RTD 10

9.9K 334 0
                                        

"Seorang perempuan memang terlihat lemah saat disakiti,
tapi justru dialah yang paling kuat dalam hal keikhlasan."
Tasya Alhaira Putri

~RTD~

"Jadi, Mbak... Sya besok rencananya mau pulang ke Pesantren Al Malik," ucap Tasya lirih.

"Lho kok mendadak, Sya? Mas ndak setuju ya!" ucap Risyat membuang pandangan

Bukan egois. Bukan menahan. Tapi berat untuknya melepas kembali sang adik untuk kembali ke tempat yang selama ini ternyata hanya membunuh dan memberinya luka.

"Mas? Apa kata orang kalo sya jauh dari suami?" ucap Tasya

Risyat terkekeh sinis, "Kata orang? yang harusnya kamu pikirin itu, mental kamu.." "bukan perkataan orang lain"

"Tasya yakin bisa selesaiin ini semua, mas. kalo Tasya cuman disini, diem, malah ngehindar kaya gini semua nggak akan selesai mas. Tasya capek, mas" ucap Tasya memelan di akhir kalimat

Sisil mengelus lengan Risyat. "Mas, kita kasih kepercayaan ke Tasya dulu yah? aku yakin semuanya akan baik-baik aja"

Risyat nenghela napas seraya mengusap wajahnya kasar. "ya sudah... tapi kalo mas tau dia nyakitin kamu lagi, mas nggak akan tanya pendapat kamu buat ngejauhin kamu dari dia" ucap Risyat tegas

"Iya, Sya. Mbak juga setuju sama mas kamu. tapi mba selalu do'ain, semoga rumah tanggamu jadi sakinah, mawaddah, warahmah ya," ucap Sisil sambil memeluknya

"Amin... makasih, Mbak, mas" jawab Tasya tersenyum kecil.

"inget ya," ujar Risyat dengan nada serius, "Kalau ada apa-apa, bilang Mas sama Mbak. pokoknya kalau dia berani nyakitin kamu lagi... Mas bawa kamu pergi, sekalian keluar dari Indo."

"Tuh, Masmu lagi bijak nih. Mbak setuju banget," tambah Sisil terkekeh kecil untuk meencairkan suasana

"Hahaha iya iya, siap, Mbak, Mas," jawab Tasya malu-malu.

"Yo wis, beresno barangmu sek kanggo sesuk," ujar Gus Risyat.

Tasya mengangguk dan langsung pamit naik ke kamar untuk membereskan barang.

~RTD~

Hari berganti.
Pagi ini adalah hari di mana Ning Tasya harus kembali ke Al Malik-tempat suaminya, tempat segala luka bermula... dan mungkin tempat kesembuhannya juga.

Ia merapikan barang-barangnya perlahan, seakan setiap lipatan baju menyimpan kenangan dan rasa takut yang belum benar-benar hilang.

Setelah siap, ia turun ke bawah.

"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh... Mbak cantik, Mas yang ngeselin," sapa Tasya sambil tersenyum.

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Risyat dan Ning Sisil.

"Mbamu dipuji... giliran Mas diledek. Ini sebenernya pujian apa hinaan, Dek?" selidik Risyat.

"Lho Mas, itu fakta kok. Sya dak hina... cuma ada niat ledek dikit sih," Tasya terkekeh.

"Ya wes, sak karepmu wae," jawab Risyat pura-pura kesal.

"Sudah-sudah, makan dulu. Ndak baik berantem depan makanan," ujar Sisil menengahi.

Mereka makan bersama.
Hening.
Damai.
Dan diam-diam, Tasya sudah mulai merasa berat meninggalkan rumah itu.

Setelah makan, Tasya membantu Mbaknya membersihkan meja dan mencuci piring. Kemudian mereka duduk di ruang keluarga lagi.

"Sya, Mas anter sek to? Pulangnya," tanya Risyat.

"Ndak usah, Mas. Sya sendiri wae, ora apa. Lagi pula Sya udah pesan taksi online," jawab Tasya lembut.

"Yo wis. Hati-hati ya. Salam buat Bu Nyai sama Pak Kiai," ujar Risyat.

"Iya, Sya. Hati-hati," tambah Sisil sambil memegang tangan Tasya.

"Kalau gitu Sya berangkat dulu ya, Mbak, Mas. Taksinya udah datang. Assalamu'alaikum," pamit Tasya sambil melangkah keluar.

"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Sya," balas keduanya.

"Semoga setelah ini ndak ada masalah lagi..." gumam Risyat.

"Amin, Mas. Kita doakan sama-sama," ujar Sisil.

~RTD~

"Mbak, ini sesuai aplikasi atau mau ke tempat lain dulu?" tanya sopir taksi ramah.

"Langsung saja, Pak," jawab Tasya.

Sepanjang perjalanan, Tasya hanya menatap keluar jendela. Jalanan berlalu satu per satu, seolah menggiringnya kembali pada kenyataan yang sudah ia tinggalkan sementara.

Tidak ada suara.
Tidak ada tawa.
Tidak ada gumaman.

Hanya Tasya, pikirannya, dan perasaan yang ia kuat-kuatkan.

"Mbak, maaf... sudah sampai," kata sopir pelan.

"Ooh iya, Pak. Maturnuwun. Assalamu'alaikum, hati-hati di jalan ya," ucap Tasya sambil menyerahkan pembayaran.

"Wa'alaikumsalam. Matursuon, Mbak," jawab sopir.

Tasya menarik napas panjang sebelum melangkah masuk ke gerbang pesantren Al Malik.

Santri putri dan putra menyapanya sopan-

'Assalamualaikum, Ning.'

'Permisi, Ning.'

'Sampun rawuh, Ning.'

Dan Tasya hanya membalas dengan anggukan.
Ia tidak punya tenaga untuk bicara.
Tidak hari ini.

Karena setiap langkah yang ia ambil... terasa seperti menginjak masa lalu yang masih basah.

~RTD~
"Tidak ada seorang pun yang ingin tersakiti,
tapi ada takdir yang memang harus dijalani."
Tasya Alhaira Putri

Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang