35. Ciptanya Kita

735 122 27
                                        

Puas menghabiskan waktu sampai menjelang malam Seulgi dan Irene kembali mengunjungi destinasi berikutnya, namun kali ini destinasi tersebut tidak termasuk dalam list yang Seulgi buat untuk didatangi.

Faktor cuaca yang mendadak hujan lebat menyebabkan mereka harus singgah disalah satu hotel terdekat untuk bermalam, Seulgi tidak mau mengambil resiko menerobos hujan yang mungkin dapat menyebabkan Irene akan sakit kemudian.

Mengingat dia juga baru sembuh, luka dikepalanya bahkan belum sepenuhnya mengering apalagi lebam dipipinya juga masih nampak ada meski perlahan memudar. Jadilah seperti ini mereka sekarang.

Irene betah memandang ke arah luar yang menyajikan pemandangan kota dibasahi hujan. Sedangkan Seulgi yang baru selesai dengan kegiatan mandinya memutuskan menghampiri Irene berdiri disebelahnya.

"Melakukan hal yang dulu kamu lakukan" Seulgi bersuara memulai percakapan.

Irene menoleh mendengar itu, mendapati Seulgi yang jauh lebih segar dari sebelumnya. Mata monolid itu bagai pemicu bagi Irene tidak mau lepas memandangnya.

"Jika kamu memandang jendela dengan tampilan seperti ini agaknya waktu itu aku gak bakal lari terbirit-birit" tambah Seulgi.

Kejadian yang Irene sendiri juga tidak bisa lupa, tapi kala itu dirinya tidak merasa heran. Orang sebelum Seulgi yang melihatnya pasti akan melakukan hal yang sama yaitu berlari.

"Seulgi takut Irene" balasnya kemudian terkekeh.

"Ya dulu sebelum kenal takut, kalau sekarang udah beda cerita. Cantik gini apa yang perlu ditakuti, cocoknya disayang" Seulgi menyenggol pelan bahu Irene dengan tubuhnya, wanita itu malu-malu mendengar ucapan Seulgi.

"Seulgi sayang Irene?" meski malu tapi dibalik itu Irene juga penasaran.

Seulgi tersenyum terlebih dahulu.

"Sama seperti kamu yang sayang aku, aku juga sayang kamu Irene ... "

Selepas ucapan itu terlontar hening sejenak melanda, rona merah diwajah Irene tidak dapat disembunyikan sedangkan ditempat berbeda debaran jantung Seulgi melesat hebat. Kakinya hampir kayak jelly padahal dialah yang baru saja mengungkapnya.

"Tapi serius walau saat itu kamu agak serem dikit, nyatanya aku tetap balik lagi mencari tau kamu"

Ya, fakta inilah yang juga Irene herankan karena Seulgi itu berbeda. Meski bukan orang pertama yang menyadari kehadiran Irene namun rasa takut itu tidak serta-merta memadamkan rasa penasaran si gadis bermata monolid.

"Beberapa orang lihat Irene, tapi mereka lari. Mereka tidak seperti Seulgi" ucap Irene.

"Jujur aku sendiri pun bingung kenapa bisa se-penasaran itu, cuma ya balik lagi Cantik. Jika saja rasa penasaran itu gak pernah ada mungkin cerita kita gak akan kayak gini"

Irene setuju, saat itu pun menjadi hal pertama juga bagi Irene bisa berinteraksi dengan seseorang lagi dimana ia masih mengingat betul kejadian melambaikan tangannya pada Seulgi yang berusaha mengajaknya bicara dari sebrang jendela rumahnya.

"Semua sama-sama hal gak terduga buat kita, yang pasti kamu hebat sudah bisa bertahan sejauh ini" Seulgi mengikis jarak diantara mereka untuk kemudian merangkul Irene.

Wanita disebelahnya juga tidak tinggal diam, memanfaatkan yang tengah terjadi memutar tubuhnya jatuh pada hangat dekap tubuh yang selalu memberinya perasaan hangat.

"Saat itu, hiks ... "

Entah bagaimana mulanya dalam dekap nyaman, Irene mendadak merasa sedih.

"Irene takut, hiks .. semua sakit .. sudah lama, tidak ada siapapun tolong"

Mendengar itu Seulgi makin mendekap Irene erat sambil pelan-pelan Seulgi mengambil alih tubuh mereka mendekat pada bibir ranjang. Mendudukkan tubuh keduanya pelan pada ranjang supaya lebih terasa nyaman.

"Aku, paham. Mungkin tidak bisa sepenuhnya merasakan apa yang kamu alami tapi sejujurnya membayangkannya aja sudah sulit. Penuturan kamu membuat aku merasa marah, tidak habis pikir bahwa ada seseorang seperti mereka. Bahkan salah satunya orang terdekat kamu, rasanya nggak masuk akal Irene"

"Hiks .. harusnya Irene tidak ada kan"

"Hey!! Bukan seperti itu! adanya kamu ditengah keluarga mereka adalah pilihan mereka, bukan salah kamu. Mendiang orangtua kamu yang memilih adanya hal itu, Pak Kusnadi dan Bu Arani sangat sayang sama kamu, kamu dicintai Irene. Mereka yang jahat yang bersalah! mereka yang memutuskan perbuatan jahat itu ada dan memeliharanya — "

"Nyatanya Araka yang menginginkan kamu mati malah mati lebih dulu, walau belum sempat dendamku terbalas tapi rasanya Tuhan lebih tau balasan yang tepat untuk Araka disana"

Seulgi berupaya mengusap lembut punggung Irene sambil memberi kecupan kecil pada pucuk kepala Si Cantik, berharap reda Isak tangis menghilang dari sang empunya.

"Ibu dan Ayah sayang Irene kan?" tanya Irene, ragu.

Meski Seulgi sendiri juga tidak mengetahui pastinya, mendengar cerita dari para warga tentang seberapa depresinya pasangan itu saat tau anak perempuan mereka tidak dapat ditemukan bahkan sampai ajal keduanya menjemput. Rasanya itu dapat menjadi jawaban seberapa besar kasih sayang yang mereka punya, bukan?

"Ibu dan Ayah sudah pasti sayang kamu, meski aku tidak ada disana saat kejadian beberapa orang memberitahu aku bagaimana frustasinya mereka saat tau kamu hilang. Segala upaya mereka lakukan demi menemukan kamu, sayangnya para brengsek sialan itu sangat lihai dengan apa yang mereka sembunyikan. Aku masih tidak habis pikir bagaimana bisa mereka berakhir menyembunyikan kamu di rumah salah satu pelaku dan korban secara bersamaan"

Satu sisi Seulgi mengakui kecerdasan yang Araka ciptakan dari perbuatannya.

Mungkin masih ada yang ingat dengan Pak Kusnadi yang banyak menghabiskan waktu di desa karena memiliki beberapa ladang dan Bu Arani yang tinggal di kota dengan kedua anaknya karena profesi wanita itu sebagai seorang guru?

Seulgi masih takjub akan kecerdasan Araka yang bisa memanfaatkan kelemahan yang dipunya dari kedua orangtuanya itu.

Jarak yang memisahkan membuat Pak Kusnadi yang kala itu tinggal di desa menjadi harus menetap di kota demi mencari anaknya yang hilang, semua titik pencarian fokus di pusat kota mereka tinggal tanpa tau sebenarnya Araka berserta temannya yang bajingan membawa Irene ke rumah di desa dan menyekapnya disana. Sungguh sebuah perbuatan licik yang direncanakan secara matang.

"Mungkin pemicu masalah ini sepele, tapi pada dasarnya apa yang Kakak kamu perbuat adalah kejahatan besar dan kamu beserta orangtua kamu merupakan korbannya. Aku mohon sama kamu ya, kita sama-sama kuat untuk berdiri melawan semua ini. Kita buat mereka yang jahat sama kamu menderita melihat kamu yang sekarang bisa lepas dan bahagia"

Seulgi merengangkan peluknya, menangkup wajah wanita yang beberapa detik lalu ada dalam dekap nyamannya.

"Udah ya jangan nangis lagi, susah payah aku banting tulang cuma buat kamu senyum bahagia nih" ujar Seulgi, membuat ulasan senyum mengembang diwajah sembab wanita cantik didepannya.

"Irene, hiks janji gak nangis lagi" jawab Irene disela isak dengan senyum yang masih berupaya tercipta.

"Harus janji dong, luntur nanti cantiknya kalau nangis. Seulgi nggak suka"

"Lalu Seulgi sukanya apa?" tanya Irene seraya menyeka airmatanya.

"Sukanya Irene senyum, soalnya kamu cantik. Cantik banget sih walau nangis juga gak luntur cantiknya, tapi lebih bagus nggak nangis. Senyum biar cantiknya makin nambah, kan kamu Si Cantik"

"Si Cantiknya Seulgi? kata Wendy Irene Si Cantiknya Seulgi"

dengan penuh semangat Seulgi menjawab, "IYA KAMU SI CANTIKNYA SEULGI, POKOKNYA CANTIKNYA SEULGI! INGET YA SI CANTIKNYA SEULGI"

Seketika keadaan di kamar itu berubah menjadi penuh gelak tawa, kesedihan yang semula meliputi hilang terkikis rasa bahagia yang pada akhirnya saling mereka ciptakan berdua.

Seulgi dan Irene, lagi dan lagi menciptakan bahagia yang nyatanya milik mereka.

.
.
.
.
.

The end.




tapi boong, masih bersambung ya guys wkwkwk

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang