part 60

5.5K 195 30
                                        

Bulan telah berganti fajar, fajar berganti lagi menjadi bulan. Siapa yang sangka, kalo ternyata waktu saat ini berjalan begitu cepat? Hingga tak terasa, ternyata sudah sebulan lebih ning tasya serta kedus anaknya berada di indonesia.

Berada di indonesia sebulan bukan ning tasya sudah memutuskan untuk kembali menetap di indonesia dan memutuskan untuk meninggalkan dubai yang sudah menemaninya selama enam tahun terakhir. Nyata, ning tasya beberapa kali memutuskan ingin kembali ke dubai, namun selalu ada halangan yang menghalainya.

Saat pertama kali ini kembali ke budai, ternyata umi aisyah jatuh sakit yang membuat ning tasya mengurungkan niatnya untuk kembali ke dubai. Setelah umi aisyah sembuh, ternyata ia pun belum bisa kembali ke dubai di akibatkan cuaca buruk yang membuat semua penerbangan di hentikan sementara. Dan, terakhir dua hari lalu saat ning tasya memutuskan untuk kembali ke dubai, ternyata pembangunan butik irasya yang akan loncing di solo sedikit terkendala.

Bukan ning tasya sudah benar benar tidak ingin tinggal di indonesia, namun untuk saat ini ia belum bisa, banyak hal yang harus ia pertimbangkan untuk kembali menetap di indonesia ini, dari mulai sekolah si kembar. Syaqil dan syaqila, walaupun usianya masih enam tahun, tapi keduanya kalo di lihat dari sistem pendidikan indonesia, maka saat ini mereka sudah berada di kelas satu madrasah iptidaia, sama seperti anak kedua ning sisil yang berusia tujuh tahun.

Sistem pendidikan di dubai memang lebih cepat dari pada di indonesia, maka dari itu hal ini sangat menjadi perhatian khusus untuk ning tasya. Ning tasya juga takut anak-anaknya tidak bisa mengikuti cara belajar yang di terapkan di indonesia, karena berbeda dengan di dubai.

"Assalamu'alaikum"

"Wa'alaikumsalam warohmatullohi wabarokatu"

"Siapa ya, mba?" Tanya gita menatap ning tasya

Ning tasya mengangkat kedua bahunya. "Tamu mas risyat mungkin" jawab ning tasya kembali menutup layar laptopnya

"Kalo gitu, biar gita liat dulu deh" ucap gita yang di balas anggukan oleh ning tasya

Saat ini di ndalem hanya ada mereka berdua, karena yang lainnya sedang memiliki urusan masing-masing. Umi dan ning sisil sedang berada di pendopo santri wati, gus risyat sedang menghadiri maulid nabi yang di adakan di salah satu daerah di luar pulau jawa, sedangkan anak-anak sedang bermain di halaman pondok pesantren santri wati.

"Sia...." ucap gita terpotong saat melihat siapa yang datang

"Mas rayhan, kok ada di sini?" Tanya gita dengan ekspresi kagetnya

Ya, yang datang adalah rayhan, masih ingatkan dengan dia? Lagi pula, siapa lagi yang datang sampai mampu membuat gita kaget seperti tadi

"Kik idi di sini. Kamu nanyakk?" Cibir rayhan

"Is, kalo orang nanya itu jawab yang bener apa sih, mas" ucap gita kesel

"Kamu kesell? Kamu kesel?? Saya sih nggak yakk" ucap rayhan asal asalan

Gita membuang nafasnya kasar. Berbicara dengan rayhan memang selalu membuatnya kehabisan stok sabar. Entahlah, dia bingung, dulu, saat ibunya rayhan mengandung beliau ngidam apa sampai-sampai sekarang anaknya seperti ini.

"Sekarep mu, sek. Saya ndak urus" ucap gita jengah

Rayhan tersenyum jail. "Seng sabaar yo, nduk" ucap rayhan seperti sedang menasehati anaknya

Gita memutar bola matanya malas. "Hmm. Terus sampean iki mo opo ke sini?" Tanya gita males

"Nyantet orang" jawab rayhan asal

Gita memutar kedua bola matanya malas dan membuang nafasnya kasar. Gita sekarang bener-bener sudah kehilangan kesabarannya, sepertinya dia harus ke pisikolog untuk menanyakan tips sabar yang setebal kerayon, setidaknya lebih tebal dari kesabarannya yang sekarang setipis tisu ini.

Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang