamarnya.

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang