“Apa ini pantas? Bagaimana bisa dia memperlakukan adikku seperti itu?”
Risyat Al Fateh
~RTD~
Dbruk!
“Astagfirullah…” gumam Ning Tasya.
Mereka berdua menoleh ke arah suara benda jatuh.Tubuh ning tasya seketika menegang.
“Mas Risyat…”
Sosok lelaki itu berdiri di ujung taman. Tidak ada gerakan apapun darinya, wajahnya tidak menunjukan ekspresi apapun, hanya mata yang berbicara.
“Tasya…” suaranya berat seakan menahan sesuatu yang nyaris meledak
“Kenapa kamu tidak pernah cerita apa-apa ke Mas? Kamu masih menganggap Mas ini kakakmu… atau tidak?” Tanya Gus risyat-Kakak sulung Ning Tasya
Nada itu bukan marah.
Itu… kecewa.
Hancur.
“Tasya…” suaranya menurun, “Sejak kapan kamu memikul luka ini sendirian, Nduk?”
Ning Tasya menunduk. Matanya basah.
“Mas…”
Namun Gus Risyat sudah terlanjur berpindsh fokus pada lelaki di hadapannya.
Dan semakin murka.
Ia menoleh tajam.
“Kamu…” tunjuknya ke arah Gus Al.
“Kalau kamu memang punya perempuan lain…” ucap Gus Risyat mengatur emosinya
“Kenapa tidak bicara dari awal?Kenapa harus membawa Tasya masuk ke neraka hidupmu?” ucap Gus risyat dengan tangan yang masih setia terkepal erat
“Kalo memng kamu merasa kurang padanya, kembalikan dia kepada saya.”
“Bukan memberikannya madu.”
Tangan Ning Tasya meraih lengan sang kakak. “Mas… sudah…”
Ia menggeleng.
Minta.
Memohon.
“Tasya!… ikut Mas pulang.” ucap Gus risyat menatap ning Tasya
“Mas nggak mau kamu semakin hancur di rumah ini.”
“Tapi Mas—” ucap ning Tasya terpotong
“Tidak ada tapi.”
Sorot mata Gus Risyat memerintah. “Mas tidak akan membiarkan adik Mas menjadi korban.”
Ia menggenggam tangan Ning Tasya. “Ayo pulang.”
Gus Al bergerak, menghalangi jalan Gus Risyat. “Maaf, Mas.”,
“Dia istriku.”
Gus Al bersuara, untuk pertama kalinya, dengan nada tegas.
“Mas tidak berhak membawa Tasya pergi!”
Detik itu…
Gus Risyat tertawa sinis. Tawanya mengisyaratkan amarah yang menguar. “Oh, sekarang kamu ingat dia istrimu?” Sarkasnya
“Kalau kamu suaminya, kenapa kamu melukainya?”
Gus Risyat menggeleng gelengkan kepalanya. “Kakak macam apa aku, Kalau membiarkan adikku menangis sendirian di rumah orang?”
“Cukup!”
Ning Tasya bersuara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}
Espiritual(PROSES REVISI) ''Allah tak pernah mengambil cintanya... Dia hanya memindahkannya ke tempat yang lebih aman'' Terpaksa menikah karena permintaan terakhir sang abi mungkin masih bisa di terima oleh para wanita, tapi bilang di poligami tidak ada satu...
