2. Penasaran

1.1K 145 10
                                        

Pulang dari rumah Bu Inah Seulgi segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan pakaian rumahan. Hari ini adalah hari libur bagi Seulgi, maka dia dapat bersantai sejenak sambil merebahkan diri di kasur yang ia rindukan.

Sayup-sayup matanya ingin memejam efek pertukaran shift sebelumnya membuat ia jadi kurang tidur, tetapi belum menutup dengan sempurna matanya. Ia kembali teringat perkataan dari Bu Inah tadi.

Si cantik, bergaun putih.

Seulgi paham apa yang dimaksud oleh Bu Inah. Si cantik itu mungkin bukanlah manusia sehingga Bu Inah memperingati dirinya untuk jangan sampai bertemu dengan sosok itu.

Sebenarnya Seulgi juga gak ambil pusing, dia bukan tipe yang percaya sama hal kayak begitu. kalaupun hal seperti itu ada, yaudah namanya hidup pasti bersinggungan dengan satu dan dua hal lain. Tetapi yang bikin Seulgi penasaran adalah kenapa penghuni kos lain gak pernah sedikitpun menyinggung tentang si cantik.

Seulgi jadi berpikir mungkin aja bagi penghuni yang punya pengalaman bertemu sama si cantik ini ada baiknya kalau disimpan sendiri dan gak disebarluaskan supaya penghuni lain gak merasa takut. Ini masuk akal.

Cuma namanya manusia gak pernah merasa puas dan terus haus akan informasi.

Seulgi kembali memikirkan perkataan Bu Inah, penghuni paling atas? Maksudnya dimana?

Kos tempatnya tinggal ini tiga lantai, lantai pertama dijadiin toko sembako sama Bu Ajum. Ini keuntungan pertama dari tinggal disini, Seulgi gak perlu jauh-jauh ke warung. Kalau lagi mager ia tinggal telpon aja sama penjaga toko di bawah buat dibawain hal yang emang diperlukan. Lalu, lantai kedua dan ketiga adalah kos-kosan dengan dapur umum tersedia di masing-masing lantai.

Seulgi sendiri penguni kos di lantai tiga, sejauh ini dia merasa baik-baik aja. Lantai tempat tinggalnya juga termasuk dengan hawa yang adem, maksudnya dia nggak pernah merasakan yang aneh-aneh. Atau apa emang Seulginya aja yang gak peka??

"Ah bodo amat lah, tidur aja lo gi, jadi mikirin setan" Keluh dirinya.

Emang bener sih, lagipula kenapa juga dia gabut mikirin hal yang belum tentu pasti adanya. Daripada melanjutkan hal tersebut mending dia tidur, efek kantuk yang gabisa ditahan lagi karena tubuhnya udah mulai berasa lelah nggak perlu waktu lama wanita itupun akhirnya terlelap.

.
.
.
.

Hari tanpa sadar berlalu lebih cepat dan kini telah menjelang malam. Seulgi sudah menyelesaikan makan malamnya dan saat ini ia hanya terduduk sambil memainkan ponsel.

Perlahan rasa bosan menghinggapi, jujur Seulgi bukan tipe orang yang akan terduduk diam. Ia jadi teringat sesuatu yang ia punya, waktu itu ia bawa dari Ibukota saat pindah kesini karena menurutnya mungkin saja ia akan merindukan hobi lamanya yaitu melihat bintang.

Dalam memperlancar hobinya tersebut tentunya Seulgi perlu peralatan pendukung seperti teleskop astronomi yang sengaja ia bawa dari ibukota. Untung saja saat sampai disini ia sudah merakitnya meski belum sempat ia gunakan kembali.

Tak perlu lama ia menggeser teleskopnya mendekat ke jendela, kamar kosnya memang dilengkapi dengan jendela yang menghadap langsung ke arah luar. Selanjutnya ia mengambil posisi untuk melakukan hobinya. Melihat bintang.

Seulgi nampak memutar teleskopnya berusaha mencari posisi yang pas agar dapat melihat bintang, tetapi sebenarnya ia sendiri lupa, seberapapun usahanya mencari posisi yang pas. Jika tetap berada di dalam kamarnya maka tidak ada posisi yang pas.

