RTD 12

8.7K 319 24
                                        

"Ikhtiar tanpa tawakal sama saja seperti sop tanpa garam—hambar."

Tasya Alhaira Putri

~RTD~

Fajar baru saja merekah ketika suara sendok beradu pelan dengan wajan dari dapur ndalem. Ning Tasya, dengan kerudung yang masih basah sedikit oleh wudhu, berdiri di antara uap masakan. Jemarinya cekatan, tapi hatinya tetap diselimuti rasa yang tak semua orang tahu.

Ia memasak untuk keluarga barunya, sebuah rumah yang masih terasa asing namun hangat, seperti pulang ke tempat yang belum pernah ditinggali.

“Umma, abi, mas… makan yuk. Sya sudah siapin semuanya,” panggilnya lembut.

Umma keluar dari kamar sambil tersenyum lega. “Ya Allah, ini kamu yang masak nduk?” ucap umma dengan wajah berbinar, bangga sekaligus terharu.

“Iya ma, dibantu mba-mba ndalem,” jawab Tasya sambil tersipu.

Abi ikut duduk, mengambil satu sendok, kemudian mengangguk kecil.
“Masakanmu insyaAllah barokah, nduk.”

Mereka makan dalam suasana yang tenang, damai, tapi menyimpan banyak tanya yang belum terucap.

Selesai membereskan meja, Tasya pamit ke kamar. Namun langkah umma sempat terhenti.

“Umma mau ke pondok santriwati, sya temenin ya?” tawar Tasya.

Umma tersenyum kecil. Ada sesuatu dalam senyuman itu—seakan umma sangat mengerti apa yang sedang Tasya pendam.

“Ndak usah, sya. Kamu istirahat saja.” ucap umma yang dibalas anggukan oleh Tasya sebelum pamit untuk melanjutkan langkahnya ke dalam kamar

Ceklek.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarakatuh,” sapa Tasya seraya masuk kamar.

Al menutup kitab yang sedang ia baca. “Wa’alaikumsalam. Humaira’, kebetulan kamu dateng. Temenin aku keliling kota yogya, yuk?”

Ada getir kecil di dada Tasya, tapi ia tersenyum. “Bentar ya mas, sya ke kamar mandi dulu.”

Tak lama mereka pun berangkat. Kota yogyakarta siang itu ramai, tapi di mata Tasya semuanya terlihat baru. Ia lebih sering menunduk, menyimpan rasa canggungnya sendiri.

Saat tiba di taman kota—hamparan hijau luas yang bersih dan teduh—Tasya mematung sejenak.

“Subhanallah…” lirihnya.

“Suka, Mai?” tanya Al sambil memperhatikan reaksi istrinya.

Tasya menatap taman itu dengan mata yang berkaca tipis. “Iya mas… sya suka.”

Al tersenyum—senyum yang jarang muncul, tapi tulus.

Mereka berjalan lama, melintasi taman, alun-alun, hingga beberapa sudut kota. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Tasya merasa ada ruang kecil di hatinya yang mulai luluh… mulai membuka diri.

Saat sore menjelang, Al berkata,
“Sya, kita makan dulu. Ada tempat favoritku. Kamu pasti suka.”

Warung sederhana itu menyambut mereka dengan wangi gorengan dan sambal pedas. Ibu Ina langsung menyapa.

“Lho, Gus… sama siapa iki?”

Al tersenyum hangat, “Istriku, bu. Namanya Tasya.”

Ibu Ina tersenyum sangat lebar.
“Oalah ning, cantik e. Cocok tenan sama Gus Al. Semoga langgeng yo, nduk.”

Tasya hanya bisa tersenyum malu. Ada kehangatan yang mengalir di dadanya—kehangatan yang berbeda dari sebelumnya.

~RTD~

Malamnya, setelah pulang dari masjid dan melaksanakan rutinitas keluarga ndalem, Tasya duduk membaca buku di sofa. Tenang… tapi tidak sepenuhnya.

Ceklek.

“Humairoh…” panggil Al dari pintu kamar mandi.

“Dalem, mas…” Tasya menutup bukunya.

Al mendekat. Suaranya rendah dan hati-hati, seakan takut melukai. “Boleh… kalau malam ini aku… meminta hakku? Tapi kalau memang kamu belum siap, aku ndak papa.”

Tasya terdiam. Hatinya bergetar. Ada takut, ada canggung, ada kewajiban, ada cinta yang masih samar.
Ia mengangguk pelan—sangat pelan.

“Bener, Mai?” ulang Al, memastikan.

Lagi-lagi Tasya hanya mengangguk.

Al menatapnya lama. Ada hormat di mata itu. Ada kesabaran yang tidak semua laki-laki punya.

Malam itu… tidak ada suara keras, tidak ada paksaan, tidak ada kisah yang perlu dijelaskan. Hanya dua manusia yang sedang belajar menjadi sepasang suami-istri dengan cara paling lembut yang bisa mereka lakukan.

~RTD~

"Jalankan semua menurut takdir, ikuti alurnya saja."
Alif Al-Fatih

Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang