RTD 63

2.2K 60 12
                                        

Alif tersenyum tipis. "ah berarti om salah ya? om kira ammahnya qila ini teman om" ucap alif

Syaqila mengangguk, tanpa ada niat untuk berbicara lagi, tangannya sibuk memainkan balon yang baru saja ia beli. sedangkan ketiga orang dewasa tersebut pun tidak ada yang berniat untuk memulai percakapan.

Ning tasya sejak tadi hanya terdiam. bibirnya kelu untuk sekedar mengeluarkan kata basa basi kepada orang yang ada dihadapannya saat ini, pikiran berisik memikirkan banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi setelah ini.

"Ammah" panggil syaqil memegang tangan ning tasya

Ning tasya menoleh kaki seraya mengusap lembut puncak kepala pangeran kecilnya. Memposisikan diri sejajar dengan tubuh kecil itu.

"Ammah udah selesai?" Tanyanya

Ning tasya tersenyum. Mata ini, mata yang kini menatap lekat matanya selalu mengingatkan dia tentang orang yang seharusnya selalu berdiri disampingnya dan menggenggam tangannya untuk melewati masa masa sulit.

"Udah, aqil mau kemana sekarang?" Tanya ning tasya

Tidak ada yang menyela mereka, bahkan sikecil qila yang biasanya cerewet pun hanya diam dengan sesekali tersenyum ke arah balon yang ia pegang.

Saling mengamati satu sama lain, dengan pikiran yang terus memaksa untuk bertanya tetapi mulut seakan sulit untuk mengeluarkan kata kata yang sejak tadi ada di dalam pikiran.

Syaqil menggeleng. "Nggak ammah, nggak mau kemana mana. kalo memang ammah udah kita pulang aja, aqil mau ketemu ama eama"

"No no no! kita nggak boleh langsung pulang. qila tuh lapel! kita harus makan dulu kalo kita langsung pulang nanti qila kebulu pingsan, emang mas aqil mau gendong kila? pasti nggak. Ammah pokoknya kita halus makan dulu yah, qila mau bulgel" ucap syaqila menghadap ke syaqil seraya berdecak pinggang

ketiga orang dewasa itu terkekeh. "Aduh qila, kalo kamu pingsan ya biarin aja tinggalin ngapain mas aqil harus gendong kamu? nanti juga paling kamu di angkut mobil sampah" ucap lena dengan tawa yang belum berhenti

Syaqila melipat keduanya tangannya di depan dada dengan mulut yang di majukan. "Tante!" ucap qila marah

"Kita makan bulgel dulu ya ammah ya?" tanya syaqila yang balasa anggukan oleh ning tasya

syaqila memeluk ning tasya dengan badan yang badan yang bergoyang ke kanan dan ke kiri. "yey yey yey" ucapnya

"Oiya" syaqila menatap alif. "Om, om mau ikut juga gak? kalo om mau ikut boleh loh"

Alif menggeleng, "Om masih ada urusan qila, lain kali om ikut"

"Yahh, yaudah deh tapi janji ya om? nanti kita ketemu lagi" ucap syaqila yang dibalas anggukan oleh alif

Ning tasya kembali berdiri. "Saya minta maaf atas kelakuan anak saya ya, pak. syaqila memang nggak bisa diem" ucap ning tasya

panggilan 'bapak' memang lebih baik dibandingkan dengan 'mas' di usianya saat ini. Dan, mungkin hanya orang orang tertentu yang akan ia panggil 'mas' setelah ini. karena dia nggak bisa menghilangkan panggilan itu.

"Nggak masalah, namanya juga anak kecil"

Ning tasya mengangguk. "Kalo begitu kami permisi, pak. ayo, qila, aqil pamit dulu"

Ning tasya tersenyum nanar. nggak seperti ini harusnya, seharusnya pamit dengan benar bukan pamit kepada orang yang baru dikenal.

walau begitu, ning tasya berharap hari ini adalah pertemuan terakhir. Setelahnya biarlah mereka tetap hidup tanpa perlu ada pertemuan lagi.

Rembulan Terbelah Dua {Ning Tasya}Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang