37. Berpisah

1K 136 11
                                        

Irene tengah berhenti seraya memandang sebuah rumah besar dikelilingi police line mengitari. Rumah dimana ia ternyata selama itu berada, menyembunyikan dia dengan banyaknya hilang kilasan memori yang dia punya.

Yang dia ingat dia tau ini rumahnya, tapi tidak tau bagaimana caranya agar bisa keluar dan berlari. Saat itu fisiknya terlalu lemah, tak banyak upaya yang bisa dilakukan, bahkan mati jika kala itu terjadi adalah hal terbaik yang bisa ia terima daripada menanggung semua rasa sakitnya selalu.

Kali ini ia memandang rumah itu dengan tatapan nanar, sebenarnya dia ingin kembali mengingat memori manis yang tersimpan disini namun nyatanya apa yang ia ingat selalu membawanya kembali pada kenangan memilukan.

Kejadian itu sulit membawanya pada kenangan lain padahal dirinya rindu pada kehidupan yang dulunya dia jalani. Merindukan pula sosok Ibu dan Ayah begitu dia panggilnya. Dua orang yang sigap memberinya rasa kasih, Irene ingat dia memang disayangi.

Dirinya bahkan sampai saat ini masih bertanya-tanya, apa memang benar dua orangtua yang bagi versinya maha baik justru sangat berbanding dengan versi yang dialami Araka?

Jika memang begitu dimana letaknya? Araka juga selalu mendapatkan apa yang diinginkan lantas mengapa dia begitu marah pada Irene sehingga semua ini terjadi?

"Heh, kok malah bengong disini sih?!" seseorang bersuara.

Irene yang terkejut kembali pada kesadarannya.

"Seulgiii, Irene kaget!!"

"Ya kamu kenapa malah melamun? aku ngajak kamu kesini supaya berpisah dulu sama kenangan lama yang mungkin tertinggal kita kan bentar lagi pindah" begitu pembelaan seseorang yang ternyata adalah Seulgi.

"Irene hanya mencoba mengingat sesuatu"

"Lalu kamu ingat apa?" tanya Seulgi, penasaran.

Sayangnya rasa terjawab itu mendapat gelengan kepala dari si empunya.

"Tidak ada, tapi Irene ingat Ibu dan Ayah sayang aku"

Seulgi lantas tersenyum.

"Karena kamu memang pantas disayangi, mendengar Araka yang sebegitu irinya dengan kamu itu menandakan bahwa kamu adalah anak baik yang patut diapresiasi. Ibu dan Ayah kamu melakukan hal yang benar, mengasihi kamu selayaknya bahkan mengganggap kamu seperti bagian dari keluarga mereka — "

"Kamu selalu pantas mendapatkan yang terbaik, semoga aku bisa seperti Ibu dan Ayah kamu yang selalu memberi kamu rasa sayang itu ya" Seulgi merangkul wanita disampingnya, mengusap surai lembut dengan senyum merekah dikeduanya.

"Seulgi baik! selalu sayang Irene. Irene juga sayang Seulgi sekali"

Wanita lebih mungil makin menyembunyikan wajahnya pada dada Seulgi. Tempat dimana ia selalu merasa lebih aman, dekap yang dia rindukan dan kini selalu ia punya kapapun ia membutuhkannya.

"Dengar aku ya, mungkin banyak yang kamu lupakan tapi itu tidak masalah. Kita bisa buat hidup kamu yang baru, dan kali ini ada aku didalamnya"

Irene setuju, dibalik semua yang telah terjadi mengukir kehidupan barunya bersama Seulgi adalah harap yang ingin dia wujudkan selalu.

.
.
.

Bu Inah memandang takjub apa yang kini tengah terduduk bersebrangan dengan dirinya, seseorang yang dulu pernah ia lihat sewaktu anak itu kecil. Sekarang sudah tumbuh dewasa dengan paras yang tetap sama dimana wajah cantiknya seolah memang tercipta hanya untuk ia semata.

Tanpa sadar matanya mulai berair, airmata itu tak lagi bisa terbendung dan turun tanpa permisi. Rasa haru sekaligus sedih kala ironi terjadi dibalik pertemuan mereka membuat Bu Ina seakan sadar bahwa Tuhan adalah sebagaimana menciptakan sebuah jalan cerita.

IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang