"Gak mungkin gue langsung nyerang begitu aja. Pasti ada cara lain!!" Theo menatap dalam pisau cutter yang berada di tangan lawannya. Jika dirinya maju dan langsung melawan maka yang terjadi adalah hal buruk baginya, tapi apa lebih baik menunggu pria itu maju atau??
"AWASS!!!"
Duak!!
Theo langsung tiarap setelah mendengar suara teriakan Adinda. Gadis itu melayangkan batu berukuran besar dan untungnya tepat sasaran. Pria itu terjatuh lalu memegangi kepalanya yang perlahan mengeluarkan darah. Pisau cutter itu terlempar sedikit jauh dan berada tepat pada posisi Theo berdiri, dengan gesit cowok itu mengambilnya. Yes! Tepat sasaran!
"Ah dapat!!" Ucapnya lalu kembali berdiri. Adinda bersorak senang lalu melangkahkan kakinya menuju pria misterius itu.
Pria itu mengerang kesakitan di tanah. Gadis itu melangkah mendekat dengan kedua tangan yang sudah mengepal. Sementara Theo, cowok itu mengusap sudut bibirnya yang terluka, menatap kesal ke arah laki-laki misterius itu. Adinda berjongkok di depan pria itu, mensejajarkan posisi dirinya agar bisa melihat dengan jelas wajah sang pelaku.
"Kamu siapa?" Tanya Adinda dengan wajah datar tanpa ekspresi. Pria itu terdiam dengan pandangan menunduk. Gadis itu pun berdecih pelan.
Tangan Adinda bergerak menarik masker yang dipakai pria itu. Mata pria itu menajam tak karuan, ia melancarkan aksinya. Tangannya lihai mengambil suatu bungkusan kecil di dalam bajunya tanpa sepengetahuan mereka.
Wushhh...
Sebuah pasir lembut mengenai wajah Adinda, membuatnya memekik perih. Debunya masuk ke dalam matanya dan merasa kesusahan untuk melihat. Pria itu pun meloloskan diri dan segera kabur meninggalkan tempat ini. Theo langsung panik dan hampir mengejar pria itu, tapi dirinya berbalik menoleh ke arah Adinda untuk segera menolongnya. Sial!
"Lo gak papa kan?" Tanya cowok itu khawatir, dirinya mencengkram kedua bahu Adinda. Theo mencoba mendekatkan wajahnya. Salah satu tangannya bergerak untuk menahan tangan gadis itu. Perlahan, ia meniup satu persatu kedua mata milik Adinda dengan lembut. Hembusan napasnya membuat wajah sang gadis kini memerah padam.
Adinda mendorong kasar tubuh pria itu. "L-lo ngapain s-sih??" Ia merasa gugup akibat perlakuan sahabatnya. Adinda kembali mengucek-ucek matanya yang masih memerah akibat kemasukan debu.
"Gue cuman bantu lo. Sini gw tiupin!!" Tegas Theo kembali mendekat pada Adinda.
"Gak usah, ini udah mendingan kok." Adinda pun berdiri. "Balik aja yok!! Nanti malem ada rapat soalnya. Kita istirahat dulu di rumah." Ajak gadis itu.
Theo menghela napasnya lelah. "Yaudah, tapi lo yang nyetir. Gue capek!" Ia pun merogoh kunci motornya di saku celana lalu memberikannya pada Adinda.
"Okeh rambut kuning!" Gadis itu langsung berlari setelah menerima kunci motor tersebut. Theo hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Cowok itu pun segera berdiri dan mengusap pakaiannya yang lusuh akibat berkelahi tadi dengan pria aneh yang secara tiba-tiba langsung melayangkan pukulannya pada Theo. Tubuhnya terasa remuk karena berkali-kali jatuh menghantam tanah. Tetapi rasa sakit itu perlahan pudar, senyumannya terukir ketika melihat perjuangan sang pemimpin di depannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANGEL WINGS
Ficção Adolescente[Sudah Tamat] Menceritakan tentang proses menjadi geng motor besar di seluruh jalanan Ibukota. Menguasai jalanan dimalam hari dengan mengibarkan bendera kekuasaan. Angel Wings, geng motor penguasa jalanan di malam hari sekaligus perisai bagi sekola...
