“Salah satu kunci kesuksesan adalah kesabaran… dan dukungan dari orang-orang terdekat.”
Tasya Alhaira Putri
~RTD~
Brukk!
“Astagfirullah… ya Allah,” kaget Ning Tasya.
“Ada apa, Gus?” tanya Ning Tasy
“Maaf, Ning… ada kucing menyeberang,” ujarnya pelan.
Ning Tasya mengangguk, tak bicara apa-apa.
Ia mengambil ponselnya yang terjatuh, lalu menyimpannya kembali ke dalam tas tanpa membacanya lagi. Setelah kejadian itu, mobil kembali melaju… dalam diam.
Tak ada kata.
Tak ada tatap.
Hanya perasaan yang makin hancur.
~RTD~
Sesampainya di pondok, Ning Tasya turun lebih dulu. Ia masuk tanpa menoleh.
“Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucapnya sembari mencium tangan Nyai Fatimah.
“Wa’alaikumsalam, nduk. Baru pulang?” Tanya sang Nyai lembut.
“Nggeh, Umma.”
“Al mana, Sya?”
“Masih di luar, Umma. Sya izin ke kamar dulu… mau bersiap ke asrama putri.”
Nyai Fatimah mengangguk. “Nggeh.”
Tak lama kemudian, Gus al datang dengan langkah gontai. Pandangan tertunduk, bukan adab. Bukan lelah, tapi penyesalan.
“Assalamu’alaikum, Umma.” Salamnya mencium punggung tangan sang ibu
“Wa’alaikumsalam, le.”
“Tasya mana, Umma?”
“Tadi ke kamar, katanya mau ke asrama.”
“Nggeh. Kalo gitu al ke dalam dulu.” ucap gus al yang dibalas anggukan oleh umma fatimah
~RTD~
Setibanya gus al di depan pintu kamar, langkahnya terhenti. geraknya tertahan. Ragu bersemayam dalam hatinya, dengan penuh kehati-hatian tangannya menyentuh gagang pintu. Gerakannya pelan, namun pasti.
Ceklek.
“Assalamu’alaikum, Ning. Mau ke mana?”
“Wa’alaikumsalam, saya izin ke asrama putri.” ucap ning Tasya mencium punggung tangan suaminya, lalu pergi.
Tanpa menunggu jawabannya.
Bukan karena durhaka…
Tapi karena air mata di matanya sudah terlalu penuh.
~RTD~
Ia sebenarnya tak punya jadwal mengajar hari itu.
Ia hanya ingin, menepi sebentar untuk menenangkan gemuruh yang ada dalam dadanya. langkahnya membawa ia ke ruangan berukuran minimalis, tempatnya berkerja.
Di sana… hanya di sana… ia bisa jatuh tanpa terlihat.
Ning Tasya mengambil bingkai foto. Foto dirinya dan seorang laki-laki, yang kehadirannya sangat ia rindukan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}
Spiritual(PROSES REVISI) ''Allah tak pernah mengambil cintanya... Dia hanya memindahkannya ke tempat yang lebih aman'' Terpaksa menikah karena permintaan terakhir sang abi mungkin masih bisa di terima oleh para wanita, tapi bilang di poligami tidak ada satu...
