Mata bulat Wendy mendelik kaget dengan apa yang baru saja ia dengar dari perkataan Seulgi.
"Hah, maksud Lo?"
"Ya maksud gue mungkin aja kan Irene bukan adik kandung Araka makanya kenapa bisa dia berlaku sekejam ini kepada Irene bahkan sampai turut juga, argh benci banget gue bilang ini. Lo tau lah Wen"
"Masuk akal sih, kalau emang dia sebenci itu sama adik kandungnya sendiri nggak mungkin juga dia sampai ikut merusak Irene kan"
"Nah itu, faktornya pasti karena rasa iri yang mana harusnya Irene gak berhak untuk dapat kasih sayang sebesar itu dibanding Araka yang jelas anak kandung dari orang tuanya"
"Jadi dia sebenci itu karena Irene bukan anak kandung Pak Kusnadi dan Bu Arani berarti secara harfiah bukan adiknya kan Gi"
"Asumsi gue buat sekarang ya itu, gue berharap banget masalah ini beneran terungkap semua tanpa ada rahasia tersisa supaya gue bisa lebih fokus juga sama kesembuhan Irene nantinya" ujar Seulgi.
"Emangnya lo punya rencana apalagi buat Irene?" tanya Wendy.
"Bukan rencana yang gimana juga sih, tapi gue mau mengusahakan kesembuhan dia. Mungkin salah satunya dengan bawa dia untuk mengobati trauma itu, lukanya bukan cuma fisik tapi juga psikis pasti perlu waktu untuk bisa sembuh total Wen"
"Udah pasti Gi, perlu waktu. Nanti coba gue cari tau spesialis yang bagus yang bisa bantu kesembuhannya Irene"
Seulgi mengulas senyum turut senang mendengar Wendy yang selalu memberi support pada apa yang ingin Seulgi lakukan.
"Semoga habis ini Si Cantik itu bisa melanjutkan hidup lagi ya Gi"
"Iya Wen, gue juga berharap banyak Irene dapat melanjutkan hidupnya yang dulu sempat hilang. Udah banyak waktu dia terbuang gitu aja berkat para bajingan keparat itu"
.
.
.
Suara pintu berdecit akibat sebuah dorongan membangunkan Irene dari tidur tidak sengajanya, memisahkan lantai dingin dari tubuh Irene yang mulanya terlelap disana.
Wanita itu mengerahkan tenaga membuatnya seketika berdiri tegak meski sempat terhuyung tubuhnya sebab lemas melanda.
Arahnya memandang pintu yang kemudian terbuka menyajikan rupa seseorang yang telah Irene tunggu kedatangannya tiba.
Senyum pun lepas namun tak bertahan lama hilang dalam sekejap kala apa yang ia lihat tidak lagi sama.
"Seu-lgi .. " lirih Irene.
Airmatanya muncul lagi,
"Halo, Irene! Maaf ya aku baru pulang —"
"Kamu pasti kaget? maaf cantik kamu harus lihat kondisi aku yang kayak gini" Gadis itu, Seulgi berucap.
Langkah berani dimulai lebih dulu, Seulgi berupaya mendekat namun nyatanya Irene lebih cepat.
Terhuyung Seulgi perkara Irene yang menubruknya, memeluk kembali tubuh seseorang yang ia rindukan hampir seharian.
"Jangan nangis, aku gapapa" kata Seulgi lagi.
Irene menolak itu, airmatanya sudah turun. Pasti terjadi sesuatu.
"Aku beneran gapapa, cuma luka kecil karena berkelahi" ujar Seulgi.
Irene melepas peluknya, menatap tepat pada mata monolid Seulgi dengan raut ekspresi bertanya.
"Nanti aku cerita ya, kamu kenapa bangun? eh atau malah belum tidur?" tanya Seulgi.
"Su-dah" suara parau Irene menjawab.
KAMU SEDANG MEMBACA
IRENE | Seulrene
Hayran Kurgu"Kalau bukan karena rasa penasaran gue yang tinggi, mungkin sampai kapanpun rahasia rumah besar itu nggak akan terbongkar" - Seulgi. ..... Fanfict lokal seulgi - irene • gxg • homophobic dni!
