Kejadian dimana Seulgi kembali memberi pukulan kepada Tama yang sudah mendekam dibalik jeruji besi membuat Wendy yang tengah bekerja harus meninggalkan pekerjaan itu untuk menemui sang sahabat dalam masalah.
Dengan secepat kilat ia pergi dan kini sudah sampai melihat Seulgi dengan amarah masih belum padam, mungkin karena ada yang memancing amarahnya kembali datang.
"Udah gue bilang jangan pergi kesini tanpa ada gue atau Pak Anton" giliran Wendy gak bisa membendung ocehannya apalagi melihat keadaan Seulgi yang bisa dibilang tidak baik juga.
"Gue cuma mau tau pengakuan lebih dari mulut dia" cerita Seulgi.
"Gabisa sabar sampe waktu persidangan? udah gi, gausah aneh-aneh. Hidup lo juga lagi tenang sama Irene kan"
"Masih marah gue Wen ... "
"Kita semua juga masih marah, bukan cuma lo aja bahkan gue yang lo ajak buat masuk ke kasus ini pun sama marahnya. Tapi Gi, kita ga boleh gegabah semua ada proses hukumnya"
Seulgi menghela nafasnya, perkataan Wendy sekali lagi betul adanya. Seulgi terlalu gegabah seperti biasa, dan itulah Seulgi. Semua dia rasa harus ia selesaikan sendiri supaya lebih damai hidupnya.
"Itu tangan lo siapa yang obatin?" tanya Wendy kala melihat tangan Seulgi nampak dibaluti plaster luka.
"Sama petugas, tadi luka abis nonjok si Bajingan jadi langsung diobatin"
"Kalo cewek lu tau apa ga ngambek?"
Seulgi langsung teringat Irene, sebelumnya dia tidak akan terpikir akan terluka begini. Walau hanya luka kecil jika Irene tau pasti wanita itu akan merajuk.
"Paling dibujuk aja deh, nanti lo ikut ke rumah ya kalo ada lo gak mungkin Irene bakal ngambekin gue lama"
"Selalu aja gue terlibat dimanapun masalah lo"
Seulgi terkekeh, "Ya maaf, lo kan salah satu sahabat baik gue"
Wendy mengangkat bahunya, entahlah apa maksud sahabat baik jika dia selalu dilibatkan dalam masalah yang dibuat Seulgi.
"Irene tau lo kesini?" tanya Wendy yang langsung disuguhi gelengan kepala dari Seulgi.
"Enggak mungkin lah, kalo dia tau gue kesini pun pasti dia ga ngasih izin. Gue tadi pamit keluar buat ke bengkel dan setelah dari bengkel ya gue kesini, emang ada niat buat ketemu si Bajingan karena gue mau denger semua pengakuan dari dia langsung tanpa harus nunggu waktu persidangan tiba"
"Terus lo dapet apa selain tangan lo luka dan amarah kembali datang?"
Seulgi terdiam pasal mendengar ucapan Wendy.
"Nggak bisa jawab kan? Gi, lo kesini bukan mau mendengar pengakuan si bajingan, tapi lo kesini karena hasrat balas dendam lo yang belum selesai. Lo mau orang itu sama menderita kayak Irene kan? dan gongnya lagi lo yang mau jadi pelakunya sama seperti yang dia perbuat-"
"Dendam lo masih ada, dan gue yakin juga tidak akan semudah itu hilang. Tapi gi, Irene nggak butuh dendam meluap-luap itu. Irene butuh lo ada disetiap progres yang dia tunjukin, mulai dari diam seribu bahasa sampe bisa bawel kayak sekarang. Harusnya lo lebih gak sabar untuk liat semua perubahan baik dari Irene, bukannya buat diri lo terkurung dendam kayak sekarang"
"Jadi gue salah nih Wen?"
"Pake nanya lagi, ya jelas salah. Walau gue juga nggak percaya banget sama hukum disini, setidaknya buat sekarang tunggu gimana hukum itu berjalan. Kalopun nyatanya gak sesuai dengan apa yang kita harapkan, kita punya hak buat melawan. Jadi selagi belum mulai semua gelar perkaranya, biarkan lo hidup tenang bermandikan bunga romansa sama Irene"
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Fanfiction"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