Kamar Seulgi berhadapan langsung dengan sebuah rumah paling megah di daerah itu. Mengingat posisi kamarnya dipaling ujung menyebabkan kamarnya harus mengorbankan diri karena memang hanya jendela kamarnya yang pemandangannya terhalang rumah besar tersebut. Rumah besar yang letaknya tepat dibelakang bangunan kos Seulgi.

"Ah elah, nih rumah ganggu aja"

Ya jelas sangat menganggu, kegiatan yang ingin dia lakukan jadi terhambat.

"Ah iya gue inget, kan ada rooftop!"

Untung dia langsung ingat kalau bangunan ini memiliki rooftop.

"Kesana aja kali ya biar lebih jelas"

Tanpa perlu berpikir lagi dengan cepat Seulgi membopong teleskopnya. Malam ini dia mau lihat bintang di atas sana.

.
.
.
.

Bangunan kosnya memang memiliki rooftop yang biasa dipergunakan para penghuni untuk sekedar menjemur pakaian mereka. Tetapi ini kali kedua Seulgi menginjak tempat ini, kesan pertamanya pada saat ia baru sampai disini untuk melihat-lihat kosan yang pada akhirnya ia tertarik untuk tinggali.

Kala itu ia datang ke rooftop ditemani oleh Bu Ajum selaku yang punya kos, berhubung Seulgi tidak mencuci pakaiannya sendiri karena ia lebih memilih jasa laundry maka sudah jelas ia jarang mengunjungi rooftop ini.

Dan saat ini ia malah datang ke atas sana dengan membawa teleskopnya. Jangan lupa pada malam hari.

"Gile kok dingin ... " Celetuk Seulgi.

Suasana diatas sana tanpa Seulgi duga ternyata jauh lebih dingin. Ya memang sih daerah yang ia tinggali memiliki udara yang dingin tidak seperti di Jakarta, tetapi di atas ini rasanya sedikit berbeda dengan di kamarnya tadi.

"Di ruang terbuka kali ya, dinginnya jadi jauh lebih berasa" Lagi-lagi Seulgi berujar.

Tapi ya tanpa menghiraukan lebih jauh Seulgi lantas kembali ke-niat awalnya. Niat awal dimana dia naik kesini mau lihat bintang.

"Ini rumah bener-bener, gue udah tinggi begini dia masih lebih tinggi" Gerutu Seulgi.

Fokusnya agak teralih ketika melihat rumah yang menjadi penghalang aktivitasnya. Benar apa yang Seulgi bilang, dirinya sudah berada di tempat yang paling tinggi dibangunan kosnya tetapi tetap saja rumah itu masih mengalahkan keberadaannya.

"Siapa yang punya sih? Nggak pernah keliatan juga orangnya"

Lagi-lagi rumah tersebut mengambil fokusnya, dia sendiri juga penasaran sebab rumah besar bukan hal yang lumrah berada untuk ukuran pedesaan tapi adanya rumah ini jelas menarik atensi lebih apalagi penghuninya jarang terlihat, bahkan bagi Seulgi dia tidak pernah melihat aktivitas terjadi di rumah itu.

Tetapi mau bagaimana makin dipikir juga percuma, buru-buru ia tepis rasa penasarannya. Bukan ranahnya memikirkan hal tersebut sama dengan perkataan Bu Inah mengenai si cantik bergaun putih.

Udahlah hidup masing-masing aja.

Jauh pindah dari ibukota ke daerah ini buat Seulgi adalah demi ketentraman jiwa raganya. Makanya selagi ia masih bisa tenang sebisa mungkin jangan ada masalah lain datang.

Pokoknya balik ke niat awal Seulgi kesini, dia mau lihat bintang.

Kembali mencari posisi yang pas untuk teleskopnya menangkap wujud benda-benda langit. Seulgi jadi tersenyum puas ketika apa yang dicarinya ia dapatkan.

Semua keadaan beralih, Seulgi fokus pada kegiatannya tanpa sadar dari arah belakang entah bagaimana menggambarkannya. Dia berdiri memandang Seulgi persis seperti apa yang biasa dia lakukan kepada penghuni lainnya.

.
.
.
.
.
.
.
.
.

To be continue ...










IRENE | SeulreneCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang